TENTANGPUAN.com – Temaran sore di Desa Babo, Kecamatan Sangtombolang, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), bukan lagi sekadar waktu bagi Puti Hati Paropo (54) untuk beristirahat setelah bekerja di sawah. Sabtu (15/8/2026), ketika matahari mulai turun, ia justru kembali membawa air untuk menyiram tanaman semangka yang tumbuh di lahan seluas 1,5 hektare. Dengan tolu menutupi kepalanya, Puti bersama beberapa petani lain bergantian membawa air agar tanaman yang tersisa tidak ikut mati di tengah tanah yang mengering.
Beberapa bulan sebelumnya, lahan seluas 1,5 hektare itu masih menjadi sawah. Padi ditanam dengan harapan bisa dipanen seperti musim-musim sebelumnya. Namun hujan tak kunjung datang.
Tanaman padi mengering sebelum menghasilkan. Modal yang sudah dikeluarkan ikut terancam hilang. Puti akhirnya memilih menanam semangka, berharap lahan itu masih bisa memberikan penghasilan.
“Sebenarnya, seperti yang terlihat ini adalah sawah, namun kami semua gagal panen karena tidak ada hujan. Terpaksa, rata-rata petani di sini, terutama saya, mencoba menanam semangka agar lahan bisa tetap ditanami. Kenapa semangka, karena semangka lebih tahan panas. Panas ini akan berkepanjangan, sebagai bentuk ikhtiar ya kami menanam semangka. Semoga Allah memberikan rezeki lewat semangka,” kata Puti saat ditemui di sawahnya di Desa Babo, Kecamatan Sangtombolang, Sabtu (15/8/2026).

Bagi Puti, menanam semangka bukan sekadar mengganti komoditas. Itu adalah cara untuk bertahan setelah padi yang menjadi sumber penghidupannya gagal panen.
“Ini bukan persoalan biar lahan tetap produktif tapi ini lebih ke usaha bertahan hidup di saat panen kami gagal. Kalau tidak berusaha seperti ini mau makan apa,” ujarnya.
Puti merupakan orang tua tunggal yang masih harus membiayai pendidikan anak bungsunya yang sedang kuliah di IAIN Manado. Karena itu, gagal panen bukan hanya berarti kehilangan hasil dari sawah. Ada kebutuhan rumah tangga dan biaya pendidikan yang tetap harus dipenuhi.
Puti mengatakan hujan terakhir yang cukup untuk mengairi sawah terjadi pada akhir April 2026. Petani kemudian mulai menanam pada awal Mei, setelah itu justru kemarau melanda. Sebagian besar sawah di Desa Babo merupakan sawah tadah hujan.
Abdul Latif Katili, Koordinator Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Sangtombolang di Desa Babo, mengatakan penyuluh sebenarnya telah mengingatkan petani untuk tidak terburu-buru menanam. Saat itu, penyuluh telah menyampaikan bahwa wilayah tersebut menghadapi El Nino.
“Masalahnya mereka terlalu cepat bergerak menanam. Makanya, setelah habis Lebaran, kami turun dan menyarankan kalau boleh jangan dulu ba tanam, sebab torang sudah kasih informasi jika torang sedang menghadapi El Nino,” kata Abdul Latif saat ditemui di Desa Babo, Sabtu (15/8/2026).
Menurut dia, petani yang mengikuti anjuran dan menanam pada Maret-April masih memiliki peluang panen. Sementara tanaman yang ditanam pada Juni lebih banyak terdampak kekeringan.
“Seharusnya mereka tanam di Maret April itu, yang tanam di bulan itu selamat. Kalau penanaman Juni, termasuk yang ini,” ujarnya.

Abdul Latif mengatakan penyuluh terus melakukan pendekatan kepada petani agar mereka menyesuaikan waktu tanam dengan kondisi musim. Menurut dia, perubahan pola tanam tidak mudah karena petani selama ini memiliki kebiasaan dan perhitungan musim berdasarkan pengalaman sebelumnya.
Ia mengatakan penyuluh tetap berupaya mendampingi petani di lapangan, termasuk ketika kondisi kemarau membuat pilihan yang tersedia semakin terbatas.
“Kalau dari sisi penyuluh kami sudah anjurkan. Kalau torang di sini tidak mengenal hari libur. Torang ba jalang terus kasiang. Cuma torang mo beking bagaimana. Memang alam,” katanya.
Anjuran untuk menyesuaikan waktu tanam itu pada akhirnya berhadapan dengan pengalaman petani di lapangan. Bagi mereka, ketika keputusan menanam sudah diambil dan hujan kemudian berhenti, risiko gagal panen harus ditanggung sendiri.
“Jadi rata-rata kami di sini semua gagal panen,” kata Puti.
Untuk menyelamatkan tanaman, Puti mengeluarkan sekitar Rp10 juta untuk membuat sumur bor sekaligus membeli mesin. Namun air yang keluar tak cukup untuk mengairi seluruh lahannya. Kerugian akibat gagal panen diperkirakan mencapai Rp17 juta. Dalam kondisi normal, lahan 1,5 hektare miliknya bisa menghasilkan lebih dari 100 karung padi. Kali ini, hasilnya hanya sekitar 30 karung.
Puti harus kembali mengeluarkan tenaga dan modal untuk memastikan lahan tersebut tidak sepenuhnya kehilangan fungsi. Di rumah, persoalan lain menunggu.
“Kesulitan saya sebagai petani perempuan menghadapi kemarau panjang ini, luar biasa, tidak tahu mau bilang apa lagi, sebagai ibu saya harus memastikan anak-anak saya bisa makan, dan sebagai ayah saya harus berusaha memenuhi kebutuhan mereka agar bisa terpenuhi,” kata Puti.
Ia bertahan dengan berhemat. Makanan sederhana menjadi pilihan. Ketika kebutuhan tidak cukup, berutang di penggilingan padi menjadi salah satu cara yang ditempuh agar kebutuhan rumah tangga tetap berjalan.
Ada alasan lain yang membuat Puti terus bertani. Ia ingin dua anak perempuannya mendapatkan pendidikan dan kemandirian ekonomi yang dulu tidak sempat ia raih.
“Dulu, saya ingin sekali kuliah tapi oleh orang tua tidak diizinkan karena memang kondisi keluarga yang susah. Sehingga saya berupaya agar anak-anak saya sekolah. Saya berusaha mewujudkan mimpi saya lewat anak-anak,” ujarnya.

Perempuan yang Menanggung Dua Beban
Pengalaman Puti memperlihatkan bahwa kemarau bagi perempuan petani tidak berhenti pada tanaman yang mengering. Ketika hasil panen hilang, perempuan tetap berhadapan dengan kebutuhan pangan keluarga, biaya pendidikan, pekerjaan domestik dan kebutuhan untuk mencari sumber pendapatan lain.
Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) dalam laporan The Unjust Climate menunjukkan bahwa dampak cuaca ekstrem memang tidak dirasakan secara sama oleh perempuan dan laki-laki di wilayah pedesaan
FAO menganalisis data lebih dari 100 ribu rumah tangga pedesaan di 24 negara berpendapatan rendah dan menengah, yang dipadukan dengan data suhu dan curah hujan selama 70 tahun. Hasilnya, rumah tangga pedesaan yang dipimpin perempuan kehilangan rata-rata 8 persen lebih banyak pendapatan akibat tekanan panas dan 3 persen lebih banyak akibat banjir dibandingkan rumah tangga yang dipimpin laki-laki.
FAO juga menemukan bahwa setiap hari dengan suhu ekstrem dapat menurunkan nilai produksi tanaman yang dikelola perempuan sekitar 3 persen dibandingkan lahan yang dikelola laki-laki. Temuan tersebut tidak secara langsung menggambarkan kondisi Puti. Namun, pengalaman perempuan petani Bolmong itu menunjukkan bagaimana kehilangan hasil pertanian dapat berlanjut menjadi persoalan pendapatan dan kebutuhan keluarga.
Vivi George dari Swara Parangpuan Sulawesi Utara, mengatakan, dampak iklim berkepanjangan perlu mendapat perhatian khusus terhadap kelompok rentan, termasuk perempuan dan anak.
“Dampak ini sangat-sangat kena terhadap umat manusia terutama bagi lansia, orang berkebutuhan khusus, perempuan, anak, bayi, dan tidak lepas juga dengan para laki-laki juga,” kata Vivi saat diwawancarai Febri Kodongan, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Vivi, pemerintah perlu proaktif turun ke lapangan untuk mengidentifikasi kelompok masyarakat yang terdampak dan memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi.
“Saya kira ini menjadi tanggungjawab pemerintah paling tidak harus pro aktif juga turun sampai ke lapangan seberapa banyak masyarakat terutama perempuan dan anak, atau lansia, atau yang berkebutuhan khusus,” ujarnya.
Puti tidak hanya kehilangan padi. Ia kehilangan sebagian modal, harus mencari sumber air sendiri, kembali menanam, dan pada saat yang sama tetap memastikan kebutuhan anak-anaknya terpenuhi.

Air yang Tak Sampai ke Sawah
Di Desa Babo, persoalan utama petani bukan hanya panas. Air menjadi persoalan yang menentukan apakah sawah bisa ditanami atau dibiarkan mengering.
Puti mengatakan petani di Babo masih sangat bergantung pada hujan. Kondisi itu berbeda dengan kawasan Bolangat, Cempaka dan Ayong yang memiliki jaringan irigasi. Di Babo, sungai sebagai sumber air juga berada cukup jauh dari sawah.
“Kalau sawah tadah hujan, mereka tahu di sini memang tadah hujan. Kalau Bolangat, Cempaka dan Ayong ada irigasi, memang hanya di sini yang tidak karena kuala (sungai) di sana kan jauh. Jadi torang paling cocok di sini memang cuma sumur bor,” katanya.
Sumur bor kemudian menjadi pilihan. Namun pengalaman Puti menunjukkan bahwa memiliki sumur belum otomatis menyelesaikan persoalan. Air yang tersedia tidak cukup untuk mengairi seluruh lahan.
Abdul Latif mengatakan penyuluh bersama kelompok tani juga telah berupaya mencari sumber air alternatif. Salah satunya dengan membuat pompa secara swadaya.
“Kalau seperti torang di sini, salah satu kiat menghadapi kekeringan ini pompa. Bahkan ini swadaya ini, digali dengan ekskavator agar ada airnya,” katanya.
Namun upaya tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan. Menurut Abdul Latif, debit air tanah juga telah berkurang. Pada beberapa titik, pompa hanya mampu mengalirkan air dalam waktu singkat sebelum kembali kering.
“Kalau pompa, dua atau tiga pompa yang satu kali mopasang so jago itu satu jam kering. Karena air tanah juga sudah berkurang walaupun sudah digali pakai ekskavator,” ujarnya.
Penyuluh, kata Abdul Latif, juga tengah mengupayakan alternatif lain dengan mencari beberapa titik yang memungkinkan dibuat sumur dangkal.
“Kami sudah mengambil beberapa titik tadi yang kami ambil,” katanya.

Jumarni Benga, perempuan petani lain di Desa Babo, menghadapi masalah yang sama. Bersama suaminya, Jumarni menggarap tiga hektare lahan. Seluruhnya gagal panen setelah tanaman padi mengering.
“Karena gagal panen akhirnya saya dan suami memutuskan untuk menanam semangka. Jadi setiap sore kami harus menyiramnya. Lahan kami 3 hektar gagal panen. Padi kami tidak tumbuh, mengering karena kemarau,” kata Jumarni.
Modal tanam yang telah dikeluarkan Jumarni sekitar Rp6 juta hingga Rp7 juta, belum termasuk tenaga keluarga. Ia memiliki empat anak. Satu baru lulus SMA, satu masih SMA dan dua lainnya masih duduk di sekolah dasar.
Bagi Jumarni, persoalan petani Babo bukan kurangnya kemampuan bercocok tanam.
“Pokoknya masalah utama persawahan di sini adalah irigasi yang tidak sampai. Kami di sini krisis air,” katanya.
Menurut Jumarni, jaringan irigasi yang disebut melayani kawasan Cempaka, Babo dan Ayong belum membuat petani Babo memperoleh air. Sementara janji pembangunan sumur bor juga belum terealisasi.
Adaptasi yang Dibayar dari Kantong Petani
Puti dan Jumarni memilih jalan yang sama, mengganti padi dengan semangka. Peralihan itu menjadi bentuk adaptasi yang mereka lakukan sendiri. Tetapi adaptasi tersebut membutuhkan biaya.
Puti dan Jumarni harus menyediakan waktu dan tenaga untuk menyiram tanaman semangka setiap sore. Bagi petani kecil, kemampuan beradaptasi sangat bergantung pada modal yang tersedia.
Bagi Abdul Latif, keputusan petani Babo beralih dari padi ke semangka justru merupakan salah satu bentuk adaptasi yang patut diapresiasi. Menurut dia, selama lahan pertanian tidak dialihfungsikan, pergantian komoditas dapat menjadi cara mempertahankan produktivitas lahan di tengah kekeringan.
“Kalau sama dengan sekarang kemarau dan mereka menanam semangka, kami malah bersyukur agar lahan tetap produktif. Dengan kondisi kekeringan dorang tanam ini karena semangka memang sedikit tahan dengan panas,” katanya.
Ia menilai Bolmong masih memiliki peluang untuk mempertahankan perannya sebagai salah satu lumbung beras, selama lahan pertanian tidak terus beralih fungsi.
“Kalau untuk saya pribadi, saya rasa masih bisa mengembalikan Bolmong sebagai lumbung beras, asalkan jangan sampai torang pe lahan ini dialihfungsikan,” ujarnya.

Hal itu juga terlihat dari pengalaman Nyoman Kartini, perempuan petani di Dumoga Barat. Selama lebih dari 15 tahun bertani, ia mengalami dua kondisi ekstrem: kekurangan air saat kemarau dan banjir ketika hujan berlebihan.
“Bagi kami, banjir atau kemarau sama saja. Sama-sama membuat rugi kami. Kalau banjir habis tanamannya, kalau panas ada tanamannya tapi kering,” kata Nyoman saat ditemui di Penggilingan Padi Dewi Sri, Desa Toraut Utara, Kecamatan Dumoga Barat, Kamis (13/8/2026).
Saat debit air menyusut, petani di wilayahnya harus mengatur pembagian air dengan ketat.
“Pembagian airnya yang betul-betul musti ketat, kalau tidak ya konflik,” ujarnya.
Menurut Nyoman, kondisi seperti itu bukan hal baru. Ia pernah mengalami kemarau yang membuat tanaman gagal menghasilkan, kemudian menghadapi hujan deras dan banjir. Risiko tersebut bertemu pada satu persoalan yang sama, modal.
Dalam satu musim tanam, Nyoman membutuhkan sekitar Rp12 juta. Biaya tersebut antara lain untuk obat-obatan tanaman, pengolahan lahan dan tenaga kerja.
Biaya traktor kini mencapai sekitar Rp600 ribu untuk lahan berukuran 50 x 50 meter, sementara buruh harian sekitar Rp150 ribu per hari.
“Jadi petani semakin susah. Kalau dengan kondisi begini ya wajar kalau beras juga naik. Capek-capek tanam, sudah tidak ada yang dipanen, modal besar, mana harga tractor juga mahal,” katanya.
Ketika Air Terlalu Sedikit dan Terlalu Banyak
Persoalan air di Bolmong tidak berhenti pada sawah tadah hujan di Babo. Di wilayah Bolaang, petani palawija juga menghadapi sumber air yang mengering.
Salma Potabuga dan Irvan Batalipu mengatakan kebun jagung di sekitar Inobonto Kilo Kaiya banyak yang gagal panen setelah hujan tidak turun lebih dari dua bulan. Sumur dan kolam yang sebelumnya menjadi sumber air ikut mengering.
“Hampir semua kebun jagung di sini gagal panen. Hanya ada satu dua saja yang masih bisa panen karena menanam lebih dahulu. Itupun hasilnya ya kurang,” kata Salma saat ditemui di warungnya di Kelurahan Inobonto Kilo Kaiya, Kecamatan Bolaang, Jumat (14/8/2026).

Dalam kondisi normal, kebun jagung keluarga Salma dapat menghasilkan hingga empat ton. Modal yang dikeluarkan lebih dari Rp3 juta, belum termasuk tenaga, makan dan biaya penyemprotan.
“Kami berharap ada bantuan dari pemerintah. Tolong bantu petani di masa sulit ini. Mana pupuk dan bibit sudah mahal kemudian gagal panen juga,” ujarnya.
Bagi petani Bolmong, air memiliki dua wajah. Ketika terlalu sedikit, tanaman mengering sebelum menghasilkan. Ketika terlalu banyak, sawah dapat terendam dan tanaman rusak. Persoalan ini membuat kemampuan petani untuk beradaptasi menjadi semakin penting.
Bagi petani Bolmong, kemampuan beradaptasi menjadi semakin penting ketika perubahan cuaca membuat air sulit diprediksi. Persoalan ini tidak hanya menyangkut kemampuan petani bertahan di tengah kekeringan, tetapi juga bagaimana dukungan dan kebijakan pertanian dapat menjawab kebutuhan mereka di lapangan.
Pemerintah sebenarnya telah memiliki kerangka regulasi yang mengatur pembangunan sistem budi daya pertanian. Salah satunya Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2026 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan, yang berlaku sejak 9 Februari 2026.
Regulasi tersebut mengatur berbagai aspek budi daya pertanian, termasuk lahan dan air sebagai prasarana, benih, pupuk, alat dan mesin pertanian, perlindungan tanaman, panen dan pascapanen, permodalan, diversifikasi, pembinaan dan pengawasan.
Artinya, kebutuhan yang disebut petani seperti Puti, air, sarana produksi dan dukungan untuk mempertahankan usaha tani, bukan persoalan yang berada di luar ruang kebijakan pertanian.
Tantangannya adalah bagaimana kebijakan tersebut sampai kepada petani yang masih bergantung pada hujan dan belum memperoleh akses air yang memadai. Di Babo, persoalan itu terasa nyata.
Puti bahkan mengeluarkan modal sendiri untuk membuat sumur bor. Namun hasilnya belum cukup menyelamatkan seluruh sawah.

Informasi Musim yang Tak Sampai
Selain air, petani juga membutuhkan informasi. Jumarni mengatakan dirinya belum mendapatkan informasi mengenai kemungkinan kemarau panjang dari penyuluh pertanian.
“Selama ini juga tidak pernah ada orang pertanian yang memberi sosialisasi atau memberi kami informasi akan ada kemarau berkepanjangan. Atau ini akan masuk musim panas jangan dulu menanam dan sebagainya,” katanya.
Bagi petani sawah tadah hujan, informasi tentang kondisi musim dapat menentukan kapan harus menanam dan seberapa besar modal yang harus dipertaruhkan. Puti juga mengatakan hal serupa.
“Memang dulu kami di sini juga pernah kemarau, tapi nanti sekarang kemaraunya ekstrim. Dulu sungai tidak kering seperti saat ini. Di sini banyak penyuluh pertanian, tapi kami tidak dapat informasi dari mereka jika akan panas panjang begini,” katanya.
Abdul Latif mengatakan perubahan iklim membuat petani semakin sulit mengandalkan pola musim yang selama ini mereka kenal. Ia telah menjadi penyuluh pertanian di Bolmong sejak 1997 dan melihat perubahan kondisi kemarau dalam beberapa tahun terakhir.
“10-15 tahun ke bawah dibanding dengan lima tahun sekarang kemaraunya semakin menggila,” katanya.
Jika sebelumnya petani masih mengenal siklus kemarau berdasarkan pola sekitar satu dekade, kini kondisi tersebut semakin sulit diprediksi. Abdul Latif mengatakan bahkan informasi mengenai musim dari BMKG tidak selalu berujung pada kondisi yang sama di lapangan.
“Kalau dulu kan, kalau mengikut petunjuk dan cerita orang tua, biasanya ada siklus 10 tahun. Kalau sekarang bahkan kita sendiri susah memprediksi walaupun BMKG bilang torang akan menghadapi musim kemarau, adakalanya di tahun-tahun kemarin sudah ada perhitungan begitu, tapi justru bukan kemarau tetapi hujan, justru ada banjir di Bulan Agustus. Perubahan iklim itu nyata,” ujar Abdul Latif.
Karena itu, menurut dia, penyesuaian pola tanam tetap menjadi salah satu langkah penting yang perlu dilakukan petani. Namun, perubahan tersebut tidak bisa dilakukan secara instan.
Bagi mereka, informasi bukan sekadar pengetahuan. Informasi dapat menentukan apakah benih akan ditanam, apakah modal akan dikeluarkan, atau apakah petani harus menunggu.
Kegagalan panen tidak membuat Puti dan petani lainnya meninggalkan sawah. Di tengah keterbatasan air, mereka justru mencari cara agar lahan tetap bisa ditanami, meski harus mengganti komoditas, mengeluarkan modal tambahan, dan bekerja lebih keras. Bagi mereka, bertahan di tengah kemarau bukan berarti menunggu hujan datang, tetapi terus mencari kemungkinan agar sawah tetap memberi penghidupan.
Puti memilih semangka dan terus menyiramnya setiap sore. Jumarni melakukan hal yang sama. Di tempat lain, Nyoman bertahan dengan mengatur air. Petani jagung di Bolaang menunggu kesempatan untuk kembali menanam. Pilihan-pilihan tersebut memperlihatkan bahwa adaptasi petani sering kali tidak hadir dalam bentuk teknologi besar.
Kadang adaptasi berarti mengganti tanaman. Kadang berarti membuat sumur dengan uang sendiri. Kadang berarti berutang. Kadang berarti bekerja lebih lama atau mengurangi kebutuhan rumah tangga. Bagi perempuan seperti Puti, semua pilihan itu harus berjalan bersamaan dengan tanggung jawab terhadap keluarga. Namun Puti masih ingin bertani.
“Saya akan bertani terus selama saya masih sehat. Mungkin nanti saya sudah tidak mampu, sudah sakit baru berhenti. Saya ingin, setelah anak saya selesai kuliah, saya akan kerja kumpul uang untuk naik haji,” katanya.
Harapan Puti sederhana, air.
“Makanya kami berharap ke pemerintah agar bisa membantu kami untuk air ini. Bagaimana caranya, apakah dengan sumur bor atau membuat bendungan,” ujarnya.
Sore itu, Puti kembali menyiram semangka. Tanaman-tanaman muda tersebut tumbuh di atas lahan yang seharusnya menjadi sawah padi. Di bawah panas yang belum juga reda, air menjadi sesuatu yang harus dicari, dibeli dan dihemat.
Di Bolmong, air datang dengan dua wajah. Ketika terlalu banyak, sawah bisa tenggelam. Ketika terlalu sedikit, tanaman mengering sebelum menghasilkan. Bagi petani, keduanya bukan sekadar catatan musim. Keduanya adalah modal yang hilang, utang yang bertambah, dan pilihan untuk tetap menanam meski belum tahu kapan air akan datang.

