TENTANGPUAN.com – Dampak kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena El Nino mulai menjadi perhatian dari sisi kesehatan dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Kelompok rentan seperti lansia, perempuan, anak, bayi, dan penyandang disabilitas dinilai perlu mendapat perhatian khusus pemerintah.
Aktivis perempuan Sulawesi Utara, yang juga Direktur Swara Paranpuang, Vivi George, mengatakan kondisi iklim yang berlangsung dalam waktu panjang tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat.
Menurutnya, pemerintah perlu memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap kebutuhan dasar, terutama air, selama periode kemarau berkepanjangan.
“Ini adalah sebuah realita yang harus kita terima. El Nino yang berkepanjangan sudah berbulan-bulan dan dampaknya sangat terasa terhadap manusia, terutama lansia, mereka yang berkebutuhan khusus, perempuan, anak dan bayi,” kata Vivi saat diwawancarai Febri Kodongan, Sabtu (15/8/2026).
Ia mengatakan, masyarakat juga perlu memperhatikan pola hidup selama kondisi cuaca yang tidak menentu, termasuk memastikan kebutuhan cairan tubuh tetap terpenuhi.
“Jangankan lansia, kita saja harus mengatur seberapa banyak air putih yang dikonsumsi. Air putih itu sangat berguna, ” ujarnya.
Air Bersih Jadi Perhatian
Vivi juga menyoroti persoalan ketersediaan air bersih sebagai bagian penting dari mitigasi dampak iklim.
Ia menyebut sempat terjadi gangguan teknis pada layanan air perpipaan di Kota Manado. Persoalan tersebut, kata dia, kemudian mendapat respons setelah adanya keluhan dari masyarakat.
Namun, kondisi tersebut menurutnya perlu menjadi pengingat bahwa ketahanan layanan air bersih harus diperhatikan ketika kemarau berlangsung lebih panjang.
“Kalau berbicara penyediaan air bersih, kita sudah ada di kota. Tetapi dengan kemarau panjang, aliran-aliran sumber mata air juga bisa berkurang,” katanya.
Vivi menambahkan, persoalan yang terjadi pada layanan air tersebut saat itu lebih disebabkan gangguan teknis berupa kebocoran pipa dan telah mendapat penanganan.
Meski begitu, ia meminta pemerintah tidak hanya bergerak setelah menerima laporan masyarakat. Pemerintah dinilai perlu melakukan pemetaan terhadap kelompok masyarakat yang paling berisiko terdampak.
“Pemerintah, paling tidak harus proaktif juga turun sampai ke lapangan, seberapa banyak masyarakat terutama perempuan dan anak, lansia, atau yang berkebutuhan khusus,” ucapnya.
Perlu Data Kelompok Rentan
Vivi menilai pendataan menjadi penting agar pemerintah dapat mengetahui kebutuhan masyarakat secara lebih konkret. Data tersebut juga dapat menjadi dasar bagi dinas terkait untuk menentukan intervensi ketika kondisi kekeringan semakin parah.
Ia menyebut sejumlah instansi, seperti Dinas Sosial dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), dapat berperan dalam mengidentifikasi kelompok rentan yang membutuhkan perhatian.
“Kalau ada keluhan-keluhan itu perlu diidentifikasi, harus didata seberapa banyak masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.
Hingga wawancara dilakukan, Vivi mengatakan Swara Paranpuang Sulut belum menerima keluhan spesifik dari masyarakat terkait dampak kemarau panjang terhadap kelompok perempuan, anak, lansia maupun penyandang disabilitas.
Meski demikian, ia memastikan lembaganya tetap membuka ruang pengaduan masyarakat.
“Ketika ada keluhan, kami sebagai lembaga Swara Paranpuang Sulut tetap juga menunggu dan menanti keluhan sebagai perpanjangan tangan masyarakat,” kata Vivi.
Riset: ENSO Berdampak pada Kesehatan Lansia
Kekhawatiran terhadap kelompok rentan tersebut memiliki dasar ilmiah. Studi yang dipublikasikan dalam Science of the Total Environment menganalisis 30.763 peserta di 23 provinsi di China sepanjang 1998–2018. Penelitian itu menemukan paparan variabilitas iklim yang dipengaruhi ENSO berkaitan dengan peningkatan risiko kematian pada kelompok lansia serta meningkatnya beban biaya medis.
Sementara itu, tinjauan sistematis yang diterbitkan Campbell Collaboration pada 2025 terhadap 89 studi mengenai dampak El Nino dan Indian Ocean Dipole positif di kawasan Indo-Pasifik menunjukkan dampak El Nino terhadap kesehatan dan kondisi sosial-ekonomi berbeda menurut wilayah dan indikator yang digunakan. Kajian tersebut menekankan pentingnya respons kebijakan yang disesuaikan dengan kondisi lokal.
Temuan tersebut memperkuat pentingnya langkah antisipasi di tingkat daerah, meski dampak El Nino terhadap kesehatan tidak dapat disamaratakan untuk semua kelompok dan wilayah.
Dari sisi regulasi, pemerintah memiliki kewajiban dalam memastikan kesehatan lingkungan masyarakat. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023 tentang Peraturan Pelaksanaan PP Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan mengatur kesehatan lingkungan, termasuk air minum serta air untuk keperluan higiene dan sanitasi. Regulasi tersebut juga menempatkan pengawasan kualitas air sebagai bagian dari upaya memenuhi akses terhadap air minum yang aman.
Regulasi itu mendefinisikan air minum sebagai air yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum, sementara air untuk higiene dan sanitasi digunakan untuk kebutuhan higiene perorangan maupun rumah tangga.
Dengan kondisi kemarau yang berlangsung panjang, perhatian terhadap air tidak cukup hanya ditempatkan sebagai persoalan teknis layanan. Ketersediaan air juga berkaitan dengan kesehatan masyarakat dan kemampuan kelompok rentan untuk beradaptasi terhadap tekanan iklim.
Bagi Vivi, langkah antisipasi tersebut penting dilakukan sebelum muncul persoalan yang lebih serius di tengah masyarakat.
“Sejauh ini memang belum ada keluhan secara spesifik. Tetapi jangan lupa, kita tetap menjadi bagian dari masyarakat,” pungkasnya.
Reporter: Febri Kodongan

