TENTANPUAN.com – Sawah yang mengering tidak membuat Puti Hati Paropo berhenti bertani. Perempuan 54 tahun asal Desa Babo, Kabupaten Bolaang Mongondow, itu justru mencari cara lain agar lahannya tetap menghasilkan di tengah kemarau yang berkepanjangan.
Padi yang sebelumnya ditanam di sawah tadah hujan tak lagi memberikan kepastian ketika hujan berhenti. Ketergantungan pada air hujan membuat musim tanam menjadi semakin berisiko.
Puti kemudian memilih jalan berbeda. Ia beralih menanam semangka.
Pilihan itu menjadi cara Puti mempertahankan aktivitas pertanian sekaligus mencari peluang dari lahan yang selama ini menjadi sumber penghidupannya.
Ia tidak membiarkan sawah yang mengering menjadi alasan untuk berhenti.
Bagi Puti, perubahan tanaman merupakan pilihan yang harus diambil ketika kondisi alam tidak lagi mendukung pola tanam sebelumnya.
Tidak Menunggu Musim Kembali Normal
Kemarau memaksa petani berhadapan dengan ketidakpastian. Bagi petani sawah tadah hujan, perubahan ketersediaan air bisa menentukan apakah lahan dapat ditanami atau justru dibiarkan kosong.
Namun, Puti memilih beradaptasi.
Dari padi ke semangka, ia mencoba mempertahankan produktivitas lahan dengan komoditas yang berbeda. Keputusan itu menunjukkan bahwa menghadapi kemarau tidak selalu berarti menunggu hujan kembali.
Ada petani yang memilih mengubah cara bertani.
Kisah Puti juga memperlihatkan sisi lain dari perempuan petani yang kerap berada di tengah tekanan ekonomi rumah tangga dan perubahan kondisi lingkungan. Ketika hasil pertanian terancam, pilihan untuk mencari alternatif menjadi bagian dari upaya mempertahankan penghidupan.
Riset yang diterbitkan dalam Journal of Environmental Management pada Maret 2025 mengenai respons petani kecil terhadap perubahan iklim di Indonesia menemukan bahwa strategi adaptasi petani berbeda menurut kondisi wilayah. Penelitian tersebut mengidentifikasi diversifikasi tanaman, pengelolaan lahan, dan diversifikasi sumber penghidupan sebagai sejumlah strategi yang digunakan petani menghadapi perubahan iklim. Riset itu juga menemukan bahwa gender, dukungan pemerintah, serta akses terhadap informasi turut memengaruhi strategi adaptasi.
Temuan tersebut memberi konteks pada pilihan Puti. Mengganti tanaman bukan sekadar keputusan teknis di lahan, tetapi salah satu bentuk adaptasi ketika petani menghadapi perubahan kondisi lingkungan.
Perempuan yang Memilih Jalan Lain
Kemarau bagi perempuan petani tidak hanya berdampak pada tanaman. Ketika produksi terganggu, tekanan terhadap pendapatan rumah tangga juga ikut meningkat.
Sebuah penelitian yang terbit pada April 2025 dan secara khusus mengkaji perempuan petani di wilayah pedesaan Indonesia menemukan bahwa paparan kekeringan meningkatkan kerentanan perempuan petani terhadap ketahanan pangan. Studi tersebut juga menekankan pentingnya sumber daya manusia, sosial, finansial, dan fisik agar perempuan petani memiliki kapasitas beradaptasi terhadap perubahan iklim.
Karena itu, langkah Puti untuk tetap mengolah lahan menjadi lebih dari sekadar pergantian komoditas.
Ia sedang mencari ruang untuk bertahan.
Ketika padi tidak lagi memungkinkan, ia mencoba semangka. Ketika musim tidak memberikan kepastian, ia mengambil keputusan berdasarkan kondisi yang ada di hadapannya.
Di lahan itu, Puti menunjukkan bahwa menjadi petani juga berarti terus belajar membaca keadaan.
Adaptasi yang Dimulai dari Lahan
Pilihan Puti sejalan dengan prinsip dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan. Regulasi tersebut menempatkan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim sebagai bagian dari pembangunan sistem budi daya pertanian untuk mewujudkan pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.
Dalam praktiknya, adaptasi tidak selalu hadir dalam bentuk teknologi besar atau pembangunan infrastruktur.
Bagi Puti, adaptasi dimulai dari keputusan sederhana di lahannya sendiri. Ia mengganti tanaman. Semangka menjadi pilihan ketika sawah tadah hujan tidak lagi bisa diandalkan seperti sebelumnya.
Pilihan tersebut memang tidak menghapus risiko yang dihadapi petani. Harga hasil panen, kebutuhan air, biaya produksi, dan kondisi pasar tetap menjadi tantangan.
Namun setidaknya, Puti tidak memilih menyerah. Di tengah kemarau panjang, ia tetap menanam.
Bukan karena musim menjadi lebih mudah, melainkan karena ia mencari cara agar lahan yang dimilikinya tetap memiliki harapan untuk menghasilkan.

