TENTANGPUAN.com – Kepulan asap dan kobaran api terlihat dari kawasan pegunungan perbatasan Inobonto-Langagon, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, Jumat (14/8/2026). Api membakar vegetasi di lereng gunung dan terus menyebar di tengah kondisi tanaman yang mengering.
Kebakaran tersebut membuat warga di sekitar Kelurahan Inobonto, khususnya kawasan kilo Kaiya, ikut cemas. Sebab, di sekitar pegunungan terdapat sejumlah ladang yang masih menjadi sumber penghidupan warga.
Salmi Potabuga, warga Kelurahan Inobonto kilo Kaiya, mengaku terkejut ketika pertama kali melihat kobaran api dari arah pegunungan.
Ia mengatakan api terlihat cepat menyebar karena kondisi tumbuhan yang kering ditambah hembusan angin.
“Saya terkejut ketika pertama kali melihat api dari atas gunung. Tumbuhan yang kering ditambah dengan angin yang bertiup kencang membuat api lebih cepat menyebar,” ujar Salmi.
Salmi berharap kebakaran segera dapat dipadamkan. Kekhawatiran warga bukan hanya terhadap permukiman, tetapi juga terhadap ladang-ladang petani yang berada di sekitar kawasan pegunungan.
“Ia berharap api bisa segera dipadamkan, mengingat saat ini banyak ladang petani di sekitar pegunungan,” katanya.
Kondisi tersebut membuat kebakaran di kawasan pegunungan Inobonto-Langagon menjadi perhatian warga. Jika api terus bergerak turun atau meluas, ladang yang berada di sekitar kawasan tersebut berpotensi ikut terdampak.

Damkar Tak Bisa Menjangkau Titik Api
Petugas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bolaang Mongondow yang tiba di lokasi menghadapi kendala medan. Titik api berada di atas gunung sehingga mobil pemadam tidak dapat mendekat langsung ke lokasi kebakaran.
Delfianto Pongoliu (43), petugas Damkar Bolmong, mengatakan pihaknya hanya dapat melakukan penjagaan dari sisi jalan. Langkah itu dilakukan untuk mencegah api bergerak menuju permukiman dan badan jalan.
“Kalau kebakaran ini, laporannya masuk tadi jam dua siang. Karena tidak bisa dijangkau karena di atas gunung, ya kami hanya bisa berjaga di sisi jalan agar kebakarannya tidak meluas ke rumah warga di pemukiman, atau semakin mendekat ke area jalan ini,” ujar Delfianto.
Petugas belum dapat memastikan luas kawasan yang terbakar. Api masih menyebar sehingga pengukuran luasan belum memungkinkan dilakukan.
“Kalau dilihat kebakaran hutan ini sudah cukup luas, namun untuk berapa luasan pastinya kami belum bisa mengkalkulasi berapa hektar, apalagi saat ini api masih menyebar terus,” katanya.
Titik awal api juga belum diketahui secara pasti. Namun, petugas melihat kobaran api berasal dari sekitar kawasan kebun jagung yang mengering.
“Titik mula api kami belum tahu, tapi kemungkinan dari ladang warga. Tadi siang, kami lihat titik apinya dari kebun jagung yang kering di sana. Sekitar seratus meter dari sini,” kata Burhan Kaawoan (45).
Dugaan tersebut masih merupakan pengamatan petugas di lapangan dan belum dapat memastikan penyebab kebakaran.

Lima Petugas Siaga 24 Jam
Sebanyak lima petugas Damkar Bolmong disiagakan di lokasi. Mereka harus bertahan untuk memantau perkembangan api dan mengantisipasi kemungkinan kebakaran meluas.
“Kami yang bertugas ada lima orang, namun yang lainnya masih pergi mengambil makanan, karena kami akan siaga 1×24 jam,” ujar Delfianto.
Kebakaran di Inobonto-Langagon juga terjadi di tengah meningkatnya laporan kebakaran yang diterima petugas selama Agustus.
Menurut Delfianto, hampir setiap hari regunya menerima laporan kebakaran.
“Kalau di regu kami, pada bulan Agustus ini, laporan kebakaran yang masuk ada setiap harinya. Setiap piket selalu ada laporan. Bahkan dalam dua titik minimal bisa ada dua titik,” katanya.
Sehari sebelumnya, petugas menangani beberapa titik kebakaran, termasuk di Inobonto, kawasan belakang rumah Bupati Bolmong, muka gilingan menuju arah Kaiya, dan Lolan.
Bolmong saat ini memiliki tiga unit mobil pemadam kebakaran. Satu unit disiagakan di Dumoga, sedangkan dua unit lainnya berada di wilayah berbeda.
“Bolmong memiliki tiga unit mobil pemadam kebakaran, satu stand by di Dumoga, dan di wilayah ini ada dua. Ini satu dan satu lagi ada di arah Maelang di Sauk sana,” ujar Delfianto.
Air Menjadi Persoalan
Keterbatasan akses menuju titik api bukan satu-satunya persoalan. Petugas juga harus memastikan ketersediaan air jika api mulai mendekati kawasan yang dapat dijangkau.
Untuk mengisi mobil pemadam, petugas mengandalkan hydrant yang berada di kawasan PT Conch. Sementara hydrant lain di depan Kantor Camat Bolaang, Inobonto, sedang dalam perbaikan.
“Untuk mengisi air di mobil, kami mengandalkan hydrant yang saat ini ada di PT Conch. Selain di PT Conch, terdapat juga titik hydrant lainnya, yakni di depan kantor Camat Bolaang, di Inobonto, tetapi saat ini sedang dalam perbaikan,” kata Delfianto.
Sebagai alternatif, petugas memanfaatkan sungai-sungai terdekat yang memungkinkan untuk disedot. Mobil Damkar yang digunakan memiliki kapasitas sekitar 4.000 liter.
Kebakaran di Tengah Puncak Kemarau
Kebakaran Inobonto-Langagon terjadi ketika sebagian besar wilayah Indonesia memasuki periode puncak musim kemarau. BMKG memprediksi Agustus 2026 menjadi bulan dengan cakupan puncak musim kemarau terbesar, yakni 369 Zona Musim atau sekitar 48,84 persen luas daratan Indonesia.
BMKG juga mencatat musim kemarau 2026 diprediksi lebih kering dan lebih panjang dibanding kondisi normal di banyak wilayah. Pada pemutakhiran Juni, sebanyak 482 Zona Musim atau 56,18 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami musim kemarau dengan sifat bawah normal atau lebih kering dari biasanya.
Kondisi El Niño juga telah menguat. Pada 28 Juli 2026, BMKG menyatakan El Niño telah berada pada kategori kuat dan berpotensi meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan. BMKG menyebut risiko karhutla meningkat mulai Juli dan mencapai puncaknya pada Agustus-September.
Namun, kondisi kemarau dan El Niño tidak dapat dijadikan kesimpulan bahwa keduanya menjadi penyebab kebakaran di Inobonto-Langagon. Dari keterangan petugas, sumber awal api masih belum diketahui.
Yang sudah terlihat di lapangan adalah dampaknya terhadap warga. Bagi Salmi dan warga lainnya, kobaran api di pegunungan bukan sekadar pemandangan dari kejauhan. Di balik lereng yang terbakar terdapat ladang-ladang yang menjadi ruang kerja dan sumber penghidupan masyarakat.
Karena itu, harapan warga sederhana: api segera padam sebelum menjalar lebih jauh dan mencapai ladang-ladang petani di sekitar pegunungan Inobonto-Langagon.

