Air Makin Berharga, Kebiasaan Pun Berubah

Ilustrasi.

TENTANGPUAN.com – Air yang biasanya mengalir begitu saja dari keran kini mulai diperlakukan berbeda. Di tengah kemarau panjang dan berkurangnya ketersediaan air di sejumlah wilayah, aktivitas sederhana di rumah ikut berubah. Mandi tidak lagi berlama-lama, keran segera ditutup setelah digunakan, sementara air bekas mencuci mulai dipikirkan kembali untuk kebutuhan lain.

Menghemat air perlahan bukan lagi sekadar imbauan. Bagi sebagian keluarga, kebiasaan itu menjadi bagian dari cara menjalani kehidupan sehari-hari.

Air bersih menjadi sesuatu yang harus dihitung penggunaannya.

Ketika persediaan terbatas, setiap aktivitas rumah tangga memiliki pertimbangan baru. Air untuk minum dan memasak menjadi prioritas. Penggunaan untuk mandi, mencuci pakaian, mencuci peralatan makan hingga membersihkan rumah dilakukan dengan lebih terukur.

Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Dalam kondisi tertentu, perubahan bisa dimulai dari cara seseorang membuka keran air di pagi hari.

Menggunakan air seperlunya

Salah satu cara paling sederhana untuk menghemat air adalah mengurangi penggunaan yang tidak benar-benar diperlukan.

Keran tidak dibiarkan terus mengalir ketika menyikat gigi. Air untuk mencuci pakaian digunakan dengan perhitungan. Aktivitas mencuci kendaraan atau membersihkan halaman juga dapat dikurangi ketika persediaan air sedang terbatas.

Air yang masih layak digunakan juga bisa dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan lain, selama penggunaannya tetap memperhatikan kebersihan.

Kebiasaan semacam ini penting karena penggunaan air rumah tangga ternyata memiliki ruang yang cukup besar untuk dihemat.

Penelitian “Identification of the Characteristics and Patterns of Clean Water Consumption at the Household Level” yang melibatkan peneliti dari Universitas Indonesia dan Indonesia Water Institute mengidentifikasi potensi penghematan air dari enam aktivitas rumah tangga, yakni mandi, menyikat gigi, mencuci tangan dan wajah, mencuci piring, mencuci pakaian, serta membersihkan lantai.

Artinya, penghematan air tidak harus menunggu krisis. Rumah tangga dapat mulai mengaturnya dari aktivitas yang dilakukan setiap hari.

Ketika hemat air menjadi kebiasaan

Penelitian terbaru mengenai perilaku penggunaan air rumah tangga di kawasan perkotaan dan peri-urban Surabaya dan Sidoarjo juga menunjukkan pentingnya perilaku masyarakat dalam menghadapi tekanan terhadap ketersediaan air.

Riset yang diterbitkan pada 2026 tersebut menemukan bahwa perilaku pengelolaan air rumah tangga berkaitan dengan persepsi masyarakat, peran pemerintah, serta kondisi lingkungan. Rumah tangga di wilayah peri-urban dalam penelitian itu menunjukkan perilaku pengelolaan air yang lebih baik dibandingkan rumah tangga di wilayah perkotaan.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan air bukan hanya soal berapa banyak air yang tersedia, tetapi juga bagaimana manusia menggunakannya.

Ketika masyarakat mulai menyadari bahwa air tidak selalu tersedia dalam jumlah yang sama, kebiasaan menggunakan air pun dapat berubah.

Dari yang sebelumnya tidak memikirkan berapa banyak air yang digunakan, menjadi lebih berhitung. Dari membiarkan keran terbuka, menjadi terbiasa menutupnya. Dari menggunakan air sekali pakai, mulai mencari kemungkinan pemanfaatan kembali.

Bukan berarti mengurangi kebutuhan dasar

Menghemat air bukan berarti mengurangi kebutuhan dasar manusia.

Air untuk minum, memasak, kebersihan tubuh, dan sanitasi tetap menjadi kebutuhan utama. UNICEF, misalnya, mencatat bahwa dalam kondisi darurat kebutuhan minimum air berada pada kisaran 7,5–15 liter per orang per hari, sementara kebutuhan untuk kebersihan dasar dapat membutuhkan sekitar 20 liter per orang per hari.

Karena itu, gaya hidup hemat air seharusnya bukan sekadar menggunakan air sesedikit mungkin, tetapi menggunakan air secara bijak sesuai kebutuhan.

Kebiasaan ini menjadi semakin penting ketika musim kering membuat sumber air berkurang.

Menghemat air adalah bentuk menjaga sumber daya

Penghematan di tingkat rumah tangga memang terlihat kecil. Satu keran yang ditutup lebih cepat atau satu ember air yang digunakan secara efisien mungkin tidak langsung terlihat dampaknya.

Namun, jika dilakukan oleh banyak rumah tangga secara bersamaan, kebiasaan tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi tekanan terhadap sumber daya air.

Secara hukum, pengelolaan air di Indonesia juga menempatkan konservasi sebagai bagian penting dalam pengelolaan sumber daya air. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air mengatur konservasi sumber daya air dan menegaskan pentingnya pengelolaan air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.

Kebijakan nasional itu kemudian diperkuat melalui Perpres Nomor 37 Tahun 2023 tentang Kebijakan Nasional Sumber Daya Air, yang antara lain memuat kebijakan peningkatan konservasi sumber daya air secara berkelanjutan serta peningkatan peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air.

Pada akhirnya, menghemat air bukan hanya soal menghadapi satu musim kemarau.

Ia bisa menjadi kebiasaan baru: menggunakan air secukupnya, tidak membiarkannya terbuang percuma, dan memahami bahwa air bersih bukan sumber daya yang tidak terbatas.

Ketika air mulai sulit didapat, kebiasaan sederhana di rumah menjadi cara paling dekat untuk ikut menjaganya.