TENTANGPUAN.com – Tradisi Lebaran Ketupat di Desa Buyat, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), kembali menyedot antusiasme warga dari berbagai daerah, Minggu (19/4/2026). Sejak pagi, arus kedatangan masyarakat terlihat meningkat, menandai kuatnya tradisi ini sebagai ruang silaturahmi tahunan.
Bersama rombongan keluarga, Sri Murniyati bergegas menuju Desa Buyat dari Kota Kotamobagu. Perjalanan yang cukup jauh tak menyurutkan semangatnya untuk menghadiri perayaan tersebut.
“Iya, karena lumayan jauh, kami mempersiapkan bekal di perjalanan,” ujar Sri Murniyati.
Hal serupa juga dirasakan Fitri Mokodongan, warga Desa Toruakat, Kabupaten Bolaang Mongondow, yang setiap tahun menyempatkan diri datang ke Buyat.
“Memang setiap tahun Buyat selalu mengadakan Lebaran Ketupat ini,” kata Fitri.
Antusiasme juga datang dari rombongan majelis taklim. Jau Syukur, warga Kotamobagu, mengaku datang bersama kelompoknya untuk merasakan langsung suasana Lebaran Ketupat di Buyat.
“Kami datang bersama rombongan majelis taklim. Selain silaturahmi, ini juga jadi momen kebersamaan antaranggota,” ujar Jau.
Di Desa Buyat sendiri, persiapan telah dilakukan sejak beberapa hari sebelumnya. Warga, terutama perempuan, menjadi garda terdepan dalam menyiapkan hidangan khas yang menjadi simbol utama perayaan.
Tin Gobel (34), warga Buyat, mengaku mulai memasak sejak sehari sebelum acara. Ia bersama anggota keluarga lainnya menyiapkan ketupat, opor ayam, hingga aneka kue tradisional.
“Biasanya dari kemarin sudah mulai masak. Ketupat harus banyak karena tamu yang datang juga banyak. Hampir setiap rumah terbuka untuk siapa saja,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Sartika Mokodompit (42). Ia menyebut, proses memasak menjadi bagian penting yang tidak terpisahkan dari tradisi Lebaran Ketupat.
“Ini bukan hanya soal makanan, tapi kebersamaan. Kami masak bersama keluarga, bahkan tetangga juga saling bantu. Suasananya memang selalu ramai,” katanya.
Sartika menjelaskan bahwa Lebaran Ketupat telah menjadi tradisi turun-temurun yang terus dijaga oleh masyarakat.

