Satu Dasawarsa LAROMA Dirayakan dalam Semangat Kebersamaan dan Kebebasan Berkeyakinan

Ornamen dalam perayaan satu dasawarsa Laroma, (Foto: Koleksi KBB Sulut).

TENTANGPUAN.com – Komunitas kepercayaan atau agama lokal Malesung merayakan satu dasawarsa perjalanan organisasi Lalang Rondor Malesung (LAROMA) pada 17 Februari 2026 di sekretariat (wale) Desa Tondei Satu, Kecamatan Motoling Barat, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Perayaan berlangsung dalam suasana sederhana, hangat, dan penuh refleksi.

Dideklarasikan pada 2016 dan telah memperoleh pengakuan negara, LAROMA memusatkan upayanya pada pemajuan kebudayaan serta pelestarian nilai-nilai spiritual asli Minahasa.

Komunitas ini juga terafiliasi dengan Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI), lembaga nasional yang mewadahi penghayat kepercayaan di Indonesia.

Ketua Umum LAROMA, Iswan Sual, (Foto: Koleksi KBB Sulut).

Ketua LAROMA, Iswan Sual, dalam catatan reflektifnya menyebut perayaan ini sebagai momentum menengok perjalanan organisasi sekaligus memperkuat komitmen ke depan.

“Seharusnya ini menjadi kesempatan bagi para penghayat kepercayaan Malesung untuk melihat ke belakang, belajar dari kegagalan dan keberhasilan. Meninggalkan yang buruk, memetik buah-buah kebaikan. Demi masa depan anak-anak dan cucu-cucu serta generasi penerus ajaran orang-orang tua kita,” tulis Iswan.

Ia juga menegaskan bahwa kesederhanaan tidak mengurangi makna kebersamaan yang terbangun. “Sederhana, iya. Tetapi dalam kesederhanaan ini kami dipersatukan dalam semangat bersama,” ujarnya.

Perayaan satu dasawarasa LAROMA turut dihadiri berbagai lintas iman dan keyakinan serta organisasi yang ada di Sulut, (Foto: Koleksi KBB Sulut).

Perayaan tersebut turut dihadiri perwakilan Koalisi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) Sulut, Jemaat Ahmadiyah Manado, Gusdurian Manado, komunitas Baha’i, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulut, Lembaga Bantuan Hukum Manado, serta sejumlah organisasi lain.

Kehadiran mereka menjadi simbol solidaritas terhadap kelompok minoritas rentan sekaligus pengakuan atas eksistensi LAROMA di Tanah Minahasa.

Ruth Ketsia, salah satu peserta yang hadir, menggambarkan perjalanan menuju lokasi sebagai bagian dari komitmen kebersamaan. Perjalanan dari Manado dan Tomohon menuju Desa Tondei Satu memakan waktu lebih dari tiga jam dengan medan jalan sempit dan berkelok.

“Semua itu tak mengurangi hasrat kami, tapi juga nyali dari driver handal menguasai medan tempur Rikson Karundeng. Akhirnya kami dan juga rombongan lainnya tiba dengan selamat di tujuan. Ini adalah wujud kebersamaan dan solidaritas terhadap kelompok minorotas rentan, sekaligus juga bentuk pengakuan atas eksistensi LAROMA sebagai salah satu komunitas Penghayat Kepercayaan yang ada di Tana Minahasa,” tulis Ruth.

Dalam refleksinya, Ruth juga menyoroti tantangan yang masih dihadapi komunitas penghayat, termasuk pengalaman diskriminasi.

Ruth Ketsia (kanan), Hafiz Admad Mutu (tengah) dan Iswan Sual (kiri) saat menerima secara simbolis buku-buku buah tangan dari Jemaat Ahmadiyah, (Foto: Koleksi KBB Sulut).

Ia menyebut bahwa meskipun secara hukum diakui, LAROMA masih menghadapi stigma sosial. Tempat pertemuan mereka, Wale Paliusan di Desa Tondei Dua, bahkan dihancurkan pada 2022 tanpa adanya ganti rugi pembangunan kembali.

“Eksistensinya jelas, legal secara hukum. Tapi, faktanya, masih mendapatkan stigma dan perlakuan diskriminatif,” tulisnya.

Ruth menegaskan bahwa perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi alasan untuk perlakuan diskriminatif.

“Dengan demikian, pengikut LAROMA, meski berbeda kepercayaan, bukan musuh apalagi ancaman. Dalam persaudaraan genealogis inilah, kita satu dalam kemanusiaan,” ujarnya.

Selain refleksi tentang kebebasan berkeyakinan, forum diskusi dalam perayaan tersebut juga menghasilkan sejumlah catatan untuk keberlanjutan organisasi, termasuk pentingnya kaderisasi dan pelibatan perempuan dalam struktur dan gerak LAROMA ke depan.

Perayaan ditutup dengan ungkapan syukur dan doa bersama. Iswan Sual menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang hadir.

“Kiranya kita boleh lagi dipertemukan dalam kegiatan-kegiatan selanjutnya. Pakatuan pakalowiden. Opo Empung memberkati kita semua,” tutupnya.

Di tengah keberagaman keyakinan dan identitas kultural Tou Minahasa, perayaan satu dekade LAROMA menjadi ruang dialog yang terbuka, tempat perbedaan dirayakan tanpa pembedaan, serta pengingat bahwa keragaman adalah keniscayaan yang memperkaya kehidupan bersama.