Membangun Eksistensi dengan Merintis Usaha Kripik Pisang

Nena Paputungan
Nena Paputungan, (Foto: Dokumen Pribadi).

Tentangpuan.com – Tak pernah terbayang sebelumnya, kerja keras dan perjalanan menuju tempat kerja yang menjadi rutinitas, justru jadi salah satu pemicu peluang bagi Nena Paputungan (30), mengembangkan usaha kripik pisang miliknya.


Perempuan asal Kelurahan Motoboi Kecil, Kota Kotamobagu ini berhasil bangkit dari keterpurukan dan memulai usaha baru. Kesehariannya kini dipenuhi dengan daftar orderan pelanggan setia kripik pisang. Namun, tak banyak yang tahu. Segalanya tidak terjadi begitu saja. Nena harus berjuang keras untuk memulai.

Sempat Dirumahkan

Sebelum memutuskan fokus merintis usaha kripik, Nena sempat bekerja sebagai tenaga kontrak di salah satu kantor pemerintah. Setiap harinya, Nena harus menempuh jarak sekitar 45 KM ke kantor. Dalam perjalanan ia sering melihat dan memperhatikan banyak orang. Nena yang saat itu digaji tiga bulan sekali harus memutar otak untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Nena merasa cuaca daerah tempatnya kerja begitu panas, membuatnya memutuskan berjualan es. Meski masih muda dan belum menikah, Nena tak malu atau gengsi melakukannya.

“Karna saya pikir Lolak (Ibu Kota Bolaang Mongondow) sangat panas, jadi mungkin cocok jika saya berjualan es. Ketika jam istirahat saya keliling kantor-kantor di sekitar kantor saya kerja untuk menawarkan es. Ini berlangsung cukup lama, dan seiiring waktu saya juga mulai membawa dagangan lain seperti kacang goreng atau kacang atom,” kata Nena, kepada Tentangpuan.com, Senin, (14/06/2021).

Tak cukup sampai di situ, Nena yang mengamati lingkungan sekitar mulai menyadari, banyak orang, terutama PNS saat menunggu tumpangan, dan dalam perjalanan menuju kantor atau pulang ke rumah, menjadikan kripik pisang sebagai cemilan.

Nena yang memiliki jiwa berdagang langsung melihat ini sebagai peluang usaha. Nena mencoba keberuntungan dengan membuat kripik pisang. Usahanya tidak sia-sia, kripik pisang yang dia jajakkan bersama es dan kacang goreng selalu terjual habis.

Akan tetapi, pandemi Covid-19 yang melanda hampir seluruh belahan bumi, membuat Nena turut terdampak. Bersama beberapa rekan sesama tenaga kontrak, Nena dirumahkan. Hal ini cukup memukul dan membuat stres.

“Bukan hanya karena saya tidak bisa kerja di kantor lagi, tapi saya juga tidak bisa menjual jualan saya lagi. Ini benar-benar membuat saya sedih,” aku Nena.


Ibu Sumber Motivasi untuk Bangkit

Kesedihan yang dirasakan Nena begitu besar. Sebagai perempuan Nena terbiasa hidup mandiri. Ayahnya, almarhum M.Paputungan meninggal dunia sejak Nena masih duduk di bangku SMP. Meski demikian, dia tidak terbiasa bergantung hidup dari orang lain.


Nena tidak berdaya dan merasa putus asa dengan apa yang terjadi pada dirinya. Syukurlah, ibunya, H. Damopolii tak pernah berhenti memberi semangat.

Nena Paputungan bersama ibunda, H. Damopolii, (Foto: Dokumen pribadi).

“Ibu selalu mengingatkan saya untuk sabar, dan fokus bekerja. Jabatan atau apapun itu hanyalah sementara. Jika kita ikhlas berupaya, Allah pasti tidak akan tinggal diam. Nasehat ibu inilah yang saya yakini dan saya pegang selama ini. Ibu adalah alasan saya untuk bangkit, dan memulai semuanya dengan penuh keikhlasan,” ungkap Nena.

“Apalagi sejak ayah meninggal. Saya tidak mau membebankan kebutuhan saya kepada orang lain, apalagi pada ibu. Saya tidak mau memberatkan, walau sempat dilarang oleh ibu, tapi saya tetap bekerja. Sepulang sekolah saya langsung kerja di rumah-rumah orang. Ya setidaknya untuk bantu membeli buku. Semua itu, karena saya sangat menyayangi ibu saya. Satu-satunya alasan saya mendapat keberkahan di dunia ini.”

Apa yang dikatakan oleh ibu benar-benar terjadi. Ketakutan berubah, Nena melihat orang-orang mulai berjualan di media sosial. Nena kembali mencoba peruntungan. Ternyata postingannya mendapat respon yang banyak. Nena kembali berdagang.

Fokus Merintis Usaha

Berbeda dengan sebelumnya. Nena tidak lagi menjual banyak dagangan sekaligus. Sekarang Nena ingin fokus pada satu saja. Nena memilih mengembangkan usaha kripik pisang yang sudah dimulai sejak tahun 2017 lalu, tapi belum benar-benar dia seriusi.

Kripik pisang buatan Nena, (Foto: Dokumen Pribadi).

Sesuai hasil kerja kerasnya, usaha kripik pisang perlahan dikenal. Nena bahkan sudah memiliki pelanggan setia. Tak tanggung-tanggung, kripik pisang miliknya sudah dipasarkan hingga ke luar pulau Sulawesi, yaitu di Jakarta dan di Timika.

Meski belum berani menggunakan pekerja, Nena mampu memproduksi puluhan toples dan bungkus kripik pisang. Bahkan omset hariannya bisa mencapai jutaan rupiah.

“Ibu memang benar, jika kita berusaha sungguh-sungguh tida ada yang mustahil. Alhamdulilah, saat ini saya sudah bisa memiliki penghasilan sendiri. Bahkan, lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari, lebih besar dari hasil kerja di kantor.”

Omset ini tentu tidak sama ketika ada orderan musiman seperti di penyambutan Idul Fitri atau Natal. Dari hasil usahanya Nena sudah bisa membeli kendaraan pribadi.

“Kuncinya jangan gengsi. Biasa perempuan kalau belum menikah, cenderung tidak berani memberdayaakan apa yang ada di dirinya. Takut memulai. Tak jarang mereka harus menggantungkan hidup, sehingga tidak memiliki kemerdekaan dalam menjalani hari. Semoga dengan ini, banyak perempuan yang termotivasi juga, bangkit dalam keterpurukan, sebab bukan tidak mungkin Tuhan merubah kehidupan kita selama kita mau berusaha,” pungkas Nena.

Leave a Reply

Your email address will not be published.