Menu Krisis dari Dapur Desa: Cara Lama Hadapi Ancaman Pangan

Ilustrasi.

TENTANGPUAN.com – Ancaman El Niño 2026 yang berpotensi membawa musim kering lebih panjang, dapur perempuan tani di Sulawesi Utara kembali menghidupkan ingatan lama, bahwa memasak bukan hanya soal rasa, tetapi strategi bertahan.

Ketika hasil kebun menurun dan harga pangan naik, perempuan tani mulai kembali pada resep-resep yang dulu dianggap “makanan susah”, tetapi justru terbukti tahan krisis. Jagung rebus, nasi campur ubi, hingga olahan sagu menjadi alternatif ketika beras tidak lagi cukup.

“Kalau nenek dulu biasa membuat Sinabedak, itu campuran beras, umbi-umbian dan sayur mayur,” kata Jauriah Syukur, Sabtu, (1/5/2026).

Di beberapa wilayah Bolaang Mongondow dan Minahasa, tradisi mencampur beras dengan jagung atau ubi bukan hal baru. Ini adalah praktik lama untuk memperpanjang stok pangan keluarga. Dalam konteks El Niño, praktik ini kembali relevan, bukan sebagai simbol keterbatasan, tetapi bentuk adaptasi berbasis pengalaman.

Selain itu, ada pula kebiasaan mengolah bahan pangan agar lebih tahan lama. Ikan diasinkan atau diasap untuk disimpan berhari-hari, sayur dijadikan tumis kering, bahkan beberapa keluarga mulai kembali menanam tanaman pekarangan seperti daun kelor, bayam lokal, dan ubi jalar yang relatif tahan kekeringan.

“Bukan cuma ikan laut, bahkan ikan di sungai seperti gabus, buntayang, kulama juga kami asap, itu malah enak kalau disantan,” jelas Jauriah.

Namun, di balik itu semua, ada perubahan yang tak selalu terlihat. Resep-resep ini sering kali miskin protein dan mikronutrien jika tidak diimbangi dengan variasi bahan. Perempuan menjadi pihak yang harus “mengakali” keterbatasan itu, mengatur agar anak tetap mendapat asupan lebih baik, meski dirinya sendiri harus mengurangi.

“Kalau spal gizi saya kurang tahu, apakah jika ikan yang sudah berbulan-bulan diasap itu masih bergizi. Bagi kami asal bisa makan saja,” ucap Jauriah.

Di sinilah dapur menjadi ruang penting, tempat pengetahuan lama bertemu krisis baru.

Tradisi seperti memasak dengan bahan lokal sebenarnya menyimpan potensi besar dalam menghadapi perubahan iklim. Namun, tanpa dukungan kebijakan, seperti akses air, bibit tahan kering, dan edukasi gizi, beban adaptasi akan terus bertumpu pada perempuan.

Dalam skenario terburuk El Niño 2026, mungkin bukan bantuan instan yang pertama kali menyelamatkan keluarga, tetapi ingatan perempuan tentang cara memasak dari masa lalu, bagaimana mengolah yang ada, menyimpan yang tersisa, dan memastikan semua tetap makan.

Karena di banyak rumah tangga, ketahanan pangan tidak dimulai dari ladang, tetapi dari dapur dan perempuan adalah penjaganya.