TENTANGPUAN.com – Aktivitas pertambangan emas skala kecil dan tradisional di wilayah Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow tidak hanya menggerakkan sektor ekstraktif, tetapi juga memunculkan ekosistem ekonomi kecil di sekitarnya yang tak banyak disorot.
Di sepanjang jalur dari Pasar Rakyat Tanoyan Selatan hingga area tromol, tercatat sedikitnya sembilan kantin atau warung makan berdiri melayani kebutuhan para penambang. Di sela aktivitas itu, perempuan muda hingga remaja ikut terseret dalam pusaran ekonomi tambang, baik sebagai penopang rumah tangga maupun pekerja langsung di lokasi.
Salah satunya adalah warung sederhana milik Yanti Mokoginta (28), yang ia jalankan bersama rekannya, Nia Kobandaha (25). Warung mereka berdiri di sudut pasar, terbuat dari pagar bambu dan beratap terpal. Meski terkesan sederhana, usaha ini menjadi sumber penghasilan penting bagi keduanya.
“Ya kan banyak penambang yang datang minta dibungkuskan nasi kuning, untuk bekal ke lokasi,” ujar Yanti, Senin (4/5/2026).

Sebelum membuka warung, Yanti dan Nia telah lebih dulu berjualan makanan di dalam pasar, seperti nasi kuning, mi rebus, bakwan, dan tahu. Suami mereka bekerja sebagai penambang, sementara mereka memanfaatkan waktu di sela pekerjaan domestik untuk menambah penghasilan keluarga.
Dengan modal awal patungan yang relatif kecil, sekitar Rp150 ribu, mereka memberanikan diri membuka warung makan.
Aktivitas tambang yang padat membuat permintaan makanan terus mengalir, baik dari penambang yang datang langsung maupun yang memesan melalui ojek online untuk diantar ke lokasi tromol.
“Untuk nasi kuning saja, kalau 2 kilogram beras yang ditanak, bisa sampai 20 bungkus, per bungkusnya kami jual Rp10 ribu. Dalam sehari kami menanak 4 kilogram beras, jadi bisa hampir Rp500 ribu dari nasi kuning saja. Itu belum dari mi dan gorengan,” jelas Nia.
Tidak jauh dari lokasi tromol, seorang remaja bernama Ciko (17) juga menjadi bagian dari denyut ekonomi tambang. Di usianya yang belum genap dewasa, ia sudah terbiasa naik turun jalur berlumpur menuju lokasi kerja. Kadang ia membantu mengangkat material, menjaga rendaman, hingga ikut bekerja di sekitar lubang bersama orang-orang yang lebih tua darinya.
“Kalau tidak ikut kerja, tidak ada uang,” katanya singkat.
Bagi Ciko, tambang bukan hanya ruang kerja, tetapi juga jalan tercepat untuk memperoleh penghasilan di tengah terbatasnya pilihan ekonomi. Ia mengaku beberapa temannya sesama remaja juga ikut turun ke lokasi tambang, terutama ketika ada panggilan kerja harian atau saat sekolah sedang libur. Sebagian dari mereka membantu keluarga, sebagian lain mencoba mendapatkan uang sendiri dari hasil tambang.
“Dengan bekerja kita akan terhindar dari kenakalan remaja seperti mencuri ayam dan lainnya,”jelas Ciko.
Kehadiran remaja di wilayah pertambangan rakyat memperlihatkan bagaimana ekonomi ekstraktif bukan hanya menyerap tenaga kerja dewasa, tetapi juga menarik kelompok usia muda ke dalam rantai produksinya. Dalam banyak kasus pertambangan rakyat di Indonesia, keterlibatan remaja kerap terjadi karena faktor ekonomi keluarga, minimnya lapangan kerja alternatif, hingga kedekatan lingkungan sosial dengan aktivitas tambang.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana sektor informal, terutama yang dijalankan perempuan dan kelompok muda, menjadi bagian tak terpisahkan dari rantai ekonomi pertambangan rakyat.

Dalam berbagai studi tentang pertambangan skala kecil (artisanal and small-scale mining/ASM), perempuan kerap menempati posisi di sektor pendukung seperti penyedia makanan, logistik, hingga jasa domestik, sementara anak muda dan remaja banyak terserap dalam pekerjaan kasar di lapangan. Namun kontribusi mereka jarang tercatat dalam statistik resmi ekonomi.
Data dari sejumlah laporan organisasi internasional seperti World Bank dan International Labour Organization (ILO) menunjukkan bahwa sektor informal di sekitar tambang menjadi “penyangga tak terlihat” yang menjaga operasional harian tetap berjalan.
Di Indonesia, praktik pertambangan rakyat sendiri sebagian besar masih berada di luar skema perizinan formal (Pertambangan Tanpa Izin/PETI), yang berdampak pada minimnya jaminan keselamatan kerja, perlindungan sosial, hingga akses terhadap layanan dasar, baik bagi penambang maupun pelaku usaha di sekitarnya.
Kondisi ini turut dirasakan oleh pelaku usaha kecil seperti Yanti dan Nia. Infrastruktur warung yang seadanya, ketergantungan pada aktivitas tambang yang fluktuatif, serta tidak adanya jaminan kesehatan atau perlindungan usaha menjadi risiko yang harus mereka hadapi setiap hari.
Di sisi lain, studi tentang gender dan ekonomi ekstraktif juga menunjukkan adanya beban ganda yang ditanggung perempuan di wilayah tambang. Selain mengelola usaha untuk menopang ekonomi keluarga, mereka tetap memikul tanggung jawab domestik, termasuk pengasuhan anak dan pengelolaan rumah tangga.
Dalam konteks Lolayan, warung makan bukan sekadar ruang ekonomi, tetapi juga ruang negosiasi peran perempuan dalam lanskap tambang yang didominasi laki-laki. Mereka hadir di celah-celah ekonomi yang tidak tersentuh kebijakan, namun justru menjadi penopang penting bagi keberlangsungan aktivitas tambang itu sendiri.
Sementara bagi remaja seperti Ciko, tambang menghadirkan dilema lain: antara kebutuhan ekonomi dan masa depan yang belum pasti. Di tengah kilau emas dan lalu-lalang pekerja, remaja-remaja di kawasan tambang tumbuh dalam lingkungan yang membuat pekerjaan berisiko terasa biasa sejak usia muda.
Ekosistem tambang rakyat di Lolayan, dengan segala dinamikanya, pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang produksi emas, tetapi juga tentang jaringan ekonomi informal yang rapuh, di mana ibu-ibu muda seperti Yanti dan Nia menjaga dapur tetap menyala, sementara remaja seperti Ciko tumbuh di bawah bayang-bayang lubang tambang dan ketidakpastian masa depan.

