Menjaga Dapur di Tengah Tanah yang Mengeras: Kisah Risma di Desa Langagon 2 Bolmong

Risma sani saat menjemur jagung hasil panennya di Desa Langagon 2, (Foto: Tentangpuan.com/Neno Karlina).

TENTANGPUAN.com – Matahari sedang terik ketika Risma Sani (44) duduk di tepi bak penjemuran jagung di Desa Langagon 2, Kecamatan Bolaang, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kamis, 9 April 2026. Ia mencari sedikit teduh dari panas yang memantul dari permukaan semen, sambil melinting tembakau dengan gerakan yang sudah terbiasa.

Di depannya, bulir jagung menguning ditata perlahan oleh anaknya, Mickhael Adityo Lamber (19) menggunakan alat yang terbuat dari kayu. Tak jauh dari mereka, suaminya, Agustinus Lamber (47), berdiri sambil mengamati hasil panen.

Namun bagi Risma, pemandangan itu bukan sekadar aktivitas panen, melainkan bagian dari perhitungan panjang untuk memastikan dapur tetap menyala.

“Kalau mau beli bibit jagung tapi beras tidak ada, ya terpaksa harus beli beras dulu,” kata Risma, disertai tawa kecil yang terdengar ringan, meski menyimpan beban.

Di tengah perubahan pola bertani di Langagon 2, Risma menjadi wajah dari ketahanan yang sering tak terlihat. Ia bukan hanya bagian dari keluarga petani, tetapi juga pengelola kebutuhan harian, penjaga keseimbangan antara hasil kebun dan kebutuhan makan.

Risma Sani saat ditemui sedang menjemur jagung di Desa Langagon 2, (Foto: Tentangpuan.com/Neno Karlina).

Mengatur di Tengah Ketidakpastian

Peralihan dari padi ke jagung dalam keluarga Lamber bukan hanya keputusan teknis pertanian. Bagi Risma, itu berarti mengubah cara mengatur hidup sehari-hari.

Jika sebelumnya hasil panen padi bisa langsung menjamin ketersediaan beras, kini tidak lagi demikian. Jagung memang lebih ringan dari sisi modal dan risiko, tetapi tidak serta-merta menjawab kebutuhan pangan keluarga.

Harga bibit menjadi salah satu tantangan utama. Risma menyebut, satu kantong bibit jagung seberat lima kilogram bisa mencapai Rp250 ribu, jumlah yang tidak bisa langsung mereka penuhi.

“Kami tidak mampu beli sekaligus, harus menyicil,” ujarnya.

Situasi ini membuat proses menanam tidak lagi serentak. Semua bergantung pada kemampuan membeli bibit sedikit demi sedikit. Di saat yang sama, kebutuhan sehari-hari tetap berjalan dan tidak bisa ditunda.

Risma berada di titik di mana setiap keputusan kecil, membeli beras atau bibit, menjadi pilihan yang menentukan.

Perempuan di Antara Ladang dan Upah Harian

Ketika hasil kebun tidak cukup, Risma tidak menunggu. Ia mencari pekerjaan lain.

“Kalau ada yang panggil kerja, ya kami pergi,” katanya.

Pekerjaan sebagai buruh harian menjadi bagian dari strategi bertahan. Ia berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, menyesuaikan dengan apa yang tersedia. Dalam kondisi ini, batas antara pekerjaan domestik dan produktif menjadi kabur.

Ia tetap hadir di kebun, ikut dalam proses panen, sekaligus memastikan kebutuhan rumah tangga terpenuhi.

Anaknya, Mickhael, juga terlibat penuh dalam pekerjaan di kebun. Namun, seperti yang Risma ungkapkan, keterlibatan itu tidak selalu berarti penghasilan tetap.

“Iko-iko no dia dengan torang,” ujarnya, menggambarkan bahwa anaknya ikut bekerja tanpa bayaran pasti.

Suami Risma, Agustinus Lamber, (Foto: Neno Karlina).

Risma menyaksikan langsung perubahan yang terjadi dalam keluarganya. Dari cerita yang ia dengar, generasi sebelumnya hidup dalam kondisi yang berbeda, ketika sawah masih memberi hasil melimpah dan tenaga kerja justru menjadi tantangan.

Kini, situasinya berbalik. Air tidak lagi selalu tersedia, biaya terus meningkat, dan risiko gagal panen semakin besar.

Suaminya, Agustinus, yang dulu bertani padi, perlahan beralih ke jagung setelah berbagai pertimbangan.

“Kalau kondisi seperti ini, serajin-rajinnya petani tetap tidak ada hasil,” kata Agustinus.

Perubahan seperti yang dialami keluarga Lamber juga tercermin dalam gambaran yang lebih luas. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa luas panen padi nasional dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan. Salah satu penyebabnya adalah tekanan terhadap lahan pertanian, termasuk alih fungsi dan perubahan penggunaan lahan.

Dalam berbagai kajian pertanian, alih fungsi lahan disebut sebagai faktor yang tidak hanya menurunkan produksi, tetapi juga mempersempit ruang hidup petani. Ketika lahan berkurang dan biaya meningkat, petani kecil menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi ketidakpastian.

Di sisi lain, perubahan iklim turut memperumit situasi. Pola musim yang tidak menentu membuat ketersediaan air semakin sulit diprediksi. Laporan Kementerian Pertanian Republik Indonesia mencatat bahwa dalam kondisi seperti ini, petani cenderung menyesuaikan pilihan komoditas, termasuk beralih dari padi ke tanaman seperti jagung yang dianggap lebih tahan terhadap keterbatasan air.

Bagi Risma, semua itu tidak hadir dalam bentuk angka atau laporan, tetapi dalam keputusan sehari-hari yang harus diambil.

Risma dan sang suami harus beralih tanam dari padi ke jagung, (Foto: Neno Karlina)

Bertahan dengan Apa yang Ada

Jagung menjadi pilihan karena dianggap lebih ringan. Tidak membutuhkan air sebanyak padi dan lebih sesuai dengan kondisi lahan yang bergantung pada hujan. Namun bagi Risma, “lebih ringan” tidak berarti mudah.

Ia tetap harus menghitung, menyesuaikan, dan mencari cara agar kebutuhan keluarga tidak terputus.

Di tingkat kebijakan, pemerintah sebenarnya telah mengatur perlindungan lahan pertanian melalui Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009. Regulasi ini bertujuan menjaga keberlanjutan lahan pangan, termasuk sawah. Namun dalam praktiknya, tantangan di lapangan, seperti akses air, biaya produksi, dan distribusi bantuan, masih dirasakan langsung oleh petani seperti keluarga Lamber.

“Satu kantong bibit 5 kilo bisa sampai Rp250 ribu,” kata Risma. “Kalau mau beli bibit tapi beras tidak ada, ya beras dulu.”

Kalimat itu menjadi penegas bahwa persoalan yang dihadapi bukan sekadar soal pilihan komoditas, tetapi tentang bertahan hidup.

“Tidak ada kepastian berapa lama hasil itu akan mencukupi. Tidak ada jaminan musim berikutnya akan lebih baik. Namun pekerjaan harus tetap dilakukan,” katanya.

Menjelang sore, panas mulai mereda. Namun pekerjaan belum selesai. Risma kembali berdiri, membantu merapikan jagung bersama Mickhael, sementara Agustinus memeriksa hasil yang terkumpul.

Bagi Risma, perubahan dari padi ke jagung bukan hanya soal komoditas. Itu adalah perubahan cara hidup, dari kepastian menuju perhitungan yang terus-menerus.

Di Desa Langagon 2, cerita seperti ini tidak hanya milik satu keluarga. Namun melalui Risma, perubahan itu terlihat lebih dekat: bagaimana perempuan menjadi penghubung antara ladang dan dapur, antara hasil yang tak pasti dan kebutuhan yang tak bisa ditunda.

Di tengah tanah yang mengeras, Risma tetap menjaga agar kehidupan di rumahnya tidak ikut retak.