TENTANGPUAN.com – Sudah lebih dari sepuluh kali Cherry Paat pergi ke pantai untuk mencuci pakaian. Bukan karena rumahnya dekat pantai, tetapi karena air di rumahnya semakin sulit didapat setelah lebih dari tiga bulan hujan tak turun.
Dari Desa Mini, Kecamatan Siau Barat Utara, di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Cherry harus pergi ke Desa Kanawong untuk mencuci menggunakan air payau yang bisa diambil secara gratis. Bersama ibu-ibu lainnya, ia biasanya mengatur waktu mencuci sekitar sekali dalam sepekan.
Di rumah, air hujan yang masih tersisa di bak penampungan disimpan untuk memasak. Untuk mandi, keluarga Cherry membeli air dalam galon seharga Rp7 ribu per 25 liter. Air sebanyak itu pun harus digunakan sehemat mungkin.
“Saya tinggal di Desa Mini, kondisi rumah jauh dari jalan raya sehingga tidak bisa membeli air untuk tong. Kami sekeluarga membeli air di galon,” kata Cherry saat ditemui pada medio Agustus 2026 lalu.
Letak rumah yang jauh dari jalan raya membuat Cherry tidak bisa membeli air dalam jumlah besar untuk mengisi bak penampungan. Air galon menjadi pilihan yang tersedia, meski harus dibayar dari uang kebutuhan rumah tangga.
Setiap hari, ia harus menentukan air mana yang bisa digunakan dan untuk kebutuhan apa. Air hujan yang tersisa diprioritaskan untuk memasak. Sementara air galon digunakan untuk mandi, terutama pada pagi hari ketika anaknya harus bersiap ke sekolah.
Jika persediaan air tidak memungkinkan, Cherry dan keluarganya memilih mandi di pantai. Penggunaan air juga dibatasi. Sekitar 10 liter disiapkan untuk kebutuhan mandi satu orang.
Untuk mencuci pakaian, Cherry lebih sering pergi ke pantai di Desa Kanawong, Kecamatan Siau Barat. Ia sudah lebih dari sepuluh kali melakukan hal itu sejak kekeringan berlangsung.
Kegiatan mencuci dilakukan bersama sejumlah ibu rumah tangga lainnya. Mereka saling berkomunikasi dan mengatur waktu agar bisa mencuci sekitar satu kali dalam sepekan.
“Ini sudah tiga bulan lebih, dan memang sangat menderita. Saya biasanya berkomunikasi dengan ibu-ibu di desa mengatur jadwal mencuci seminggu sekali ke pantai di Desa Kanawong. Air di sini gratis, bersumber dari air payau. Biasanya kami ramai mencuci karena beberapa orang sehari menghabiskan waktu di pantai,” ujarnya.
Pantai kemudian menjadi bagian dari rutinitas perempuan di tengah sulitnya mendapatkan air. Pekerjaan yang biasanya dilakukan di rumah harus dibawa keluar, membutuhkan waktu dan tenaga tambahan.

Mengatur Air, Mengatur Pengeluaran
Kekeringan juga membuat Cherry harus mengubah cara mengelola keuangan rumah tangga. Tidak ada pos khusus untuk membeli air. Ketika persediaan di rumah habis dan air dibutuhkan, uang yang ada harus dialihkan untuk membeli air.
“Biasanya saya mengurangi dari semua jatah uang di rumah. Kami tidak memiliki pengaturan keuangan yang harus dibagi. Pokoknya ketika butuh air, berapa pun uang di tangan itu digunakan untuk membeli air,” kata Cherry.
Harga Rp7 ribu untuk satu galon berisi 25 liter mungkin terlihat kecil jika dibeli sesekali. Namun, dalam kondisi kekeringan yang berlangsung berbulan-bulan, pembelian air menjadi pengeluaran yang terus berulang.
Bagi Cherry, kebutuhan tersebut tidak bisa ditunda. Air tetap diperlukan untuk memasak, mandi dan memenuhi kebutuhan anak-anak di rumah.
Situasi yang dialami Cherry menunjukkan bagaimana perempuan berada di garis depan ketika kebutuhan air rumah tangga mulai sulit dipenuhi. Ia tidak hanya menggunakan air, tetapi juga menentukan sumber air, mengatur pemakaian, mencari alternatif dan menyesuaikan pengeluaran keluarga.
Temuan ini sejalan dengan penelitian mengenai kerawanan air rumah tangga dan dampaknya terhadap perempuan di Indonesia. Studi yang diterbitkan dalam Social Science & Medicine pada 2024 melibatkan 365 perempuan di Indonesia. Penelitian tersebut menemukan adanya hubungan antara kerawanan air rumah tangga dan kekerasan berbasis gender.
Riset tersebut memperlihatkan bahwa persoalan akses air dapat memiliki konsekuensi yang lebih luas bagi perempuan. Namun, temuan penelitian itu tidak berarti pengalaman Cherry merupakan kekerasan berbasis gender. Dalam kasus Cherry, dampak yang terlihat adalah bertambahnya pekerjaan, waktu dan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan air keluarga.
Dua Galon Bantuan Pemerintah
Cherry sebenarnya pernah menerima bantuan air dari pemerintah daerah.
Air bantuan tersebut terlebih dahulu ditampung di bak penampungan desa sebelum dibagikan kepada warga. Setiap rumah mendapat jatah dua galon.
Namun, jumlah tersebut belum mencukupi kebutuhan keluarganya.
“Sudah pernah bantuan dari pemerintah daerah yang diisi dalam bak penampungan desa dan dibagikan ke masyarakat. Satu rumah mendapatkan kuota dua galon, tapi sebenarnya belum mencukupi kebutuhan air di rumah,” ujarnya.
Bagi keluarga yang berada jauh dari akses jalan raya seperti Cherry, persoalan bukan hanya ketersediaan air, tetapi juga bagaimana air tersebut bisa sampai ke rumah.
Pilihan membeli air dalam jumlah besar untuk mengisi tong sulit dilakukan. Akhirnya, air galon menjadi pilihan yang lebih mungkin, meski jumlahnya terbatas dan harus dibeli berulang kali.
Kondisi tersebut berkaitan dengan hak masyarakat atas air. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air menyebut negara menjamin hak rakyat atas air untuk memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari-hari. Pemenuhan kebutuhan tersebut harus memperhatikan kecukupan jumlah, kualitas, keamanan, keberlanjutan dan keterjangkauan.
Regulasi tersebut juga menempatkan kebutuhan pokok sehari-hari sebagai salah satu prioritas dalam pemenuhan kebutuhan air.
Dengan kondisi yang dialami Cherry, persoalan air di Desa Mini tidak berhenti pada bagaimana warga beradaptasi selama musim kering. Ketersediaan air untuk kebutuhan dasar juga menjadi bagian dari tanggung jawab pengelolaan sumber daya air.
Pantai Menjadi Pilihan
Ketika hujan belum juga turun, Cherry dan perempuan lainnya terus mengandalkan cara-cara yang tersedia.
Air hujan yang masih tersisa disimpan untuk memasak. Air galon dibeli untuk kebutuhan mandi. Sedangkan pakaian dibawa ke pantai untuk dicuci menggunakan air payau.
Pilihan tersebut dilakukan bukan karena lebih mudah, melainkan karena hanya itu yang bisa dilakukan ketika air bersih di rumah semakin terbatas.
Lebih dari sepuluh kali pergi mencuci ke pantai menjadi bagian dari keseharian Cherry selama kekeringan. Ia juga harus mengatur jadwal bersama perempuan lain agar pekerjaan mencuci tetap bisa dilakukan.
Di rumah, setiap liter air dihitung berdasarkan kebutuhan.
Di luar rumah, pantai menjadi tempat mereka menyelesaikan pekerjaan yang tak lagi bisa dilakukan di rumah.
Bagi Cherry, bertahan menghadapi kekeringan berarti mengatur semuanya sekaligus: air yang tersisa, uang yang tersedia, waktu untuk mencuci dan kebutuhan keluarga yang tidak bisa berhenti hanya karena hujan belum turun.
Selama hujan belum kembali, cara-cara itulah yang membuat kehidupan rumah tangganya tetap berjalan.
Reporter: Jufri Kasumbala

