Kemarau Mulai Ganggu Ladang, Warga Matayangan Terancam Kesulitan Pangan

TENTANGPUAN.com – Kemarau yang berlangsung sekitar sebulan mulai berdampak pada aktivitas pertanian warga Desa Matayangan, Kecamatan Dumoga Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow. Tanaman yang sebelumnya telah ditanam mulai terganggu pertumbuhannya, bahkan sebagian di antaranya dilaporkan mati.

Kepala Desa Matayangan, Fadly Mokodompis, mengatakan kondisi panas yang terjadi saat ini mulai terasa dampaknya pada tanaman warga. Jika kemarau berlangsung lebih lama, kondisi tersebut dikhawatirkan semakin menekan kehidupan masyarakat.

“Panas ini baru berlangsung kurang lebih satu bulan. Meski demikian, dampaknya pada tanaman sudah mulai terasa. Yang sudah tumbuh, masa pertumbuhannya mulai terganggu,” kata Fadly saat diwawancarai melalui seluler, Senin (17/8/2026) lalu.

Menurut Fadly, kondisi tersebut menjadi perhatian karena mayoritas masyarakat Matayangan menggantungkan penghasilan dari pertanian. Sekitar 95 persen warga bekerja sebagai petani, sementara sisanya berprofesi sebagai wirausaha dan aparatur sipil negara.

Desa Matayangan sendiri tidak memiliki lahan persawahan. Warga selama ini mengandalkan kebun kering atau ladang untuk bercocok tanam.

“Bisa dibilang warga sangat bergantung pada hasil kebun kering atau ladang. Di sini tidak ada sawah,” ujarnya.

Ketiadaan sawah membuat persoalan kemarau tidak hanya menyangkut pendapatan petani, tetapi juga berpotensi memengaruhi ketersediaan pangan. Sebab, meski tidak memiliki sawah, masyarakat Matayangan tetap menjadikan beras sebagai makanan pokok.

Fadly mengatakan, ladang yang tidak lagi memungkinkan untuk ditanami membuat sebagian tanaman yang sudah berada di lahan ikut terdampak. Kondisi tanah juga mulai menunjukkan perubahan dengan munculnya retakan.

“Ladang tidak bisa ditanami lagi, yang sudah ditanami tanamannya mati. Bahkan tanah sudah mulai ada yang pecah atau retak,” katanya.

Ia menilai kondisi tersebut juga dipengaruhi perubahan cuaca yang cukup kontras. Sebelumnya, wilayah Matayangan mengalami hujan secara terus-menerus, kemudian beralih pada panas yang berkepanjangan.

Kondisi itu membuat pemerintah desa mulai mengingatkan masyarakat untuk menghemat kebutuhan sehari-hari, termasuk pangan dan air.

Air Bersih Masih Aman

Meski sektor pertanian mulai terdampak, ketersediaan air bersih di Desa Matayangan sejauh ini masih relatif aman. Menurut Fadly, kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi posisi desa yang berdekatan dengan kawasan hutan.

Sumber air masyarakat berasal dari mata air, sumur gali, hingga sumur bor.

“Kalau ketersediaan air bersih, Matayangan masih aman. Air masih ada mungkin karena dekat hutan,” ujarnya.

Namun, kondisi tersebut tidak membuat pemerintah desa menganggap persoalan air selesai. Fadly mengingatkan warga agar tetap berhemat karena tidak menutup kemungkinan sumber air dan daerah aliran sungai (DAS) ikut mengalami kekeringan apabila kemarau terus berlangsung.

“Masih ada air, bukan berarti tidak ada kemungkinan DAS akan mengering juga,” katanya.

Selain kekeringan, Matayangan juga memiliki pengalaman menghadapi banjir yang terjadi secara berkala. Menurut Fadly, banjir besar biasanya terjadi sekitar lima tahun sekali.

Harga Beras Rp17-Rp18 Ribu

Kekhawatiran lain muncul karena masyarakat Matayangan sangat bergantung pada beras, sementara kemampuan ekonomi warga dapat menurun ketika hasil pertanian terganggu.

Fadly mengatakan hingga kini belum ada warga yang secara langsung datang kepadanya untuk mengeluhkan kesulitan memenuhi kebutuhan pokok. Namun, ia tidak menganggap kondisi tersebut sebagai jaminan bahwa masyarakat tidak mengalami kesulitan.

“Saya meyakini masyarakat umum, tidak hanya petani tetapi yang lainnya juga mulai akan kesulitan. Terlebih harga barang semua naik dan kondisi kemarau panjang seperti ini,” ujarnya.

Saat ini, harga beras di Desa Matayangan berada di kisaran Rp17 ribu hingga Rp18 ribu per kilogram.

Desa Matayangan memiliki 315 kepala keluarga dengan total 1.098 jiwa. Dengan kondisi penghasilan warga yang berpotensi menurun akibat terganggunya pertanian, pemerintah desa berharap adanya perhatian dari pemerintah pusat maupun daerah.

Fadly berharap bantuan pangan dapat diberikan kepada masyarakat apabila kondisi kemarau semakin panjang.

“Kalau saya bisa berharap, saya hanya berharap agar pemerintah pusat dan daerah bisa memperhatikan tingkat kehidupan di desa yang sudah semakin sulit, juga bisa memberikan bantuan pangan. Sebab penghasilan warga menurun,” katanya.

Ia menilai kondisi akan semakin mengkhawatirkan apabila perkiraan kemarau berkepanjangan benar-benar terjadi. Sebab, masyarakat tidak memiliki banyak pilihan pangan alternatif selain beras.

“Kalau perkiraan itu betul, jelas ini mengkhawatirkan karena akan berdampak pada masyarakat secara umum. Untuk Matayangan sangat ketergantungan pada beras, sementara pangan alternatif juga tidak ada,” ujarnya.

Di tengah situasi tersebut, pemerintah desa terus mengimbau warga untuk melakukan penghematan, terutama dalam penggunaan pangan dan air, sembari mengantisipasi kemungkinan kondisi kekeringan yang semakin parah.