Perjodohan

muara
Ilustrasi, (Foto: Pixabay).

TENTANGPUAN.COM – Pertanyaan sederhananya, “apakah seorang yang menulis mesti (suka) membaca?”

Seorang yang lebih layak disebut penulis, pernah berkata bahwa membaca sama pentingnya dengan menulis, bagi yang mengaku dan suka menekuni dunia penulisan. Berdasarkan itu, jika membaca satu buku sebulan saja aku tak sanggup– mungkin aku perlu merevisi pengakuan suka menulisku. Menulis yang lebih berkonotasi menyalurkan omelan sih sebenarnya.

Aku pikir kok, mengapa aku menjadi orang yang tak menghargai diri dengan berperilaku asal. Bagaimanapun kebahagian seorang penulis, salah satunya adalah menemukan pembaca yang tepat. Itu misi perjodohan yang memerlukan campur tangan dan campur hati dengan membaca yang istima’: penuh perhatian, dengan hati yang hadir. Pertemuan penulis dari hati dan pembaca dengan hati, tentulah seperti penyerbukan alami yang memekarkan bunga di taman-taman literasi.

Sungguh, aku pikir, aku tak perlu jadi orang yang pintar-pintar amat, cukup untuk dikatakan bisa minum tolak anginlah ha ha ha. Aku tak perlu memaksakan diri untuk menulis hal-hal yang luar biasa. Tapi jika memang aku ingin menulis dari hati, sebelumnya, aku harus belajar membaca dengan hati. Ya baiklah, ini kesimpulan prematur dari orang yang suka ngelantur.

Walau kenyataannya, seringkali aku tak paham dengan apa yang kubaca-baca itu. Entah, apa karena perbendaharaan kataku hanya segelintir, atau memang maknanya terlalu dalam untuk dijangkau.

Demi kedalaman itu, aku ingat kata-katanya Coelho, “… dia percaya bahwa dirinya gampang dimengerti, maka hilang sudah kesempatannya untuk dikatakan genius…”
Sebuah sindiran menggelitik, satire yang mencekam terhadap seorang penulis.

Hmmmm sederhana bukan berarti dangkal, kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published.