Tak Sekadar Festival, Sisterhood 2026 Bangun Ruang Dialog dan Solidaritas Perempuan

/
Sisterhood Festival 2026 digelar di Melting Pop, M Bloc Space, Jakarta Selatan, Sabtu (5/9/2026). Festival perdana yang digagas Magdalene bersama International Media Support (IMS) ini menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas, dialog, dan nilai kesetaraan gender.Sisterhood Festival 2026 digelar di Melting Pop, M Bloc Space, Jakarta Selatan, Sabtu (5/9/2026). Festival perdana yang digagas Magdalene bersama International Media Support (IMS) ini menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas, dialog, dan nilai kesetaraan gender. (Foto: Koleksi Magdalene.co).

TENTANGPUAN.com – Magdalene bersama International Media Support (IMS) dan The Swedish International Development Cooperation Agency (SIDA) menggelar Sisterhood Festival 2026 di Melting Pop, M Bloc Space, Jakarta Selatan, Sabtu (5/9/2026).

Festival perdana yang menggandeng Women News Network (WNN) ini menjadi ruang untuk merayakan kekuatan kolektif perempuan sekaligus mendorong nilai-nilai kesetaraan gender melalui cerita, dialog, kegiatan komunitas dan kolaborasi lintas generasi.

Editor-in-Chief Magdalene, Devi Asmarani, mengatakan sisterhood tidak hanya dipahami sebagai gagasan, tetapi perlu diwujudkan melalui praktik nyata.

“Perjuangan mendorong kesetaraan bukan pekerjaan satu orang atau kelompok, tapi upaya bersama yang dilakukan di berbagai lapisan masyarakat bahkan sampai ke ranah personal. Pada akhirnya upaya kolektif seperti inilah yang dapat membantu kita untuk terus merawat harapan,” ujar Devi.

Dibuka oleh Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar, Sisterhood Festival 2026 mengangkat empat pilar utama, yakni media, pemberdayaan ekonomi, kesehatan mental dan kepemimpinan.

Keempat isu tersebut dikemas melalui panel diskusi, kegiatan komunitas, masterclass dan kelas warga. Festival juga menghadirkan penampilan komika Zahra Shafiyah serta pertunjukan musik dari duo Endah N Rhesa.

Selain itu, terdapat marketplace yang diisi pelaku usaha kecil dan menengah, komunitas serta organisasi.

Upaya membangun ruang yang inklusif juga terlihat dari fasilitas yang disediakan penyelenggara. Festival menghadirkan juru bahasa isyarat bagi Teman Tuli serta Child Corner bagi ibu yang ingin mengikuti rangkaian kegiatan tanpa harus meninggalkan anak.

Member WNN saat Sisterhood 2026, (Foto: Koleksi Magdalene.co).

Membuka Ruang Aman bagi Jurnalis Perempuan

Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah Fireside Chat bersama jurnalis Tempo sekaligus host Bocor Alus Politik, Fransisca Christy Rosana atau Chicha.

Dalam sesi tersebut, Chicha membagikan pengalaman dan tantangan yang dihadapi perempuan jurnalis ketika menjalankan tugas, terutama saat meliput isu sensitif.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi jurnalis perempuan tidak hanya berupa ancaman fisik, tetapi juga intimidasi, serangan digital dan pelecehan.

Ia menilai ruang untuk membicarakan pengalaman tersebut penting karena persoalan yang dialami perempuan jurnalis tidak selalu berdiri sebagai masalah individual, melainkan berkaitan dengan persoalan yang lebih besar.

“Seperti, relasi kuasa, kebebasan pers, keamanan digital, dan posisi perempuan di ruang publik. Bagi saya, sisterhood bukan tentang membuat perempuan menjadi lebih ‘kuat’ agar bisa menghadapi ancaman sendirian. Justru sebaliknya, bagaimana kita menciptakan lingkungan yang membuat perempuan tidak harus menghadapi ancaman itu sendirian,” kata Chicha.

Kebijakan Publik Perlu Perspektif Perempuan

Isu kesetaraan juga dibahas dalam Kelas Warga Magdalene yang mengangkat pentingnya kebijakan publik berperspektif perempuan.

Sesi tersebut menghadirkan Annette Ellen dari Aliansi Ibu Indonesia dan Nabiyla Risfa Izzati dari Kabinet Bayangan.

Nabiyla mengatakan kebijakan yang berpihak pada perempuan tidak harus selalu secara eksplisit menyebut kata “perempuan”. Menurut dia, kebijakan mengenai pengasuhan anak, misalnya, juga berpengaruh terhadap posisi perempuan dalam keluarga.

“Kita ada cuti hamil dan melahirkan. Tapi sampai sekarang kita enggak punya kebijakan cuti ayah. Satu-satunya yang diberikan itu cuti menemani istri melahirkan, dikasihnya dua hari,” ujarnya.

Menurutnya, ketimpangan dalam kebijakan cuti dapat memperkuat anggapan bahwa merawat anak yang baru lahir merupakan tanggung jawab perempuan.

Sejumlah peserta mengikuti diskusi dalam Sisterhood Festival 2026. Beragam isu perempuan dibahas, mulai dari tantangan jurnalis perempuan, kebijakan publik berperspektif perempuan, kesehatan mental hingga keamanan di ruang digital. (Foto: Koleksi Magdalene.co).

Sisterhood sebagai Dukungan Kolektif

Pembahasan mengenai pengalaman perempuan juga hadir dalam kegiatan komunitas bersama Hannah Al Rashid dan Nadine Alexandra dari siniar Sini, Sis!.

Keduanya membahas imposter syndrome yang kerap dialami perempuan, termasuk dalam kehidupan personal, sekaligus membagikan pengalaman dan cara menghadapinya.

Hannah mengatakan pemahaman mengenai diskriminasi dan bias terhadap perempuan penting agar perempuan dapat bergerak secara kolektif untuk mendorong perubahan.

“Penting sekali untuk memahami bahwa perempuan di dunia ini masih sering menghadapi diskriminasi dan bias agar secara kolektif kami bisa terus membuat perubahan,” kata Hannah.

Nadine menambahkan, hubungan antarsesama perempuan untuk saling mendukung dan melindungi telah menjadi bagian dari perjuangan menghadapi penindasan struktural.

“Perempuan sudah dari dulu melawan penindasan struktural melalui hubungan erat antara perempuan yang saling melindungi, saling mengangkat, saling dukung dan sisterhood hanyalah bentuk terbarunya,” ujar Nadine.

Media dan Audiens Perlu Berdialog

Program Manager International Media Support (IMS), Eva Danayanti, mengatakan Sisterhood Festival juga menjadi ruang pertemuan antara media, khalayak dan komunitas.

Menurutnya, hubungan antara media dan audiens seharusnya tidak berhenti pada produksi dan konsumsi konten, tetapi berkembang menjadi ruang dialog dan saling belajar.

“Pertemuan ini sangat penting supaya media dapat mendengar pengalaman dan kebutuhan audiensnya. Interaksi yang lebih dekat mendorong media menghasilkan informasi yang lebih relevan dan representatif,” kata Eva.

Ia juga menyoroti semakin pentingnya ruang digital bagi perempuan. Media sosial dan ruang digital kini menjadi tempat perempuan menyampaikan pendapat, membangun komunitas, mengembangkan usaha, berkarya hingga terlibat dalam berbagai isu sosial.

Namun, meningkatnya aktivitas perempuan di ruang digital juga diikuti berbagai risiko. Karena itu, menurut Eva, perempuan perlu memiliki pengetahuan mengenai hak, keamanan digital, kapasitas dan kesempatan yang setara.

“Sisterhood Festival dapat memperkuat hal tersebut dengan mempertemukan perempuan, membangun solidaritas, meningkatkan pengetahuan tentang keamanan digital, serta mendorong terciptanya ekosistem digital yang lebih aman dan inklusif,” ujarnya.

Sisterhood Festival 2026 turut didukung sejumlah pihak, di antaranya Telkom Indonesia, OCBC, Artotel Wanderlust dan HokBen.