Dari Pondok Air Minum hingga Kurikulum, MTs Negeri 1 Boltim Bangun Ekosistem Ekoteologi

/
Workshop Pengembangan Model Kokurikuler Berbasis Ekoteologi dan Kick Off Gerakan Bersama Ekoteologi di MTs Negeri 1 Bolaang Mongondow Timur menjadi langkah awal membangun ekosistem pembelajaran yang mengintegrasikan Ekoteologi, Kurikulum Berbasis Cinta, deep learning, serta Madrasah Ramah Anak, Jumat (24/7/2026), (Foto: Pool).

TENTANGPUAN.com – Sebuah pondok sederhana di lingkungan MTs Negeri 1 Bolaang Mongondow Timur (Boltim) menjadi simbol perubahan yang tengah dibangun madrasah itu. Pondok yang diberi nama Pondok Ekoteologi tersebut menyediakan layanan air minum isi ulang gratis bagi seluruh warga madrasah sebagai upaya mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai. Lebih dari itu, keberadaannya menjadi bagian dari ikhtiar menanamkan kesadaran bahwa menjaga kelestarian lingkungan merupakan bagian dari pengamalan nilai-nilai keagamaan.

Semangat itulah yang kemudian diperkuat melalui Workshop Pengembangan Model Kokurikuler Berbasis Ekoteologi yang dirangkaikan dengan Kick Off Gerakan Bersama Ekoteologi, di MTs Negeri 1 Bolaang Mongondow Timur, Jumat (24/7/2026).

Mengusung tema “Penguatan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, Deep Learning, dan Kokurikuler melalui perancangan tema pembelajaran, peluncuran Program Pembiasaan Ekoteologi (60 Hari Pertama), serta penguatan budaya belajar menuju Madrasah Berkelanjutan dan Madrasah Ramah Anak,” kegiatan tersebut menjadi tonggak awal membangun ekosistem ekoteologi yang terintegrasi dalam seluruh proses pembelajaran di madrasah.

Kepala MTs Negeri 1 Bolaang Mongondow Timur, Santhy Isa, (Foto: Koleksi pribadi).

Kepala MTs Negeri 1 Bolaang Mongondow Timur, Santhy Isa, mengatakan pengembangan ekoteologi merupakan bagian dari tanggung jawab madrasah dalam mengimplementasikan salah satu program prioritas Kementerian Agama.

“Ekoteologi adalah salah satu program prioritas Kementerian Agama. Sebagai satuan pendidikan yang berada di bawah Kementerian Agama, kami bertanggung jawab untuk menjalankan program itu secara utuh dan baik,” kata Santhy saat dihubungi Tentangpuan.com, Sabtu (25/7/2026).

Menurutnya, implementasi program tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi diwujudkan melalui kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan setiap hari oleh seluruh warga madrasah.

Gerakan Bersama Ekoteologi di MTs Negeri 1 Bolaang Mongondow Timur menjadi langkah awal membangun ekosistem pembelajaran yang mengintegrasikan Ekoteologi, Kurikulum Berbasis Cinta, deep learning, serta Madrasah Ramah Anak.

“Di madrasah kami ada Pondok Ekoteologi. Pondok itu menjadi lokasi pengambilan air isi ulang secara gratis bagi seluruh warga madrasah sebagai upaya mengurangi produksi sampah plastik di lingkungan sekolah,” ujarnya.

Santhy menjelaskan, penguatan ekoteologi juga tidak dapat dipisahkan dari status MTs Negeri 1 Bolaang Mongondow Timur sebagai satu-satunya lokus standardisasi nasional Madrasah Ramah Anak di Provinsi Sulawesi Utara.

“Berangkat dari itu kami memahami bahwa lingkungan juga merupakan bagian dari hak anak. Dengan ekoteologi kami ingin menciptakan lingkungan belajar yang sehat, udara yang bersih, air bersih, sanitasi yang baik, ruang hijau, kantin sehat, pengelolaan sampah yang baik, partisipasi aktif peserta didik, pembelajaran yang menyenangkan, hingga penghargaan terhadap suara anak. Dengan demikian, ekoteologi mendukung seluruh prinsip Madrasah Ramah Anak,” katanya.

Guru, tenaga kependidikan, dan peserta workshop berkomitmen mendukung implementasi Program Pembiasaan Ekoteologi sebagai bagian dari upaya membangun madrasah yang berkelanjutan, ramah anak, serta berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik.

Ia menilai madrasah merupakan ruang yang tepat untuk menanamkan karakter peduli lingkungan karena proses pendidikan berlangsung setiap hari.

“Madrasah adalah wadah yang tepat untuk mengimplementasikan program ini. Regulasi juga sudah jelas. Kurikulum Berbasis Cinta dan Sekolah Ramah Anak adalah bagian dari salah satu program prioritas yaitu pendidikan unggul, ramah, dan terintegritas,” ungkapnya.

Dirintis Sejak 2019

Komitmen terhadap pelestarian lingkungan di MTs Negeri 1 Bolaang Mongondow Timur sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum ekoteologi menjadi program prioritas nasional.

Santhy bercerita, pada 2019 madrasah tersebut dipercaya mewakili Provinsi Sulawesi Utara pada ajang Sekolah Sehat Tingkat Nasional. Dari momentum itu lahir berbagai inisiatif sederhana untuk memanfaatkan lahan yang tersedia.

“Kami memulai dari hal-hal sederhana, memanfaatkan lahan yang terbatas untuk menanam apa saja yang bermanfaat. Ada ubi kayu, terong, pisang, alpukat, jahe, kunyit, gedi, hingga berbagai tanaman obat,” tuturnya.

Galon isi ulang tersediah di halaman madrasah, (Foo: Pool).

Namun perjalanan itu sempat terhenti akibat pandemi Covid-19.

“Ketika pandemi datang, tanaman tidak lagi terawat. Kantin sehat yang sudah kami bangun dengan segala keterbatasan anggaran juga ikut rusak. Setelah pandemi berakhir, kami mulai membenahinya kembali secara bertahap,” katanya.

Perlahan, hasilnya mulai terlihat. Berbagai tanaman kembali dipanen dan dimanfaatkan oleh warga madrasah.

“Jahe bisa dipanen dan dijual, sedangkan ubi kayu dan pisang dapat kami konsumsi bersama di madrasah,” ujarnya.

Memasuki 2025, ketika Kementerian Agama mendorong implementasi program ekoteologi di seluruh madrasah, guru dan tenaga kependidikan kemudian menyusun arah baru pengembangan sekolah.

“Dari situ muncul ide besar, bagaimana jika dua program besar Kementerian Agama dipadukan di madrasah, yakni Ekoteologi dan Kurikulum Berbasis Cinta. Akhirnya lahirlah konsep membangun ekosistem ekoteologi yang terintegrasi,” kata Santhy.

Upaya mengurangi sampah plastik denganm menyediakan galon isu ulang dii halaman madrasah, (Foto: Pool).

Membangun Ekosistem Pembelajaran

Workshop tersebut menghadirkan Direktur Pusat Pendidikan Mondowana, Siti Hadija Junaidi, sebagai narasumber. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak sekadar membahas penyusunan program kokurikuler, tetapi menjadi langkah awal membangun sistem pembelajaran yang menyatukan nilai-nilai agama, kepedulian terhadap lingkungan, dan penguatan karakter peserta didik.

“Workshop ini bukan sekadar memberikan pemahaman mengenai kokurikuler, tetapi menjadi ikhtiar membangun ekosistem ekoteologi yang terintegrasi dengan Kurikulum Berbasis Cinta, deep learning, dan Madrasah Ramah Anak,” kata Siti.

Ia menjelaskan bahwa workshop dirancang untuk menghasilkan fondasi awal pengembangan Model Kokurikuler Berbasis Ekoteologi di MTs Negeri 1 Bolaang Mongondow Timur. Luaran yang disusun meliputi Roadmap Perkembangan Peserta Didik Kelas VII–IX, Master Matrix Tema Kokurikuler, Canvas Perancangan Kokurikuler, Draft Kartu Desain Kokurikuler, Draft Program Pembiasaan Ekoteologi (60 Hari Pertama), serta Deklarasi Gerakan Bersama Ekoteologi dan pembentukan Tim Penggerak.

Siswa MTs Negeri 1 Boltim saat membuat ecobrick, (Foto: Pool).

Seluruh dokumen tersebut akan menjadi acuan pelaksanaan pembelajaran dan pembiasaan di lingkungan madrasah.

“Implementasinya sudah jelas. Semua terjadwal, tema besar dan dokumen pendukung sudah disusun. Guru yang menjadi penanggung jawab di setiap jenjang juga sudah ditetapkan lengkap dengan timnya. Pelaksanaannya nanti akan kami evaluasi bersama secara berkala,” jelas Santhy.

Program Pembiasaan Ekoteologi selama 60 hari pertama juga akan dilaksanakan secara serentak oleh seluruh sivitas madrasah, mulai dari kepala madrasah, guru, tenaga kependidikan, hingga peserta didik sebagai tahap awal membangun budaya sekolah yang peduli lingkungan.

Sejalan dengan Arah Pendidikan Global

Upaya yang dilakukan MTs Negeri 1 Bolaang Mongondow Timur sejalan dengan konsep Education for Sustainable Development (ESD) yang terus didorong UNESCO.

Dalam evaluasi tengah periode Education for Sustainable Development for 2030 Framework (2021–2024) yang dipublikasikan pada 2026, UNESCO menegaskan bahwa pendidikan berkelanjutan tidak cukup hanya memasukkan isu lingkungan ke dalam kurikulum, tetapi harus membangun pengetahuan, keterampilan, nilai, dan perilaku peserta didik melalui budaya sekolah, pembelajaran, serta keterlibatan seluruh warga sekolah dalam aksi nyata menuju keberlanjutan.

Deklarasi Gerakan Ekologi MTs N 1 Boltim, (Foto: Pool).

Pendekatan tersebut tercermin dalam model yang sedang dikembangkan MTs Negeri 1 Bolaang Mongondow Timur, yakni mengintegrasikan ekoteologi ke dalam kurikulum, pembiasaan, pengelolaan lingkungan sekolah, hingga keterlibatan aktif peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, Santhy berharap seluruh rangkaian program tersebut mampu membentuk karakter warga madrasah yang tidak hanya memiliki kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga menjadikan nilai tersebut sebagai budaya.

“Harapan saya hanya satu, pembiasaan program ekoteologi ini akan berdampak besar terhadap terbangunnya karakter warga madrasah, perubahan perilaku positif, hingga tumbuhnya budaya cinta lingkungan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari implementasi Panca Cinta dalam Kurikulum Berbasis Cinta,” tutupnya.