Saya Tidak Dimarahi, Tapi Tetap Merasa Takut

Ilustrasi.

TENTANGPUAN.com – Suara keyboard dipencet keras. Napas berat terdengar berulang. Sesekali disusul umpatan pendek dan nada tinggi karena jaringan internet bermasalah, file pekerjaan hilang, atau target kerja yang tidak tercapai.

Perempuan itu diam.

Ia tahu kemarahan itu bukan ditujukan kepadanya. Ia juga merasa tidak melakukan kesalahan apa pun. Namun setiap teriakan dan ledakan emosi pasangan tetap membuat dadanya sesak dan tubuhnya menegang.

Situasi seperti ini dialami banyak perempuan, tetapi sering tidak dianggap sebagai masalah serius. Selama tidak ada kekerasan fisik atau hinaan langsung, tekanan emosional yang muncul dianggap “hal biasa” dalam hubungan.

Padahal, penelitian menunjukkan bahwa paparan kemarahan dan perilaku agresif verbal secara terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan mental orang yang berada di sekitarnya.

Psikolog dari Yale University, Marc Brackett, dalam riset mengenai regulasi emosi menjelaskan bahwa ledakan emosi yang tidak terkendali dapat menciptakan “emotional contagion” atau penularan emosi. Tubuh orang di sekitar akan ikut merasakan stres, cemas, bahkan takut, meskipun mereka bukan sumber konflik.

Penelitian lain yang dipublikasikan dalam Journal of Interpersonal Violence menemukan bahwa agresi verbal dalam hubungan, seperti berteriak, membentak, atau meluapkan emosi secara eksplosif, berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, stres kronis, dan menurunnya rasa aman emosional pasangan.

Dalam banyak relasi, perempuan akhirnya mengambil peran sebagai penstabil emosi. Mereka menjadi sangat hati-hati, takut berbicara saat pasangan sedang stres, menghindari topik tertentu, atau memilih diam agar suasana tidak semakin buruk.

Tanpa disadari, kondisi itu membuat perempuan hidup dalam kewaspadaan emosional terus-menerus.

“Dia sebenarnya baik, hanya emosinya meledak-ledak kalau ada masalah kerja.”

Kalimat seperti ini sering menjadi bentuk pembenaran yang diucapkan perempuan untuk meyakinkan diri sendiri bahwa kondisinya masih normal. Namun rasa tidak nyaman yang muncul tetap nyata.

Menurut American Psychological Association (APA), rumah yang dipenuhi ketegangan emosional dapat memicu respons stres jangka panjang pada anggota keluarga. Tubuh manusia tidak selalu mampu membedakan apakah ancaman datang langsung atau hanya disaksikan. Teriakan dan ledakan emosi tetap dapat membuat sistem saraf bekerja dalam mode waspada.

Dalam jangka panjang, perempuan bisa mengalami kelelahan emosional, sulit rileks, mudah cemas, bahkan kehilangan ruang aman di rumahnya sendiri. Fenomena ini juga berkaitan dengan cara laki-laki dibesarkan dalam budaya patriarki. Banyak laki-laki diajarkan untuk menekan kesedihan dan kerentanan, tetapi dianggap wajar melampiaskan frustrasi melalui kemarahan.

Akibatnya, kemarahan menjadi bahasa emosi yang paling mudah keluar.

Sosiolog Michael Kimmel dalam berbagai kajiannya tentang maskulinitas menyebut bahwa laki-laki sering mengalami kesulitan mengelola emosi karena sejak kecil tidak diberi ruang untuk mengenali perasaan selain marah. Dalam kondisi tekanan kerja, ekonomi, atau kegagalan, emosi tersebut kemudian diluapkan kepada lingkungan terdekat. Sayangnya, perempuan sering menjadi pihak yang ikut menerima dampaknya.

Bukan berarti setiap kemarahan adalah kekerasan. Namun ketika kemarahan terus-menerus menciptakan rasa takut, tertekan, dan kehilangan kenyamanan, situasi itu tidak bisa dianggap sepele.

Hubungan yang sehat bukan hanya tentang tidak adanya pukulan. Relasi yang sehat juga memberi rasa aman secara emosional.

Perempuan berhak mengatakan bahwa dirinya tidak nyaman dengan bentakan dan ledakan emosi pasangan, meskipun kemarahan itu bukan ditujukan langsung kepadanya.

Karena rasa takut tidak selalu lahir dari tangan yang memukul. Kadang, ia tumbuh perlahan dari rumah yang terlalu sering dipenuhi suara amarah.