Perempuan Wajib Tahu Kenapa Kita Tidak Perlu Beli Baju Lebaran

Ilustrasi
Ilustrasi ( Foto : Instagram @bajulebaran).

Tentangpuan.com – Membeli baju untuk digunakan Lebaran, sudah menjadi tradisi dari tahun ke tahun. Banyak orang disibukkan berburu baju terutama pada seminggu jelang Hari Raya.

Pusat-pusat perbelanjaan akan dipadati orang-orang. Namun, di masa pandemi covid-19, barada di keramaian bukanlah sebuah solusi yang baik. Selain kita akan mudah terpapar virus, tidakkah kita sadari bahwa kegiatan yang dilakukan setiap tahun ini, hanya akan membuat tumpukan baju kita bertambah.

Padahal, dari sekian baju yang telah kita tumpuk, barangkali ada banyak yang hanya digunakan satu atau dua kali, bahkan mungkin tidak sama sekali. Dan jika kita mau sedikit kratif untuk menjawab kebutuhan pakaian pada Hari Raya, metode mengaudit lemari, daur ulang, atau mix and match bisa dilakukan, dan tentu bisa menghemat banyak pengeluaran.

Tidak hanya itu, beberapa alasan penting berikut patut dipertimbangkan saat anda ingin membeli baju baru. Sebagaimana dilansir dari Go Green Drop, ada enam alasan penting mengapa beli baju baru merupakan opsi terakhir untuk dilakukan.

Mengurangi angka limbah tekstil
Mendaur ulang bahan kain tidak semudah mendaur ulang plastik. Energi yang dibutuhkan lebih besar dan emisi yang dikeluarkan lebih banyak. Salah satu cara paling tepat untuk transisi dari mendaur ulang ke menggunakan kembali ialah dengan mengerti dampak yang dihasilkan sejak awal.

Mengurangi gas penyebab efek rumah kaca
Kain yang terbuat dari kapas harusnya dapat dikompos. Meski begitu, kebanyakan orang yang membuang kain akan membuatnya berakhir di TPA, di tempat yang kekurangan oksigen dan material organik untuk bantu memecahnya jadi kompos. Minimnya oksigen akan membuat limbah tekstil tersebut terurai melalui proses degradasi anaerob yang menghasilkan gas metana. Metana dapat terperangkap di atmosfer kita dan berbahaya bagi keseimbangan gas di lapisan ozon.

Mencegah sampah masuk TPA
Tahukah Generasi Hijau, TPA Bantar Gebang disinyalir akan penuh di tahun 2030. Jika kita menggunakan kembali pakaian kita atau memperbaiki yang rusak, kita mencegah limbah kain kita ke TPA. Dengan begitu, kita turut membantu mengurangi pasokan sampah baru di TPA.

Mengurangi konsumerisme
Beberapa tahun belakangan, topik hidup minimalis mulai marak diperbincangkan. Orang mulai sadar bahwa mengurangi barang dan konsumsi justru membawa lebih banyak perasaan lega, senang dan puas. Termasuk juga dengan pakaian. Pasti kamu juga merasakan, banyak pakaian yang menumpuk di lemari malah rasanya penat. Ketika kita mengurangi pembelanjaan kita, selain rasanya hemat uang dan hemat tempat, kita membawa dampak personal bagi limbah kain secara keseluruhan.

Hemat energi
Proses produksi fast fashion membutuhkan energi tinggi. Tiap potong pakaian yang kamu punya telah melalui proses manufaktur kompleks yang membutuhkan banyak listrik, air, dan sumber energi lainnya. Menggunakan kembali atau memperbaiki pakaianmu yang rusak dapat menghemat energi dengan mengeliminasi kemungkinan pembuatan produk dari awal. Sama seperti ketika kamu beli baju bekas atau thrifting, kamu berkontribusi mengurangi volume fast fashion.

Praktis
Alasan paling penting untuk menggunakan kembali pakaian lama kita ialah karena cara ini paling praktis dibanding yang lain. Membeli baju baru butuh usaha pergi ke toko, berjalan-jalan hingga dapat baju yang pas, belum lagi berdesakan dengan banyak orang di tengah pandemi seperti ini membuatmu jadi punya risiko tinggi. Ditambah lagi ketika puasa Ramadan, akan sangat mungkin kamu dehidrasi karena kekurangan cairan tubuh.

Ketika Idulfitri datang, sudah menjadi tradisi di banyak negara untuk membeli baju baru. Mungkin memang menyenangkan untuk anak-anak punya baju baru di Hari Raya, namun diharapkan kita yang sudah dewasa sudah hidup lebih sadar lingkungan dan memilih untuk menggunakan pakaian lama. Selain menerapkan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan, menggunakan baju lama yang masih bagus berarti kita dapat menggunakan uang untuk kebutuhan lain. Idulfitri identik dengan berkah dan kebahagiaan berkumpul bersama keluarga, sehingga pakaian kita tidak jadi penentu kebahagiaan untuk merayakan lebaran.

Sumber: greeneration.org

Leave a Reply

Your email address will not be published.