TENTANGPUAN.com – Pengembangan komoditas kelapa di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), Sulawesi Utara, tidak terjadi serta merta begitu saja, tetapi, lewat upaya berbagai pihak terutama campur tangan perempuan yang ikut menentukan arah perkebunan.
Wanda Langoy, Kepala Bidang Perkebunan, Dinas Pertanian Minsel, bercerita bagaimana ketika mengurusi komoditas yang menjadi salah satu tumpuan ekonomi keluarga petani di daerahnya.
Bagi Wanda, kelapa bukan sekadar tanaman perkebunan. Dari komoditas tersebut, petani menggantungkan harapan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk menyekolahkan anak. Karena itu, pengembangan kelapa perlu memperhatikan bukan hanya hasil panen, tetapi juga perempuan yang terlibat di dalamnya.
“Kelapa ini jadi komoditas utama dan kalaupun tidak dirawat dia tetap menghasilkan buah. Salah satu mungkin, mereka bisa menyekolahkan anak dari hasil kelapa,” kata Wanda saat ditemui di ruang kerjanya, Senin, (14/9/2026).
Menurutnya, ia mulai memasuki bidang perkebunan pada 2024. Meski harga kelapa sempat anjlok di tahun-tahun sebelumnya, namun dalam pengamatannya, petani Minsel masih mempertahankan tanaman kelapa. Penebangan dalam skala besar, menurut dia, tidak seperti yang terjadi pada cengkih.
Petani umumnya hanya menebang pohon yang sudah tua, berukuran kecil, atau mengalami penurunan produksi. Sementara itu, kelapa tetap dipertahankan karena industri pengolahan tersedia di daerah dan komoditas tersebut menjadi sumber penghidupan yang diandalkan.

Perempuan di Balik Pengolahan Kelapa
Wanda melihat perempuan memiliki peran dalam berbagai tahapan pengolahan kelapa, meskipun pekerjaan di sektor perkebunan masih didominasi laki-laki.
Saat berkunjung ke perkebunan, ia menemukan perempuan terlibat dalam kegiatan pemupukan dan pengolahan hasil panen. Mereka dapat mengupas kelapa, memisahkan daging dari tempurung, serta mengolahnya menjadi kopra.
“Kalau memanjat kelapa mereka tidak bisa, tapi hal-hal lain yang bisa mereka lakukan untuk menunjang produksi mereka lakukan,” ujarnya.
Peran tersebut menunjukkan bahwa perempuan turut menopang produksi kelapa, meskipun tidak selalu mengerjakan pekerjaan yang terlihat paling berat. Bagi Wanda, kontribusi perempuan dalam pengolahan perlu dilihat sebagai bagian dari keberlangsungan komoditas kelapa.
Sebagai perempuan yang menduduki posisi strategis di bidang perkebunan, Wanda mengatakan kesempatan tersebut datang melalui kepercayaan pimpinan. Ia menyadari tidak semua perempuan mendapat kesempatan serupa.
Menurutnya, kepercayaan itu menjadi tantangan untuk membuktikan bahwa perempuan juga mampu mengelola sektor perkebunan yang selama ini lebih banyak diisi laki-laki.
“Ketika pimpinan memberikan kepercayaan ini, dan kita Puji Tuhan ketika dalam tugas dan tanggung jawab, bisa membawa banyak pengalaman bahwa ternyata bukan hanya laki-laki yang bisa mengolah kelapa,” katanya.
Ia juga menyebut perempuan memiliki peran penting dalam industri pengolahan kelapa, salah satunya di PT Sasa, yang menurutnya banyak mempekerjakan perempuan.

Hilirisasi dan Harapan Petani
Wanda mengatakan, harga kopra yang membaik turut membangkitkan kembali semangat petani kelapa. Ia menyebut pada 2025 harga kopra pernah mencapai Rp22 ribu hingga Rp23 ribu per kilogram.
Kenaikan harga tersebut membuat petani kembali melihat kelapa sebagai sumber penghasilan yang menjanjikan. Sebelumnya petani hanya memperoleh beberapa juta rupiah dari hasil penjualan, tetapi kini mereka mulai merasakan peluang pendapatan yang lebih besar.
“Dorang bilang tidak terpikirkan itu dalam 1 ton kong bisa pegang uang puluhan juta,” ujarnya.
Ia berharap pengembangan hilirisasi kelapa dapat meningkatkan perekonomian keluarga petani, termasuk perempuan yang terlibat dalam pengolahan. Menurutnya, kelapa tidak hanya menghasilkan kopra, tetapi juga dapat diolah menjadi produk turunan dari buah, tempurung, dan sabut.
Selain pengembangan hilirisasi, Dinas Pertanian Minsel juga mengupayakan pengembangan kelapa Bido melalui kerja sama dengan PT Cargill Indonesia.
Wanda menyebut rencana pengembangan tersebut mencakup lahan seluas 25 hektare. Kelapa Bido merupakan varietas kelapa dalam yang menurutnya memiliki karakteristik khusus karena berukuran relatif pendek, tetapi dapat berbuah pada usia sekitar tiga tahun.
Pengembangan kelapa Bido diarahkan untuk penyediaan sumber benih melalui pembangunan kebun induk benih. Rencana sertifikasi mencakup tiga lokasi, yakni Tatapaan, Amurang Barat, dan Suluun Tareran.
Ia mengatakan, Direktorat Jenderal Perkebunan telah berkunjung untuk membahas persiapan administrasi sertifikasi. Target sertifikasi kebun tersebut direncanakan pada 2026.
Menurut Wanda, kelapa Bido berasal dari Morotai dan telah dikembangkan di BRMP Palma Sulut.

Riset Menunjukkan Perempuan Menghadapi Beban Lebih Besar
Peran perempuan dalam perkebunan kelapa menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan kerentanan ekonomi rumah tangga petani. Riset Food and Agriculture Organization (FAO) yang diterbitkan pada 2024 melalui laporan The Unjust Climate menunjukkan bahwa rumah tangga pedesaan yang dikepalai perempuan di negara berpendapatan rendah dan menengah mengalami dampak ekonomi lebih besar ketika menghadapi tekanan iklim.
Berdasarkan data lebih dari 100 ribu rumah tangga di 24 negara, rumah tangga yang dikepalai perempuan kehilangan pendapatan rata-rata 8 persen lebih besar akibat gelombang panas dan 3 persen lebih besar akibat banjir dibandingkan rumah tangga yang dikepalai laki-laki.
Temuan tersebut memberikan konteks bahwa penguatan sektor perkebunan perlu memperhatikan kebutuhan perempuan. Ketika pendapatan petani menurun akibat gangguan cuaca atau harga komoditas, perempuan yang terlibat dalam produksi dan pengelolaan rumah tangga juga menghadapi risiko ekonomi.
Karena itu, penguatan komoditas kelapa perlu berjalan seiring dengan upaya memastikan manfaat ekonomi perkebunan dapat dirasakan petani, termasuk perempuan yang terlibat dalam proses produksinya.
Kerangka penguatan tersebut juga memiliki landasan hukum melalui Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan. Regulasi ini menjadi landasan penyelenggaraan perkebunan, termasuk pengembangan usaha perkebunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dalam konteks kelapa, penguatan produksi, pengolahan hasil, serta pengembangan sumber benih merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan perkebunan. Peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi juga sejalan dengan tujuan pengembangan usaha perkebunan agar manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh petani.
Harapan untuk Perempuan dan Keluarga Petani
Wanda berharap pengembangan kelapa dapat meningkatkan perekonomian keluarga petani di Minsel. Ia juga berharap perempuan yang selama ini terlibat dalam pengolahan kelapa memperoleh manfaat dari berbagai program pengembangan komoditas tersebut.
“Dengan kegiatan ini bisa membantu mereka karena sebenarnya banyak bantuan yang akan datang, yang fokus utama itu ada di perkelapaan,” ujarnya.
Bagi Wanda, penguatan kelapa bukan hanya tentang meningkatkan produksi, tetapi juga menjaga sumber penghidupan keluarga petani. Perempuan, baik yang bekerja di perkebunan maupun yang mengurusi pengolahan, merupakan bagian dari upaya tersebut.

