Nobar “Pesta Babi” dan Upaya Merawat Sensitivitas Gender

Suasana nonton bareng "Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita", (Foto: Koleksi Zonautara.com).
Suasana nonton bareng "Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita", (Foto: Koleksi Zonautara.com).

TENTANGPUAN.com – Media Zonautara.com berkolaborasi dengan Universitas Dumoga Kotamobagu (UDK) bersama Monibi Institute dan sejumlah komunitas, termasuk Tentangpuan.com, menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Sabtu (25/4/2026) malam.

Kegiatan yang berlangsung di aula UDK, Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara ini, tidak hanya menjadi ruang pemutaran film, tetapi juga wadah refleksi kolektif atas isu-isu sosial, terutama yang menyentuh kehidupan masyarakat adat, termasuk perempuan di dalamnya.

Sejak awal kegiatan, kehadiran Tentangpuan.com menegaskan pentingnya perspektif perempuan dalam membaca isu konflik agraria dan pembangunan. Perwakilan Tentangpuan.com, Neno Karlina, menyampaikan bahwa perempuan adat kerap berada di posisi paling rentan, namun justru paling jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

Neno Karlina, (Foto: Koleksi Zonautara.com).

Menurut Neno, perempuan adat tidak hanya terdampak secara ekonomi, tetapi juga mengalami kehilangan berlapis ketika ruang hidup mereka terganggu.

“Perempuan adat punya peran penting dalam menjaga pangan, merawat keluarga, sekaligus mempertahankan identitas komunitas. Ketika hutan dan tanah hilang, yang hilang bukan hanya sumber penghidupan, tapi juga pengetahuan dan sistem hidup yang diwariskan,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa pengalaman perempuan dalam konflik agraria sering kali tidak terlihat karena narasi pembangunan lebih banyak didominasi oleh perspektif laki-laki dan negara.

“Padahal, perempuan adalah penjaga keberlanjutan hidup komunitas. Tapi suara mereka masih sering diabaikan dalam kebijakan,” tambahnya.

Sejumlah pihak terlibat dalam kegiatan ini, di antaranya Moisipun, Ampowplur, BMR Forum Hijau, KMPA Maleo, Singgolong Eksplorer, hingga Pantau. Kolaborasi ini memperlihatkan upaya bersama dalam membuka ruang dialog lintas perspektif.

Penggagas kegiatan dari Zonautara.com, Tri Deyna, mengungkapkan antusiasme peserta yang melampaui ekspektasi. Jumlah kehadiran bahkan melebihi pendaftar daring.

“Ini menunjukkan bahwa ruang-ruang diskusi seperti ini masih sangat dibutuhkan, terutama untuk membicarakan isu-isu yang sering terpinggirkan, termasuk pengalaman perempuan dalam konflik sosial,” ujar Deyna.

Film dokumenter karya Dhandy Laksono tersebut mengangkat perjuangan masyarakat Papua Selatan dalam menghadapi Proyek Strategis Nasional (PSN), berupa pengembangan biodiesel sawit dan bioetanol tebu. Dokumenter ini menyoroti dampak eksploitasi hutan dan tanah terhadap masyarakat adat, seperti suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu.

Dalam konteks ini, perempuan adat dipahami sebagai kelompok yang mengalami beban ganda, baik sebagai pengelola domestik maupun penjaga ruang hidup komunitas, yang sering kali luput dari perhatian dalam narasi besar pembangunan.

Diskusi usai pemutaran film menghadirkan sejumlah pemantik, di antaranya Pemimpin Redaksi Zonautara.com Ronny Buol, Wakil Rektor III UDK Henratno Pasambuna, dan pemerhati budaya dari Monibi Institute, Uwin Mokodongan.

Henratno Pasambuna menyoroti stagnasi dalam kehidupan sosial masyarakat.

“Sampai hari ini, kehidupan bermasyarakat masih berputar pada satu poros yang sama, tanpa perubahan signifikan,” ujarnya.

Sementara itu, Uwin Mokodongan mengungkap kekhawatiran terkait pengakuan masyarakat adat di wilayah Totabuan.

“Ironisnya, ada berita acara yang menyatakan tidak adanya masyarakat adat, dan itu justru dibuat oleh tokoh adat sendiri,” katanya.

Dari sisi media, Ronny Buol menekankan bahwa perlawanan masyarakat adat tidak selalu berbentuk aksi konfrontatif.

“Ritual seperti Pesta Babi adalah bentuk perlawanan. Mereka mempertahankan identitas dan tradisi sebagai cara melawan,” tegasnya.

Respons peserta juga memperkaya diskusi. Deany Taufya Pontoh dari Komunitas Literasi Moisipun menyebut film ini sebagai bentuk kritik yang tidak nyaman, namun penting.

“Ini bukan film yang ‘cantik’. Ia seperti satir yang mengoyak kenyamanan kita dan memperlihatkan wajah pembangunan yang lebih menyerupai penggusuran,” ungkapnya.

Melalui keterlibatan Tentangpuan.com, diskusi tidak hanya berhenti pada isu agraria dan kolonialisme modern, tetapi juga memperluas perspektif pada bagaimana perempuan mengalami dan merespons situasi tersebut.

Kegiatan ini diharapkan tidak sekadar menjadi ruang diskusi, tetapi juga mendorong lahirnya kesadaran kritis yang lebih inklusif, termasuk keberpihakan terhadap perempuan dan kelompok rentan dalam pusaran konflik pembangunan.

Peliput: David Sumilat