TENTANGPUAN.com – Fenomena emotional eating atau makan yang dipicu oleh emosi semakin menjadi perhatian dalam isu kesehatan dan gaya hidup, khususnya di kalangan perempuan. Perilaku ini merujuk pada kecenderungan mengonsumsi makanan bukan karena rasa lapar secara fisik, melainkan sebagai respons terhadap stres, kecemasan, kesedihan, atau tekanan psikologis lainnya.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa stres memiliki hubungan signifikan dengan peningkatan perilaku emotional eating. Dalam kondisi tertekan, tubuh cenderung menginginkan makanan tinggi gula, lemak, dan garam yang dapat memicu rasa nyaman secara cepat. Respons biologis ini membuat makanan berfungsi sebagai mekanisme koping jangka pendek terhadap tekanan emosional.
Kajian kesehatan juga menemukan bahwa perempuan lebih rentan mengalami emotional eating dibandingkan laki-laki. Hal ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis, psikologis, dan sosial, termasuk cara perempuan merespons stres serta ekspektasi sosial yang melekat pada mereka.
Salah satu faktor utama yang memperkuat perilaku ini adalah tekanan terhadap citra tubuh atau body image. Standar kecantikan yang sempit, seperti tubuh langsing dan proporsional, terus direproduksi melalui media, lingkungan sosial, hingga relasi personal. Akibatnya, banyak perempuan mengalami ketidakpuasan terhadap tubuhnya sendiri.
Riset menunjukkan bahwa ketidakpuasan terhadap body image berkorelasi dengan meningkatnya risiko gangguan pola makan, termasuk emotional eating. Dalam situasi ini, makanan menjadi sarana untuk meredakan emosi negatif, tetapi sering diikuti dengan rasa bersalah yang memperburuk kondisi psikologis. Siklus ini dapat berlangsung berulang dan berdampak pada kesehatan jangka panjang.
Selain itu, beban ganda yang dialami perempuan juga menjadi faktor penting. Banyak perempuan menjalankan peran sebagai pekerja sekaligus pengurus rumah tangga, yang meningkatkan tingkat stres harian.
Dalam keterbatasan waktu dan energi, makanan sering menjadi bentuk pelarian yang paling mudah diakses. Studi menunjukkan bahwa perempuan dengan tingkat stres tinggi cenderung memiliki pola makan yang tidak teratur dan lebih sering mengonsumsi makanan tinggi kalori.
Di Indonesia, regulasi terkait pangan dan kesehatan telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Kedua regulasi ini menekankan pentingnya ketersediaan pangan yang aman, bergizi, dan seimbang bagi masyarakat.
Selain itu, pemerintah juga mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 41 Tahun 2014 yang mengatur pedoman konsumsi makanan sehat, aktivitas fisik, serta pemantauan status gizi.
Namun, regulasi tersebut masih lebih berfokus pada aspek fisik konsumsi makanan, seperti kandungan gizi dan keamanan pangan, dan belum secara spesifik mengakomodasi dimensi psikologis dalam perilaku makan. Padahal, dalam praktiknya, keputusan seseorang dalam memilih makanan tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ketersediaan atau pengetahuan gizi, tetapi juga kondisi emosional.
Di sisi lain, World Health Organization mencatat bahwa konsumsi makanan ultra-proses yang tinggi gula, garam, dan lemak terus meningkat secara global, termasuk di Indonesia. Pola konsumsi ini berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, dan gangguan metabolik lainnya. Dalam konteks emotional eating, makanan jenis ini menjadi pilihan utama karena mudah diakses dan memberikan efek kenyang serta nyaman secara instan.
Fenomena emotional eating menunjukkan bahwa persoalan makanan tidak dapat dipisahkan dari kondisi sosial dan psikologis, terutama bagi perempuan yang menghadapi berbagai tekanan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penanganan isu ini memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif, tidak hanya melalui edukasi gizi, tetapi juga melalui penguatan kesehatan mental dan perubahan perspektif sosial terhadap tubuh perempuan.
Upaya intervensi yang efektif perlu melibatkan integrasi antara kebijakan pangan, layanan kesehatan mental, serta kampanye publik yang lebih sensitif terhadap pengalaman perempuan. Tanpa pendekatan yang menyeluruh, emotional eating akan terus menjadi fenomena yang tersembunyi, tetapi berdampak luas terhadap kualitas hidup dan kesehatan perempuan.

