Berkisah Aku

/
Lombok
Lombok, Nusa Tenggara Barat, (Foto: Dokumen pribadi).

1/

Tak lama aku ke dunia, di tanggal yang sama, tentu dengan tahun berbeda, PPKI melakukan rapat pertamanya. Kata ayahku, sehari sebelumnya, Soekarno-Hatta telah memproklamirkan kemerdekaan.

Pulau Gangga, Likupang Barat, Minahasa Utara.

2/

Segalaku Ayah

Siapa yang menempatkan air di mataku ini, Ayah? Siapa yang telah mengirimiku perasaan kalah ini. Oh, tak sekalipun aku memesan kesakitan putih keji yang disayatkan ke kemarahanku, benci, benci, benci!

Tapi, Ayah, benarkah kemarahan lebih berguna daripada keputusasaan? Benarkah bila telah tak terbendung luap menilapku, kubelokkan saja marah besarku, sebagai daya hebat untuk mengampuni. Terutama mengampuni hatiku.

Untuk bangkit dari kejatuhan yang tanpa cinta, dan alasan-alasan mengasihani diri, yang bahkan lebih kumurkai, dari koyak belati emosi liarku.

Segalaku Ayah, sekelumit aku, rasa hatiku, setidaknya kau bisa mengangguk setuju pada tindak-tandukku, yang tak bisa dinalar oleh seluruh penduduk bumi. Bukankah kau pernah mengajariku, menjadi siapa yang bukan aku.

Dan mungkin, Ayah, air mataku akan aku tempatkan di sekaan jemarimu. Segalaku, cinta nyata diserakkan cinta manusia, yang getir dan berluka, tetap dipikulmu. Aku.


Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

3/

Cinta Pertama

Sungguh, cinta pertamaku bukanlah lelaki tampan, yang pesonanya tak mampu ditolak, dan keberadaannya adalah titik tolak kebijaksanaanku, atas hidup yang tak beranjak lima belas tahun.

Cinta pertamaku dilahirkan langit malam, saat aku enam atau tujuh tahun, dia terbit dari rahim kegelapan sempurna, dan karnanyalah warna jiwaku merata, dan napasku tertata.

Aku punya melodi dalam sumbang dan riuh jiwa, akhirnya. Segala yang silang sengkarut bisa diurutkan, hingga ke batas aku bisa merasa baik-baik saja, dan menjalani hariku dengan riang gembira. Seperti anak-anak gembala yang lain. Meski, padang itu tak selalu berwarna hijau, ada begitu banyak jelatang dan pembungkus mie instant. Lalu waktu berlalu, dan pelan-pelan kusadari, itulah puisi.

Kuta Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

4/

Puisi

Bagiku, puisi bukan kata yang begitu saja. Bukan cuma, apalagi cuma-cuma.

Puisi itu adalah cinta. Dan cinta selalu bisa menemukan jalannya. Puisi adalah getah yang tetes di kulitku. Puisi adalah aku.

Pernah ada murkaku, saat aku dapati lembar-lembar puisiku (yang mungkin bagi orang lain, hanya sampah pembungkus terasi, tisyu penyeka ingus, atau apa) disakiti. Padahal, aku membawa-bawa dia dalam rahim imajiku.O, Tuhan, ini menyebalkan.

Kata-kata dalam puisi, mulanya hanya huruf-huruf yang ditumbuhkan Tuhan dalam kepalaku, ide-ide kasar tak bernyawa, yang kemudian dengan izinNya pula, “kuhidupkan” dan kusuburkan kedalam halaman-halaman pribadiku, dan kadang kubagi pada dunia.


Padar, Nusa Tenggara Timur.

5/

Perjalanan (Kedewasaan)

Kudapati keinginan itu, untuk berkoar-koar tentang dunia di dalam dan di luar tempurung kepalaku. Pernah ada yang bilang, seekor katak terjebak di sana. Melompat girang, setiap kali aku berang perihal hidup muak, dan loba, atau kagum pada kata-kataku sendiri.

Tapi, tidak. Bukan seekor katak, aku duga lebih mirip Dinosaurus. Dinosaurus mati, yang membangkai tanpa kunjungan bela sungkawa, pemakaman dan kata selamat jalan terindah. Lalu memfosil kecil-kecil, menyebar tak cuma di otak, tapi sampai ke tempurung lutut, siku juga buku-buku jari. Bangkai kemarahan dan kebencian busuk dan menjijikkan, memohon bercokol selamanya di per-sel bagian diriku.


Uluwatu, Bali.

6/

Kebijaksanaan

Aku yang meledak-ledak dalam manusiaku, kemudian harus berupaya menahan murka, dan merasa tak berhak mengadili orang lain, segera, seketika, dan langsung di tampat.

Dan jika aku telah sampai di puncak sesakku, aku akan mencoba mati-matian bertahan (hidup) satu hari lagi.

Dan lagi

Dan lagi

Sebab, aku tidak mau jadi tua, dan menyebalkan

Endap sia-sia, sirna di kefanaan

Sungguh!

Leave a Reply

Your email address will not be published.