TENTANGPUAN.com – SUARA burung bersahutan di atas hamparan sawah. Rafia Potabuga (52) berdiri di tengah petak lahan yang ia garap, bersama empat orang petani yang membantunya memanen padi. Hari mulai gelap, dan mereka bersiap pulang setelah tiga hari berturut-turut menyelesaikan panen yang, menurutnya, sudah terlambat.
Kesulitan mengakses alat panen menjadi kendala.
“Ini terlambat panen,” kata Rafia dibarengi napas berat, Kamis, 9 April 2026, saat ditemui di sawah garapannya di Desa Langagon Induk, Kecamatan Bolaang, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong).
Langkahnya cepat menyusuri jalan tanah yang retak-retak. Di kejauhan, hamparan sawah tampak kusam, tak lagi memantulkan langit seperti dulu.
Persoalan yang ia hadapi bukan hanya soal waktu panen. Rafia juga mengeluhkan kondisi irigasi yang semakin memburuk. Air yang biasanya mengalir kini hanya menyisakan lumpur kering yang mengeras. Saluran irigasi perlahan mati, terutama saat musim kemarau.
Rafia berhenti di pematang, menatap tanah yang tak lagi bisa diandalkan untuk ditanami. Ia bercerita, yang hilang bukan sekadar hasil panen, tetapi juga ritme hidup yang selama puluhan tahun ia kenal.
Seperti banyak perempuan tani lain di Bolmong, Rafia harus berpikir keras.

Perempuan sebagai Pengelola Krisis Rumah Tangga
Beban yang dihadapi Rafia tidak berhenti di sawah. Ia juga menjadi pihak yang memastikan dapur tetap menyala.
Hasil panen yang berkurang berdampak langsung pada kebutuhan makan keluarga. Sebagai seorang istri dan ibu, ia harus memastikan kebutuhan pangan tetap terpenuhi, bahkan ketika produksi tidak lagi menjamin.
Menurut Rafia, ia sudah bertani sejak menikah. Keputusan untuk terus menggarap sawah bukan tanpa alasan. Ia dan suami terikat hutang di gilingan, yang menjadi modal awal setiap musim tanam.
Namun, hasil panen yang kerap merugi membuat hutang itu tak kunjung lunas.
“Ini adalah gali lubang tutup lubang. Bukan untung tapi membawa pulang hutang yang terus dibayar dengan musim berikutnya,” kata Rafia.
Ia menyeka keringat di dahinya, lalu melanjutkan cerita tentang bagaimana hasil panen yang tak menentu memaksanya mencari cara lain agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi.
Baginya, persoalan di sawah tak pernah berhenti di batas pematang, semuanya bermuara ke dapur.
“Kalau panen begini, tidak cukup. Jadi harus cari tambahan. Kadang pinjam lagi atau putar otak apa yang bisa dijual,” ujarnya.
Rafia mengatur pengeluaran sehemat mungkin, menunda kebutuhan yang tidak mendesak, dan menyesuaikan menu dengan kondisi yang ada.
Ironisnya, meski setiap musim ia menanam padi, Rafia tetap harus membeli beras untuk kebutuhan sehari-hari. Hasil panen yang terbatas seringkali habis untuk menutup biaya produksi, sehingga tidak menyisakan cukup untuk konsumsi keluarga.
Ia mengakui, tekanan semakin terasa karena semua keputusan harus diambil dalam kondisi serba tidak pasti. Harga hasil panen tidak menentu, biaya produksi terus meningkat, sementara kebutuhan rumah tangga tidak bisa ditunda.
“Kalau tidak pintar-pintar atur, habis. Jadi walaupun capek di sawah, pulang tetap pikir dapur,” kata Rafia.
Bagi Rafia, menjaga dapur tetap mengepul bukan sekadar urusan domestik. Itu adalah bagian dari perjuangan yang sama dengan bertahan di sawah, dua ruang yang tak pernah benar-benar terpisah dalam hidupnya.

Pilihan Sulit di Tengah Keterbatasan
Pengalaman ini juga dirasakan oleh perempuan tani lain di wilayah yang sama.
Di Desa Langagon II, Risma Sani (44) menjalani peran yang tak kalah berat. Ia bekerja di ladang bersama suaminya, sekaligus mengelola keuangan keluarga dalam kondisi terbatas.
“Biar mau beli bibit tapi beras tidak ada, ya terpaksa harus beli beras,” kata Risma, yang dijumpai di bak penjemuran gilingan di desanya.
Situasi itu menempatkan Risma pada pilihan yang sulit. Di satu sisi, bibit adalah modal untuk musim tanam berikutnya. Di sisi lain, kebutuhan makan hari ini tidak bisa ditunda.
Ketika tidak memiliki cukup modal untuk menanam, Risma mencari cara lain untuk bertahan.
“Kalau tidak ada bibit begitu ya kita kerja harian dulu. Siapa yang butuh tenaga untuk disewa, ya kami maso no. Kalau nyanda ya nyanda no,” ujarnya.
Meski turut bekerja di ladang, kontribusinya tidak selalu dihitung sebagai kerja berbayar.
“Saya tidak dibayar. Saling menopang dan membantu layaknya suami istri,” kata Risma.

Kerja Panjang yang Tak Selalu Diakui
Kondisi serupa juga dialami Jasmi Kobandaha (50), petani yang ditemui di Desa Kopandakan II, Kecamatan Lolayan, Senin, 8 April 2026.
Sebelum berangkat bekerja sebagai pengupas jagung, ia terlebih dahulu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.
“Biasanya sebelum berangkat kami semua sudah memasak di rumah. Menyelesaikan pekerjaan di rumah,” kata Jasmi.
Perempuan tani bekerja lebih lama, di ladang dan di rumah, di dua ruang yang sama-sama menuntut tenaga, tetapi tidak selalu diakui sebagai kerja.
Dalam kondisi yang sudah berat itu, perubahan iklim membuat semuanya semakin tidak pasti, mempersempit ruang hidup mereka.
Ketidakpastian Iklim dan Adaptasi Terbatas
Perubahan iklim di Bolmong hadir dalam bentuk yang paling nyata, musim yang tidak lagi bisa diprediksi, air yang semakin sulit, dan hasil panen yang tidak menentu.
Musim tanam yang dulu bisa diprediksi kini sering mundur, sementara air datang tidak lagi pada waktunya.
Hal tersebut turut mendorong banyak petani padi beralih ke jagung. Namun pilihan itu tetap membutuhkan modal yang tidak kecil.
“Untuk dua lokasi, kami harus menyicil bibit. Tidak mampu lagi kami membeli semua, tidak akan cukup modal, sebab kami juga butuh biaya makan,” kata Risma Sani (44).
Ketidakpastian ini membuat setiap keputusan menjadi penuh risiko.
Sementara itu, bagi perempuan lain seperti Atin Kobandaha (54), perubahan ini berarti harus mencari sumber penghasilan lain.
Ia kini bekerja sebagai pengupas jagung dari pagi hingga sore hari.
“Kadang bisa belasan atau puluhan karung, biasanya hingga Rp160 ribu sehari,” kata Atin saat mengupas jagung di kebun desa Kopandakan II.
Meski usianya tidak lagi muda, ia tetap memilih bekerja.
“Tapi saya tetap bekerja. Suami saya sudah sakit-sakit,” ujarnya.
Bagi Atin, bekerja bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang bertahan dalam situasi yang semakin tidak pasti.

Inisiatif Lokal yang Membuka Ruang Baru
Apa yang dijalani Atin adalah kenyataan yang dihadapi banyak petani perempuan di Bolmong, yakni bertahan dengan pilihan yang semakin sempit.
Di tengah kondisi itu, upaya untuk keluar dari pola lama masih jarang terjadi, dan hanya sedikit yang mampu membuka jalan berbeda.
Di Desa Werdhi Agung Selatan, Kecamatan Dumoga, Sisilia Ni Wayan Narasti (44), yang dikenal sebagai Bening Sisil, mencoba cara berbeda.
Ia menghidupkan kembali lahan-lahan yang sebelumnya terbengkalai melalui budidaya kakao.
“Tanah dan kakao bermakna kehidupan,” ujarnya.
Sejak kembali dari Makassar pada 2018, Sisil memulai dari puluhan pohon kakao. Kini jumlahnya berkembang menjadi ribuan.
Namun yang ia bangun bukan sekadar kebun, melainkan ruang kerja bagi perempuan yang selama ini terdesak oleh keterbatasan.
Ia melibatkan ibu rumah tangga, lansia, hingga perempuan kepala keluarga dalam proses pembibitan dan perawatan tanaman.
“Yang mendorong saya membangun ini karena kakao bisa dikerjakan oleh ibu-ibu,” katanya.
Melalui sistem upah harian dan pekerjaan yang lebih fleksibel, kebun itu menjadi alternatif bagi perempuan yang tetap harus mengurus rumah tangga.
Mereka bisa bekerja tanpa sepenuhnya meninggalkan dapur, ruang yang selama ini juga menjadi beban utama mereka.
Dalam pandangan akademisi, apa yang dilakukan Sisil menunjukkan bagaimana inisiatif dari bawah bisa membuka kemungkinan baru di tengah krisis.
Guru Besar Tetap Bidang Konservasi Tanah dan Air Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi, Prof. Dr. Zetly Estefanus Tamod, menilai pendekatan seperti ini tidak hanya menciptakan kemandirian ekonomi, tetapi juga memperkuat daya tahan lingkungan.
“Keberlanjutan pertanian itu sangat positif karena menciptakan kemandirian masyarakat,” ujarnya.
Namun, upaya seperti ini belum cukup untuk menjawab persoalan yang lebih luas.
Di banyak tempat lain, mereka tetap harus bertahan dengan cara lama, menghadapi irigasi yang rusak, hasil panen yang menurun, dan beban ganda yang tak berkurang.
Ancaman alih fungsi lahan juga terus menggerus ruang hidup mereka. Bagi Sisil, setiap pohon kakao yang ditanam adalah bentuk perlawanan. Tetapi bagi banyak perempuan lain, bertahan saja sudah menjadi perjuangan yang tidak ringan.

Ketika Ketahanan Ditopang dari Bawah
Tekanan ekonomi dan perubahan lingkungan membuat kelompok ini terus mencari cara untuk bertahan.Mereka membangun jaringan informal dan saling berbagi informasi.
“Kalau ada informasi di mana lokasi pengupasan jagung, kalau ada waktu pasti langsung ikut,” kata Jasmi Kobandaha (50).
Namun upaya ini sering berjalan tanpa dukungan yang memadai dari kebijakan pemerintah. Di atas kertas, krisis itu mengecil. Di lapangan, ia justru membesar di dapur-dapur rumah tangga.
Dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) terbaru, jumlah desa rawan pangan di Bolaang Mongondow justru tercatat hanya enam desa pada 2024.
Enam desa tersebut adalah Kolingangaan (Bilalang), Toraut Tengah (Dumoga Barat), Dumoga III (Dumoga Timur), Siniung (Dumoga), Nanasi (Poigar), dan Sauk (Lolak).
Sementara di desa-desa lain, termasuk Langagon dan sekitarnya, para petani perempuan masih bergulat dengan hasil panen yang tak menentu dan kebutuhan pangan yang harus dipenuhi setiap hari.
Dalam situasi seperti itu, harapan terhadap bantuan menjadi satu-satunya ruang yang tersisa bagi banyak petani kecil.
“Kalau saya pikir semisal ada bibit yang gratis atau bantuan atau apalah, kan masih meringankan kami petani,” kata Risma Sani (44).
Di sisi lain, perubahan struktur ekonomi desa juga semakin mempersempit pilihan.
Selda Pakaya (52) melihat bagaimana banyak warga beralih profesi, termasuk ke sektor pertambangan.
“Dulu masih banyak sawah, sekarang di sini jadi kebun kakao semua,” kata Selda, Rabu, 8 April 2026, saat ditemui di beranda rumahnya, di Desa Tanoyan Utara, Kecamatan Lolayan.
Meski demikian, perubahan itu tidak serta-merta menjawab kebutuhan dasar.
“Alhamdulillah, kalau kana’ atau ada rezeki, tapi kan tetap tidak makan emas, makannya nasi jadi harus beli beras,” ujarnya.
Dalam situasi ini, perempuan tetap menjadi penyangga utama, mengelola rumah tangga, mencari penghasilan tambahan, dan memastikan keluarga tetap bertahan.
“Susah senang harus kami jalani. Ada dan tidak tetap kami hadapi semua,” kata Risma Sani (44).
Di sawah Rafia, tanah tetap retak. Air belum kembali.
Dapur harus tetap menyala, meski krisis itu di atas kertas nyaris tak lagi terlihat.
Dalam dokumen resmi pembangunan daerah, arah pertanian di Bolmong justru digambarkan semakin kuat dan terencana.
Visi-misi kepala daerah terpilih menekankan peningkatan produktivitas melalui penyuluhan, penyediaan sarana, akses permodalan, hingga pembukaan pasar bagi hasil tani.
Di lapangan, air tak mengalir. Biaya produksi terus naik. Hasil panen tak cukup. Namun dapur harus tetap mengepul.

