Persoalan Sampah Kotamobagu Diangkat dalam MATAMUDA, Siswa Diajak Memahami Kondisi Daerah

/
Dari kiri: Afania Arditya, Siti Hadija Junaidi, Nia Paputungan, dan Deska Aura, (Foto: Koleksi MAN 1 Kotamobagu).

TENTANGPUAN.com – Persoalan sampah di Kota Kotamobagu tidak hanya menjadi bahan diskusi pemerintah dan masyarakat. Kini, isu tersebut juga mulai dibawa ke ruang kelas sebagai media pembelajaran bagi generasi muda.

Hal itu terlihat dalam kegiatan Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) 2026 di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kotamobagu. Sebanyak 406 siswa baru diajak memahami berbagai persoalan nyata yang tengah dihadapi daerah mereka, mulai dari kondisi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Poyowa Kecil, tantangan pengelolaan sampah, hingga pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam mengurangi timbulan sampah.

Materi bertajuk Belajar Menjadi Generasi Penjaga Bumi: Dari Sekolah Menuju Perubahan Kota Kotamobagu tersebut dibawakan Direktur Pusat Pendidikan Mondowana sekaligus dosen IAI Muhammadiyah Kotamobagu, Siti Hadija Junaidi, S.Pd., M.Pd.

Tidak sekadar mengikuti masa orientasi, ratusan siswa baru MAN 1 Kotamobagu diajak memahami berbagai persoalan lingkungan di Kota Kotamobagu serta peran generasi muda dalam menjaga bumi melalui aksi-aksi sederhana yang dimulai dari lingkungan sekolah. (Foto: Koleksi MAN 1 Kotamobagu)

Berbeda dari materi lingkungan pada umumnya, Siti memilih menggunakan berbagai persoalan yang terjadi di Kota Kotamobagu sebagai bahan diskusi utama. Salah satu referensi yang digunakan ialah berbagai hasil liputan Zonautara.com dan Tentangpuan.com mengenai tata kelola sampah.

Menurutnya, siswa akan lebih mudah memahami persoalan lingkungan apabila contoh yang digunakan berasal dari daerah tempat mereka tinggal.

“Saya ingin mereka memahami bahwa persoalan sampah bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka. Itu terjadi di Kota Kotamobagu, di tempat mereka tinggal. Karena itu saya memilih menggunakan contoh-contoh nyata agar muncul rasa memiliki dan tanggung jawab untuk ikut menjadi bagian dari solusinya,” ujarnya usai kegiatan, Selasa (14/7/2026).

Ia menjelaskan, awalnya panitia meminta dirinya membawakan materi mengenai pengelolaan sampah untuk pembangunan berkelanjutan. Namun setelah mempelajari karakter peserta dan kondisi sekolah, ia memilih pendekatan yang lebih kontekstual.

“Saya mengubah pendekatannya menjadi Belajar Menjadi Generasi Penjaga Bumi, karena saya ingin siswa MAN memahami bahwa mereka memiliki peran penting dalam masa depan lingkungan Kota Kotamobagu,” katanya.

Sebelum menyusun materi, Siti terlebih dahulu mempelajari kondisi lingkungan daerah sekaligus berbagai program yang telah dijalankan MAN 1 Kotamobagu. Dari hasil observasi tersebut, ia menemukan bahwa madrasah tersebut bukan memulai dari nol.

Siswa baru MAN 1 Kotamobagu mengikuti kegiatan Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) 2026. Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapat pembekalan mengenai pentingnya membangun budaya peduli lingkungan melalui materi “Belajar Menjadi Generasi Penjaga Bumi: Dari Sekolah Menuju Perubahan Kota Kotamobagu” yang disampaikan Direktur Pusat Pendidikan Mondowana, Siti Hadija Junaidi. (Foto: Koleksi MAN 1 Kotamobagu).

“Ternyata mereka sudah mendapatkan penghargaan Adiwiyata Mandiri. Mereka juga konsisten menjalankan berbagai program seperti pengolahan sampah, Youth Camp, clean up sungai, membuat ecobrick, hingga berbagai kegiatan konservasi,” ungkapnya.

Karena itu, materi yang disampaikan tidak lagi berfokus pada teknis pengelolaan sampah. Fokus utamanya ialah membangun cara berpikir bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.

“Regulasi sudah mewajibkan, begitu juga nilai-nilai agama mengajarkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab menjaga bumi. Maka fokus saya adalah membangun pengetahuan, membangun kesadaran, kemudian mendorong mereka melakukan aksi,” katanya.

Pendekatan tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam mengurangi sampah sejak dari sumber melalui prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R).

MATAMUDA 2026 MAN 1 Kotamobagu menghadirkan pembelajaran yang berbeda. Sebanyak 406 siswa baru tidak hanya dikenalkan dengan lingkungan madrasah, tetapi juga diajak menjadi “Generasi Penjaga Bumi” melalui edukasi pengelolaan sampah, diskusi persoalan lingkungan Kota Kotamobagu, dan tantangan aksi selama tujuh hari. (Foto: Koleksi MAN 1 Kotamobagu).

Selain itu, laporan Global Waste Management Outlook 2024 yang diterbitkan United Nations Environment Programme (UNEP) bersama International Solid Waste Association (ISWA) juga menegaskan bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan melalui pembangunan infrastruktur, tetapi membutuhkan perubahan perilaku masyarakat sejak dari sumbernya.

Sebagai bentuk implementasi, para siswa kemudian diajak mengikuti Challenge 7 Hari Menjadi Penjaga Bumi. Mereka diminta menjalankan berbagai aksi sederhana, mulai dari memilah sampah, membawa tumbler, mengurangi plastik sekali pakai, melakukan pengomposan, mengajak keluarga menerapkan prinsip 3R, membersihkan lingkungan sekitar, hingga menuliskan refleksi mengenai pengalaman mereka menjaga bumi.

Materi yang mengangkat persoalan nyata di Kota Kotamobagu tersebut memicu diskusi kritis di kalangan peserta.

Muhammad Fadil Fais Fardiansyah mempertanyakan berbagai program lingkungan yang telah dijalankan pemerintah daerah.

“Apa program lingkungan yang sudah ditetapkan di Kotamobagu? Dan apa dampaknya bagi warga Kota Kotamobagu?” tanyanya.

Sementara itu, Arki Suratinoyo menyoroti masa depan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) apabila kapasitasnya telah penuh.

“Apa tindakan yang akan diambil pemerintah jika TPA sudah penuh, walaupun masyarakat sudah mengumpulkan dan mendaur ulang sampah? Mengapa pemerintah tidak membuat fasilitas untuk mendaur ulang sampah organik dan anorganik? Apakah karena efisiensi anggaran?” ujarnya.

Bagi pengurus OSIS MAN 1 Kotamobagu, Nia Paputungan, pendekatan pembelajaran tersebut memberikan perspektif baru.

“Saya jadi tahu bahwa apa yang selama ini dianggap sampah ternyata memiliki nilai ekonomi yang tinggi apabila dikelola dengan baik. Materi ini juga membuat kami lebih sadar bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang kami lakukan setiap hari,” katanya.

Melalui pendekatan berbasis persoalan lokal, MATAMUDA 2026 tidak hanya menjadi ajang pengenalan lingkungan sekolah. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang belajar yang menghubungkan peserta didik dengan realitas di daerahnya sendiri, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa solusi atas persoalan lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan setiap hari.