Musafirlah

Musafir
ilustrasi (Foto: Neno Karlina).

Tentangpuan.com – Dengan keyakinan penuh, bahwa kaca-kaca televisi hanyalah imitasi, dan jendela-jendela serupa duri. Maka, musafirlah!

Dengan tumitmu, yang sengsara jika diam. Dengan matamu, yang lamur jika tak melihat indah dunia. Dengan jiwamu, yang terasa mau mati, jika tak pergi, maka musafirlah.

Kau hanya perlu berjalan melihat, mendengar, di dalam kenyataan ternyata indra manusiamu yang lemah, harus berdiri di sana, mengalami dan terpesona. Maka, kau akan keluar dari tempurung pemikiran sombongmu, pada perasaan selalu merasa yang paling.

Berjalan di muka bumi, agar beroleh hikmah dan kebijaksanaan, membentuk pribadi sebenar Ulil Albab. Hingga jiwa semakin tawadhu’ pada kuasaNya.

“Wow, kau pemberani, tak semua orang mampu seperti itu,” kata seorang karib padaku.

Aku hanya tersenyum. Betapa tidak tahunya dia kalau aku seorang penakut. Karna aku seorang penakut, aku membenci diriku. Dan dari situ memilih memberanikan diri, agar aku bisa mulai mencintai diriku sendiri.

Ini aneh, dua hal terjadi secara bersamaan. Semacam keberanian seorang penakut. Bahwa keberanian adalah penakhlukan ketakutan-ketakutan pada diri kita.

Aku mulai membongkar isiku, sebenarnya apa harapanku?

Dan, bagaimana aku memandang keberanian sebagai sifat yang ingin kuinjeksikan ke pembuluh nadiku. Menyatui tubuh kasat dan kepengecutan stadium lanjutku. Benarkah dengan mengikuti keinginan, dan naluri kepenakhlukanku–bahkan jika itu terhadap ketakutanku, aku bisa jadi seorang pemberani? Lebih-lebih, bisakah aku menyukai diriku karenanya?

Al-quran telah banyak memberi petunjuk bagi kaum kembara. Liat Tsamud, liat ‘Aad, liat Sodom dan Sabaa’. Bukan agar memogahkan diri kita, dan mengikuti hawa nafsu semata. Kalahkan puncak itu, di kening paling merendah. Musafirlah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.