Penyebaran Sel Kanker Payudara dapat Dipicu Stres

/
Ilustrasi
Ilustrasi (rosediana.net)

Tentangpuan.com – Tidak sedikit perempuan yang mengalami kanker payudara. Kanker yang hanya menyerang perempuan ini kerap menjadi ancaman bagi perempuan-permpuan dengan tingkat stress berlebih. Kanker payudara adalah jenis kanker dengan angka kejadian kanker paling tinggi di Indonesia. Perempuan perlu belajar mengelola stres lebih baik. Sebab riset terbaru mengungkap stres bisa jadi memicu penyebaran sel kanker ke organ tubuh lain.

Menurut catatan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), setiap tahun 2,1 juta perempuan menderita kanker payudara. Penyakit ini juga diperkirakan merenggut nyawa 627 ribu perempuan di berbagai belahan dunia pada 2018.

Di Indonesia, pada 2018 ada 42,1 per 100 ribu penduduk menderita kanker payudara. Sementara angka rata-rata kematiannya 17 per 100 ribu penduduk.

Walaupun kanker payudara adalah salah satu jenis kanker yang paling bisa disembuhkan, ketika sudah bermestasasis–tumbuh dan menyebar–masalah jadi semakin rumit. Dokter mungkin kesulitan menerapkan jenis perawatan yang tepat.

Pasalnya, terapi yang mungkin bisa mengatasi satu jenis tumor mungkin tidak berpengaruh pada yang lain.

Penelitian sebelumnya menunjukkan, paparan terhadap stres kronis (jangka panjang) adalah salah satu faktor yang berkontribusi terhadap pertumbuhan sel kanker pada kanker payudara.

Sekarang, sebuah riset baru yang dilakukan tim dari University of Basel dan University Hospital of Basel di Swiss telah mengungkap hal senada. Temuan mereka menunjukkan, stres bisa memicu penyebaran tumor kanker payudara, mungkin juga mendukung diversifikasi penyakit ini.

Penelitian–yang dilakukan dengan model tikus–menemukan, hormon stres mendukung metastasis kanker payudara. Para ilmuwan juga menyatakan, turunan hormon stres yang terdapat dalam pengobatan antiinflamasi tertentu sebenarnya bisa menumpulkan agen kemoterapi.

“Heterogenitas tumor intra-pasien adalah hambatan untuk pengobatan, karena hal itu menyebabkan perbedaan dalam penanda diagnostik antara tumor primer dan metastasis cocok yang bisa menyebabkan pengobatan tidak memadai,” jelas penulis utama riset, Prof. Mohamed Bentires-Alj.

Karena itu penelitian lanjutan perlu menemukan cara untuk mengatasi ketidakcocokan ini.

Untuk itu, Bentires-Alj dan tim melakukan penelitian menggunakan model tikus dengan kanker payudara. Mereka mempelajari betapa berbedanya tumor asli dari tumor metastasis dengan menilai aktivitas gen tertentu.

Peneliti mencatat, pada tumor metastasis, jenis reseptor yang disebut “reseptor glukokortikoid” sangat aktif. Reseptor ini mengikat hormon stres, termasuk kortisol.

Tim juga menemukan, tikus dengan metastasis memiliki kadar kortisol yang lebih tinggi. Juga hormon stres lain, kortikosteron, daripada tikus yang kankernya belum menyebar.

Para peneliti juga mengamati ketika hormon stres sangat tinggi, mereka mengaktifkan reseptor glukokortikoid. Ini memicu penyebaran sel kanker dan mendukung diversifikasinya.

Reseptor glukokortikoid juga berinteraksi dengan turunan kortisol sintetis–misalnya, deksametason – yang digunakan dokter sebagai antiinflamasi untuk mengatasi beberapa efek samping kemoterapi.

Interaksi ini, tampaknya mengganggu beberapa agen kemoterapi dengan menetralkan efeknya. Inilah yang terjadi dengan obat kemoterapi paclitaxel yang menjadikannya kurang efektif saat berhadapan dengan deksametason.

Berdasarkan hasil ini, para ilmuwan menyarankan dokter untuk berhati-hati saat meresepkan hormon glukokortikoid untuk pengobatan kanker payudara. Dikhawatirkan obat ini malah memicu lebih banyak kerusakan alih-alih perbaikan.

Prof. Bentires-Alj dan tim juga menjelaskan, menghambat reseptor glukokortikoid bisa menjadi pendekatan baru yang bermanfaat dalam pengobatan kanker payudara. “Heterogenitas tumor adalah masalah serius untuk terapi,” jelas Prof. Bentires-Alj.

“Temuan ini menyoroti pentingnya manajemen stres pada pasien, terutama mereka yang menderita kanker payudara triple-negatif. Olahraga ringan dan teknik relaksasi telah terbukti berkorelasi dengan peningkatan kualitas hidup dan kelangsungan hidup yang lebih besar pada pasien,” pungkas Prof. Mohamed Bentires-Alj.

Stres mungkin berbeda bagi setiap orang. Baik dilihat dari aspek penyebab maupun cara mengatasinya.

Jika Anda kesulitan mengelola stres, enam cara berikut mungkin bisa membantu. Saat bisa mengelola stres dengan baik, Anda pun bisa tumbuh menjadi lebih tangguh.

Sumber: Lokadata.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.