TENTANGPUAN.com – Harga kebutuhan pokok yang terus naik, membuat para pedagang kecil mulai merasakan tekanan ekonomi yang semakin berat. Kondisi itu turut memengaruhi kehidupan rumah tangga masyarakat, terutama kalangan ibu-ibu yang harus mengatur pengeluaran dapur setiap hari.
Mas Asep (49), tukang sayur keliling di Kota Kotamobagu, turut menyuarakan keresahannya. Menurutnya saat ini masyarakat harus lebih bijak dalam mengelola belanja rumah tangga.
Ia mengatakan, kondisi ekonomi membuat daya beli warga menurun, sementara harga barang di pasar terus meningkat.
“Saya hanya bisa terus berpesan buat para ibu-ibu, untuk pintar-pintar mengelolah dapur. Ekonomi sedang tidak baik-baik saja,” kata Mas Asep, Jumat, (8/5/2024), saat bertemu dengan ibu-ibu komplek di Lorong Ar-Rayyan, Kulurahan Mongkonai Barat.
Ia mengaku kini harus mengeluarkan modal lebih besar untuk membeli bahan dagangan di pasar. Namun dengan modal yang sama seperti sebelumnya, jumlah barang yang didapat justru semakin sedikit.
“Perubahan itu terasa sekali,” ujarnya.
Kenaikan harga BBM dan biaya distribusi, menurutnya, ikut memengaruhi harga sayur dan kebutuhan pokok lainnya. Kondisi itu membuat pedagang kecil kesulitan menentukan harga jual.
“Sekarang saya jadi bingung mau jual sayur-mayur ini dengan harga berapa. Pokoknya buat ibu-ibu jangan boros. Asal masih bisa makan sudah alhamdulillah,” katanya.
Kadang, Mas Asep mengungkapkan bahwa ada rasa sedih saat ketemu pelanggan yang tidak mampu lagi membeli dagangannya. Beberapa kali karena iba ia harus mengratiskan.
“Tapi mau bagaimana. Kalau ikut kata hati nanti saya yang tidak makan,” katanya.
Keluhan serupa juga dirasakan Diana, seorang ibu rumah tangga yang mengaku pendapatan keluarganya semakin menurun dalam beberapa bulan terakhir. Di sisi lain, biaya kebutuhan rumah tangga terus meningkat.
“Sekarang semua serba susah. Pendapatan menurun, tapi kebutuhan rumah tangga terus naik. Kadang uang belanja cepat habis padahal barang yang dibeli tidak banyak,” ujar Diana.
Ia mengatakan kini lebih sering mengurangi jumlah belanja dan memilih kebutuhan yang dianggap paling penting agar dapur tetap bisa berjalan.
Kondisi yang dirasakan warga tersebut sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam rilis BPS pada 8 April 2025, Indonesia mengalami inflasi tahunan sebesar 1,03 persen dengan kenaikan harga terjadi pada sejumlah kelompok kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, sejumlah ekonom juga menyoroti melemahnya daya beli masyarakat. Pada Mei 2025, BPS mencatat deflasi bulanan sebesar 0,37 persen yang dinilai sebagian ekonom sebagai indikasi melemahnya konsumsi rumah tangga.
Data lain menunjukkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi salah satu penyumbang utama tekanan inflasi di Indonesia.
Bagi masyarakat kecil seperti Mas Asep dan Diana, situasi ekonomi hari ini bukan sekadar angka statistik. Dampaknya dirasakan langsung di dapur rumah tangga, ketika harga kebutuhan naik sementara penghasilan harian tidak ikut bertambah.

