TENTANGPUAN.com – Di balik sorotan medali emas dan prestasi internasional yang diraih Zubair Azzam Husain, ada satu sosok yang tak kalah penting: ibunya sendiri, Endang Luwiti.
Ia bukan hanya seorang guru dan pelatih karate, tetapi juga ibu yang menanamkan semangat juang pada putranya sejak kecil.
Zubair Azzam, bocah kelahiran Gorontalo 10 April 2016, kini dikenal sebagai salah satu karateka cilik potensial dari Sulawesi Utara.
Tapi kisah keberhasilannya bukan semata tentang bakat–melainkan tentang kedekatan emosional dengan ibunya yang sekaligus menjadi pelatih, serta latihan tanpa henti di tengah keterbatasan.
“Yah mungkin, karena melihat saya latihan, sehingga Azzam mulai menyukai karate,” ujar Endang, yang juga mengajar di SMA Molibagu, saat dihubungi pada Senin (7/7/2025).
Ia mengenali semangat Azzam sejak dini. Meski usianya masih sangat muda, semangat dan ketangguhan mental Azzam sudah terlihat jelas.
“Saya melihat sendiri, sejak kecil dia punya daya juang tinggi. Bukan hanya latihan fisik, tapi dia anak yang tangguh mental. Setiap kali kalah, dia justru makin semangat untuk bangkit,” ungkapnya.
Sebagai pelatih di Institut Karate-Do Nasional (Inkanas) Bolsel, Endang tahu betul pentingnya ketekunan dalam olahraga bela diri. Maka latihan pun menjadi bagian dari rutinitas keluarga mereka. Azzam berlatih secara rutin, dengan disiplin dan tekad kuat, meski masih duduk di bangku SD Negeri 2 Molibagu.
Prestasi dari Latihan Keras
Perjalanan Azzam dimulai pada tahun 2023 di ajang KAJATI CUP Bitung, turun di kelas Pra Usia Dini -25 Kg. Sejak itu, prestasinya menanjak tajam:
- 2024 – Juara 3 KORMI Bolmut, Juara Liga INKANAS Manado (Kumite & KATA), dan tampil di Kapolda Cup
- Desember 2024 – Berlaga di Kejurnas INKANAS di Malang
- Februari 2025 – Juara 2 dan 3 di Kejuaraan Wadokai Gorontalo
- Mei 2025 – Juara 3 Kumite Usia Dini Bupati Cup
- Juni 2025 – Masuk 8 besar Kejuaraan Internasional di Malaysia
- 2025 – Medali emas di SHUREIDO INTERNATIONAL CUP
Dari Bolmut ke Manado, dari Gorontalo ke Malaysia, Azzam tak berhenti mengukir prestasi. Tapi lebih dari itu, yang membuat kisahnya istimewa adalah relasi mendalam antara anak dan ibunya–dua pejuang di satu arena yang sama.
Mimpi Besar, Dukungan Kecil
Di tengah keterbatasan fasilitas dan minimnya sponsor, Azzam tetap melaju. Cita-citanya bukan main-main: “Azzam mau seperti juara dunia Zaskia Salurante (Kakak Keong),” tutur Endang. Ia ingin keliling dunia sebagai atlet nasional, bahkan internasional.
Bagi banyak orang tua, prestasi anak adalah hasil dari dorongan. Tapi bagi Endang, prestasi Azzam adalah buah dari kepercayaan, bahwa seorang anak bisa berkembang bila disertai cinta, kedisiplinan, dan contoh nyata.
Azzam hari ini adalah simbol harapan bagi banyak anak di daerah–bahwa dalam dekapan dan didikan seorang ibu, bahkan dari pelosok Bolsel, bisa lahir atlet berkelas dunia.
Peliput: Ramansyah Banjar