Pembatasan Rasa Sakit

pemilik hati
Ilustrasi (Pexels).

Tentangpuan.com – Hujan begitu rajin membumi, sedang aku sangat tak ingin melakukan apa-apa. Padahal, hujan yang aku lihat dari balik jendela kamar, siang ini, menjembatani imaji berpetualang dengan masa lalu yang tidak terbatas.

Orang-orang yang pernah menyayangiku, misalnya, berjejer satu per satu seperti buku yang berbaris bisu di rak ingatan. Membuat segenggam otakku terlihat telanjang di atas meja. Enggan berfungsi.

Sebulan sudah, aku tak menulis. Malas kian kronis lalu mencapai klimaksnya, pada seminggu belakangan. Hari terasa lambat, lalu aku mulai menyaman-nyamankan diri. Mereposisi hati, membiasakan sendiri. Bahwa manusia adalah makhluk sosial, dan atau lebih dalam lagi–sudah sunatullah manusia diciptakan sepasang. Selayak siang dan malam, itulah lelaki dan perempuan. Aku tak mau memikirkan.

Aku ingin berjalan seperti selayaknya. Mulai melupakan bahwa aku dicintai, ataupun mencintai sesorang. Tidak terpaku payung pada sesuatu yang berpotensi menyakiti. Bahwa hati kita, adalah milik kita sendiri. Pada titik ini, aku sampai pada kesimpulan, hidup terlalu singkat dan diri kita terlalu berharga untuk memikirkan, sesorang yang sebenarnya (mungkin) tidak akan begitu mempedulikan keinginan hati dan alur pemikiran kita.

Dan, tentang hatiku yang telah aku kunci, lalu kuncinya aku buang di sumur tergelap prinsip, sepertinya mulai mendapatkan tahta ketenangannya. Aku mulai lupa, aku mulai terbiasa, aku mulai bertumbuh, jadi sesorang yang meminimalisir rasa sakit.

Kadang aku berpikir, aku hanya tinggal menunggu waktu, untuk benar-benar melupakan orang-orang yang tidak pernah belajar menghargai waktu dan aku.

Leave a Reply

Your email address will not be published.