Perempuan Penyintas Erupsi Gunung Ruang di Huntap Modisi Kesulitan Penuhi Kebutuhan Dasar

Welsi Buangsamupihi (kanan) bersama tetangganya Efni, (Foto: Neno Karlina).

TENTANGPUAN.com – Sebulan setelah menempati Hunian Tetap (Huntap) di Desa Modisi, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, (Bolsel), perempuan penyintas erupsi Gunung Ruang masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Welsi Buangsamupihi (53) mengatakan, kondisi saat ini membuat perempuan harus memprioritaskan kebutuhan paling mendasar.

“Bagaimana kami harus memikirkan pembalut atau sekadar memikirkan lipstik, sedang untuk urusan perut saja kami kesulitan,” ujarnya, Kamis, (12/3/2024).

Kondisi serupa dirasakan Efni Mangoto (64). Ia menyebut bantuan pangan yang diterima baru sekali dan jumlahnya sangat terbatas.

“Meski kita berhemat, itu tidak cukup untuk seminggu. Apalagi jika satu rumah ada empat atau lima orang,” katanya.

Welsi dan Efni sebelumnya tinggal di pengungsian di Bitung selama 2 tahun, setelah sebelumnya harus meninggalkan kampung halaman di Pulau Ruang Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) karena erupsi gunung Ruang.

Setelah direlokasi ke Bolsel, mereka kesulitan untuk melanjutkan hidup. Padahal, sebelumnya pemerintah menjanjikan dukungan kebutuhan dasar selama enam bulan. Namun hingga kini, bantuan tersebut belum berjalan sesuai harapan.

Putri Lante (21), seorang ibu muda, mengaku tekanan ekonomi berimbas pada kondisi psikologisnya.

“Kalau melihat anak kelaparan, itu membuat frustasi,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, Selvie Salata (52) mencoba bertahan dengan berjualan kecil-kecilan.

“Ya untuk tambah-tambah. Kalau ditabung bisa buat beli beras,” ujarnya.

Upaya kecil itu menjadi salah satu cara perempuan penyintas menjaga dapur tetap menyala, meski di tengah ketidakpastian bantuan.