Sekolah Lansia Bilalang Satu, Ruang bagi Warga Tua Tetap Aktif dan Berdaya

Ilustrasi

TENTANGPUAN.com – Bertambahnya usia tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan ruang untuk beraktivitas dan bersosialisasi. Di Desa Bilalang Satu, Kecamatan Kotamobagu Utara, pemerintah desa menghadirkan Sekolah Lansia sebagai ruang untuk menjaga kesehatan sekaligus mempertahankan keterlibatan warga lanjut usia dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

Upaya itu dilakukan melalui Sekolah Lansia, program yang dirancang untuk menjaga kesehatan sekaligus mendorong warga berusia lanjut tetap aktif dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

Sangadi Desa Bilalang Satu, Badaria A. Mokoginta, mengatakan, program tersebut lahir dari kepedulian pemerintah desa terhadap keberadaan warga lanjut usia di desanya.

“Sekolah Lansia Desa Bilalang Satu dibentuk karena kami melihat bahwa para lanjut usia bukanlah kelompok yang harus hanya tinggal di rumah, tetapi mereka tetap memiliki hak untuk sehat, aktif, dihargai, dan mendapatkan perhatian,” ujar Badaria, Rabu, (23/09/2026).

Sangadi Desa Bilalang Satu, Badaria A. MokogintaSangadi Desa Bilalang Satu, Badaria A. Mokoginta, (Foto: Sulawesikini.com).

Di Desa Bilalang Satu terdapat sekitar 300 warga berusia 60 tahun ke atas. Kelompok ini kemudian menjadi sasaran utama program Sekolah Lansia.

Melalui program tersebut, para lansia diajak mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan, pola hidup sehat, pemenuhan gizi, aktivitas fisik, pengetahuan, hingga interaksi sosial.

“Motivasi utama kami adalah memberikan ruang bagi para lansia untuk menjaga kesehatan dan kebugaran, mendapatkan pengetahuan tentang pola hidup sehat, memperoleh makanan yang bergizi, tetap aktif dan produktif, serta meningkatkan interaksi dan kebersamaan,” jelasnya.

Bagi Badaria, ruang berkegiatan menjadi penting agar lansia tidak merasa terabaikan. Sekolah Lansia tidak hanya ditempatkan sebagai kegiatan kesehatan, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan yang memungkinkan warga lanjut usia tetap terhubung dengan lingkungan sosialnya.

“Kami ingin para lansia merasa dihargai dan diperhatikan oleh pemerintah desa dan masyarakat,” tambah Badaria.

Upaya tersebut sejalan dengan pendekatan kesehatan lansia yang menempatkan aktivitas fisik, gizi, kehidupan sosial, serta kesempatan untuk tetap berkarya sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas hidup pada usia lanjut. Kementerian Kesehatan juga menempatkan aktivitas fisik rutin dan kehidupan sosial sebagai bagian dari upaya kesehatan bagi kelompok usia 60 tahun ke atas.

Sebuah studi yang dilakukan tim Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bersama Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) juga melihat kehidupan lansia aktif di dua wilayah Indonesia, yakni Dusun Miduana, Cianjur, dan Pulau Gili Iyang, Madura. Penelitian selama enam bulan itu mengidentifikasi empat unsur yang berkaitan dengan keseimbangan hidup lansia, yakni gaya hidup, lingkungan, nutrisi dan kesehatan, serta faktor sosial-ekonomi.

Konteks tersebut menunjukkan bahwa menjaga kesehatan lansia tidak hanya berkaitan dengan pengobatan ketika sakit. Aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, pola makan, dan lingkungan yang mendukung juga menjadi bagian penting agar mereka dapat menjalani masa tua secara aktif.

Hal itu pula yang ingin dibangun Pemerintah Desa Bilalang Satu melalui Sekolah Lansia.

Badaria menegaskan, usia tidak semestinya menjadi alasan seseorang berhenti beraktivitas maupun bersosialisasi.

“Kami percaya bahwa usia boleh bertambah, tetapi semangat untuk hidup sehat, berkarya, dan bersosialisasi tidak boleh berhenti,” ungkapnya.

Screen shot zoom pengunguman lomba IGA Kotamobagu, (Foto: Diskominfo KKK).

Pendekatan tersebut memiliki landasan dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia. Regulasi ini menempatkan peningkatan kesehatan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan lansia. Dalam Pasal 14, pelayanan kesehatan bagi lansia diarahkan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan serta kemampuan mereka agar fungsi fisik, mental, dan sosial tetap dapat berjalan secara wajar.

Karena itu, Sekolah Lansia di Bilalang Satu tidak hanya berbicara tentang aktivitas warga yang sudah memasuki usia lanjut. Program ini juga menyentuh bagaimana desa memandang lansia sebagai bagian dari masyarakat yang tetap memiliki kebutuhan, hak, dan ruang untuk berperan.

“Bagi kami, memperhatikan lansia bukan hanya sebuah program, tetapi merupakan bentuk kepedulian, penghargaan, dan penghormatan kepada orang-orang yang telah memberikan banyak hal bagi keluarga dan desa,” pungkas Badaria.

Pemerintah Desa Bilalang Satu berharap Sekolah Lansia dapat terus berkembang menjadi ruang yang membantu para lansia menjaga kesehatan, membangun kemandirian, memperluas interaksi sosial, dan tetap memiliki peran di tengah keluarga maupun masyarakat.

Program tersebut kemudian mendapat pengakuan melalui IGA Award. Penghargaan itu menjadi pelengkap atas inovasi pelayanan yang dikembangkan desa, sekaligus dorongan untuk mempertahankan dan mengembangkan Sekolah Lansia agar manfaatnya dapat terus dirasakan warga.

Reporter: Yusril Mahendra Umbola