Narsis Mekapdangdutan

Suara musik dangdut klasik mendayu, menyayat hati, menghipnotis para pengunjung, seperti sedang di pemakaman, hingga seseorang dengan muka memelas, dan mata sayu, meminta lagu

Tercengang

Air mata membanjiri tenggorokan saya kala itu. Saya katakan air mata, karena jika bukan disebabkan saya menangis, tenggorokan saya takkan sebegitu merananya. Hati saya

Perjodohan

Seorang yang lebih layak disebut penulis, pernah berkata bahwa membaca sama pentingnya dengan menulis, bagi yang mengaku dan suka menekuni dunia penulisan. Berdasarkan itu,

Relung

Diam, mengalir bersama hari yang selalu gelap dan terang. Diam hingga ditemukan sebuah hati. Hati yang sama sepinya. Kamu tetap diam, mencoba memecah dinding

Rumah Agustus

Aku melihat semua orang bercakap di kafe-kafe tapi aku telah tuli, telingaku kehilangan fungsi, sebab ini begitu dingin dan sendiri, walau bibir merekah tertawa-tawa

/

Berkisah Aku

Aku yang meledak-ledak dalam manusiaku, kemudian harus berupaya menahan murka, dan merasa tak berhak mengadili orang lain, segera, seketika, dan langsung di tampat.

Agustus Setengah Matang

Ibu pertiwi, di atasmu, ibuku menangisi tangisku. Semoga segalanya terijzabah, saat waktu memaksaku mengecupmu, Agustusku masih setengah matang.

1 2 3 4