Lelah yang Dipendam, Tidur yang Dikurangi: Realitas Perempuan Tani

Ilustrasi perempuan tani, (Grafis: Non).

TENTANGPUAN.com – Pagi bagi perempuan tani kerap dimulai bahkan sebelum matahari terbit. Mereka menyiapkan makanan, mengurus anak, lalu berangkat ke ladang. Sore hari, pekerjaan belum selesai, mereka kembali ke dapur, membersihkan rumah, dan memastikan seluruh kebutuhan keluarga terpenuhi. Di tengah ritme itu, ada satu hal yang sering terabaikan: istirahat.

Bagi banyak perempuan tani, tidur bukan sekadar kebutuhan biologis, melainkan kemewahan yang sulit dijangkau.

Beban kerja panjang dan berlapis, produktif di sektor pertanian sekaligus domestik di rumah, membuat waktu tidur mereka terus tergerus. Dalam praktik sehari-hari, tidur sering kali menjadi aktivitas yang “disisakan”, bukan direncanakan.

Padahal, sejumlah riset menunjukkan bahwa kurang tidur memiliki dampak serius terhadap kesehatan perempuan.

Studi yang dipublikasikan dalam Unnes Journal of Public Health oleh Universitas Negeri Semarang menemukan bahwa kurang tidur secara signifikan menurunkan fungsi kognitif perempuan usia kerja. Dampaknya mencakup penurunan konsentrasi, daya ingat, hingga kemampuan mengambil keputusan. Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa beban kerja dan tanggung jawab domestik menjadi faktor utama yang memperparah kondisi ini.

Dampak kurang tidur tidak berhenti pada aspek kognitif. Laporan yang dirilis oleh ScienceDaily menyebutkan bahwa perempuan yang tidur kurang dari lima jam per malam memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi dibanding mereka yang memiliki durasi tidur cukup.

Dalam konteks pedesaan, persoalan ini menjadi lebih kompleks. Studi berbasis komunitas yang dilakukan peneliti Universitas Airlangga menunjukkan adanya hubungan antara durasi tidur pendek dengan peningkatan tekanan darah pada perempuan di wilayah rural. Temuan ini memperlihatkan bahwa kurang tidur berkontribusi langsung terhadap risiko penyakit kronis di kalangan perempuan desa.

Secara umum, para ahli merekomendasikan durasi tidur ideal sekitar 7–8 jam per malam. Kajian yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Public Health oleh Springer Nature menyebutkan bahwa kurang tidur dapat memengaruhi sistem imun, keseimbangan hormon, serta kesehatan mental, termasuk meningkatkan risiko stres dan depresi.

Namun, bagi perempuan tani, angka ideal tersebut sering kali jauh dari kenyataan.

Di lapangan, waktu istirahat tersisih oleh tuntutan hidup. Minimnya pembagian kerja domestik, keterbatasan akses terhadap teknologi pertanian yang bisa meringankan beban, serta tekanan ekonomi membuat mereka terus bekerja bahkan saat tubuh membutuhkan jeda.

Kurangnya tidur juga berkaitan erat dengan kesehatan mental. Perempuan yang mengalami sleep deprivation lebih rentan mengalami stres, kecemasan, hingga depresi. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpengaruh pada kualitas hidup dan relasi sosial mereka.

Ironisnya, kelelahan tersebut kerap dinormalisasi. Tubuh yang terus bekerja tanpa cukup istirahat dianggap sebagai bentuk ketangguhan, bukan sebagai tanda kelelahan yang perlu diatasi.

Padahal, di balik itu, ada tubuh yang terus dipaksa bertahan.

Isu “istirahat yang mahal” pada perempuan tani bukan sekadar persoalan gaya hidup. Ia mencerminkan ketimpangan beban kerja dan minimnya dukungan sistemik. Selama pekerjaan domestik masih sepenuhnya dibebankan pada perempuan, dan kerja produktif mereka tidak diiringi perlindungan serta fasilitas yang memadai, waktu istirahat akan tetap menjadi barang langka.

Di tengah narasi besar tentang ketahanan pangan dan produktivitas pertanian, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: siapa yang menjaga tubuh perempuan tani tetap bertahan?

Sejauh ini, jawabannya masih sama, mereka sendiri, dengan tidur yang terus dikorbankan.