Beda Generasi, Beda Cara Menghadapi Masalah

Ilustrasi.

TENTANGPUAN.com – Pernahkah kamu melihat dua orang menghadapi masalah yang sama, tetapi mengambil keputusan yang berbeda?

Ketika kehilangan pekerjaan, misalnya, seseorang mungkin memilih segera mencari pekerjaan baru. Orang lain justru memanfaatkan situasi itu untuk mencoba usaha sampingan, mempelajari keterampilan baru, atau bahkan berganti bidang pekerjaan.

Perbedaan cara merespons masalah sering kali dikaitkan dengan generasi.

Gen Z kerap dianggap lebih cepat beradaptasi dengan perubahan dan lebih terbiasa menggunakan teknologi. Sementara milenial sering dipandang lebih berhati-hati karena sebagian dari mereka sudah berada pada fase kehidupan dengan tanggung jawab yang lebih besar.

Namun, apakah perbedaannya memang sesederhana itu?

Sejumlah riset terbaru menunjukkan bahwa Gen Z dan milenial sebenarnya menghadapi banyak persoalan yang sama. Tekanan ekonomi, ketidakpastian pekerjaan, perkembangan teknologi, kesehatan mental hingga kekhawatiran terhadap masa depan menjadi bagian dari pengalaman kedua generasi.

Yang berbeda tidak selalu masalahnya, tetapi pengalaman yang membentuk cara mereka membaca masalah dan menentukan respons.

Sama-sama Hidup di Tengah Ketidakpastian

Di Indonesia, temuan terbaru datang dari Indonesia Millennial & Gen Z Report (IMGR) 2027 yang dirilis IDN Research Institute pada Juni 2026.

Riset ini menggunakan metode campuran, mulai dari survei kuantitatif, wawancara mendalam hingga perbandingan dengan berbagai data nasional dan global. Sebanyak 628 responden Gen Z dan milenial dari berbagai wilayah di Indonesia dilibatkan dalam penelitian tersebut.

Salah satu tema yang ditemukan adalah adaptasi.

Tekanan ekonomi, perubahan teknologi dan ketidakpastian membuat Gen Z dan milenial mengembangkan strategi baru dalam mengatur kehidupan, mulai dari keuangan, karier hingga menentukan prioritas hidup.

Ini menunjukkan bahwa kedua generasi tidak sedang hidup dalam kondisi yang sepenuhnya berbeda.

Mereka sama-sama berusaha mencari cara untuk tetap berjalan ketika keadaan berubah lebih cepat daripada sebelumnya.

Ketika Satu Pekerjaan Tidak Lagi Terasa Cukup

Perubahan cara melihat keamanan finansial menjadi salah satu contohnya.

Bagi sebagian Gen Z dan milenial, memiliki satu pekerjaan tidak selalu dianggap cukup untuk memberikan rasa aman. Sumber pendapatan tambahan, keterampilan baru dan kemampuan berpindah ketika kondisi berubah mulai menjadi bagian dari strategi menghadapi ketidakpastian.

Temuan tersebut sejalan dengan survei Deloitte Global 2025 terhadap 23.482 Gen Z dan milenial di 44 negara.

Survei itu menunjukkan bahwa kedua generasi semakin melihat perkembangan karier bukan hanya sebagai proses menaiki tangga jabatan. Hanya 6 persen responden Gen Z dan milenial yang mengatakan tujuan karier utama mereka adalah mencapai posisi kepemimpinan.

Bagi mereka, kesempatan belajar, keamanan finansial, makna pekerjaan dan kesejahteraan juga menjadi bagian penting dari pertumbuhan karier.

Artinya, ketika generasi ini menghadapi masalah pekerjaan, pertanyaannya tidak selalu hanya tentang “bagaimana mendapatkan pekerjaan?”

Ada pertanyaan lain yang ikut muncul: Apakah pekerjaan itu cukup aman? Apakah masih ada waktu untuk kehidupan pribadi? Apakah ada kesempatan untuk berkembang? Dan apakah pekerjaan tersebut memiliki arti?

Gen Z Dekat Dengan Teknologi, Tetapi Bukan Berarti Tidak Khawatir

Salah satu perbedaan pengalaman antara Gen Z dan milenial adalah hubungan mereka dengan teknologi.

Gen Z tumbuh ketika internet dan media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Teknologi menjadi salah satu cara untuk mencari informasi, belajar, membangun jaringan hingga mencari peluang kerja.

Namun, kedekatan dengan teknologi tidak otomatis berarti Gen Z melihat setiap perkembangan teknologi sebagai sesuatu yang positif.

Riset Pew Research Center pada Februari 2026 menunjukkan bahwa 66 persen orang dewasa berusia 18–29 tahun di Amerika Serikat pernah menggunakan chatbot AI. Pada kelompok usia 30–49 tahun, angkanya 61 persen. Penggunaan memang lebih tinggi pada kelompok usia yang lebih muda, tetapi selisihnya tidak terlalu jauh.

Yang menarik justru cara mereka melihat dampak AI.

Sebanyak 48 persen responden usia 18–29 tahun memperkirakan dampak AI terhadap masyarakat dalam 20 tahun ke depan akan negatif. Pada kelompok usia 30–49 tahun, angkanya 39 persen.

Untuk dampak terhadap diri sendiri, 37 persen responden usia 18–29 tahun memperkirakan dampaknya negatif, dibandingkan 30 persen pada kelompok usia 30–49 tahun.

Jadi, generasi yang lebih dekat dengan teknologi tidak selalu lebih optimistis terhadap masa depannya.

Bahkan, riset Pew yang dilakukan pada Juni 2026 menunjukkan bahwa 55 persen orang berusia 18–29 tahun mengatakan penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari membuat mereka lebih khawatir daripada bersemangat. Angka tersebut naik dari 47 persen pada 2025 dan 39 persen pada 2024.

Kedekatan dengan teknologi ternyata bisa berjalan bersamaan dengan kekhawatiran terhadap dampaknya.

Milenial Menghadapi Masalah Dengan Pengalaman yang Berbeda

Sementara itu, sebagian besar milenial sudah berada pada fase kehidupan yang berbeda.

Banyak di antaranya telah membangun karier, memiliki pasangan, anak, rumah, cicilan atau tanggung jawab terhadap anggota keluarga lainnya.

Karena itu, keputusan yang diambil tidak selalu hanya berdampak pada dirinya sendiri.

Ketika ingin berganti pekerjaan, misalnya, pertimbangannya mungkin bukan hanya apakah pekerjaan baru lebih menarik.

Ada penghasilan keluarga yang harus dipikirkan. Ada cicilan. Ada biaya pendidikan anak. Ada kebutuhan orang tua. Ada pula kehidupan yang sudah dibangun selama bertahun-tahun.

Inilah mengapa dua orang dari generasi berbeda dapat mengambil keputusan berbeda ketika menghadapi masalah yang sama.

Bukan karena salah satunya lebih berani atau lebih takut. Mereka mungkin sedang menghitung risiko dengan kondisi kehidupan yang berbeda.

Survei Deloitte 2025 juga memperlihatkan bahwa persoalan finansial menjadi salah satu keresahan penting bagi kedua generasi.

Sebanyak 48 persen Gen Z dan 46 persen milenial yang disurvei mengatakan mereka tidak merasa aman secara finansial. Lebih dari separuh responden dari kedua kelompok juga mengatakan mereka hidup dari satu pendapatan ke pendapatan berikutnya.

Di saat yang sama, pekerjaan tidak hanya dipandang sebagai sumber pendapatan.

Sebanyak 92 persen milenial dan 89 persen Gen Z dalam survei tersebut mengatakan bahwa memiliki tujuan atau purpose penting bagi kepuasan dan kesejahteraan mereka dalam pekerjaan.

Ini membantu menjelaskan mengapa istilah seperti side hustle, fleksibilitas kerja, work-life balance dan pengembangan keterampilan menjadi semakin sering muncul dalam pembicaraan tentang dunia kerja generasi muda.

Bukan semata karena mereka tidak ingin bekerja keras.

Mereka sedang mendefinisikan ulang apa yang dianggap sebagai kehidupan kerja yang baik.

Masalah yang Sama, Pertimbangan yang Berbeda

Bayangkan dua orang menghadapi situasi yang sama, tempat kerja mulai menggunakan AI untuk mengerjakan sebagian pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia.

Seorang Gen Z mungkin segera berpikir untuk mempelajari keterampilan baru. Ia mencari kursus, mencoba menggunakan AI dan mulai mempertimbangkan bidang pekerjaan lain.

Seorang milenial mungkin melakukan hal yang sama. Namun, ia mungkin memiliki pertimbangan tambahan, bagaimana memastikan pendapatan keluarga tetap aman ketika proses perubahan pekerjaan berlangsung?

Keduanya sedang beradaptasi. Tetapi titik awal dan risiko yang mereka hadapi berbeda.

Karena itu, menyebut Gen Z sebagai generasi yang lebih fleksibel atau milenial sebagai generasi yang lebih tahan menghadapi masalah terlalu sederhana.

Cara seseorang merespons persoalan juga dipengaruhi oleh usia, kondisi ekonomi, pendidikan, pekerjaan, keluarga, lingkungan sosial dan pengalaman hidup. Generasi hanya salah satu bagian dari cerita.

Media Sosial Ikut Mengubah Cara Melihat Masalah

Ada perubahan lain yang sulit dipisahkan dari pengalaman kedua generasi: cara mendapatkan informasi.

Gen Z terbiasa melihat pengalaman orang lain melalui TikTok, Instagram, YouTube dan berbagai platform digital. Sebuah pengalaman pribadi dapat dengan cepat berubah menjadi percakapan publik.

Masalah pekerjaan, hubungan, uang, kesehatan mental bahkan keputusan sehari-hari dapat dibicarakan dan dibandingkan dengan pengalaman orang lain.

Seseorang tidak lagi hanya bertanya kepada keluarga atau teman dekat.

Ia dapat mencari pengalaman orang yang bahkan tidak dikenalnya.

Milenial juga hidup di ruang digital, tetapi banyak dari mereka mengalami masa transisi. Mereka mengenal kehidupan sebelum media sosial menjadi bagian besar dari keseharian, kemudian beradaptasi ketika teknologi tersebut berkembang.

Pengalaman yang berbeda ini dapat memengaruhi cara seseorang menerima informasi dan mengambil keputusan.

Tetapi sekali lagi, ini bukan batas yang berlaku untuk setiap orang.

Pew Research Center mengingatkan bahwa kategori generasi seperti Gen Z dan milenial merupakan cara untuk membaca kecenderungan kelompok, bukan aturan yang menentukan perilaku setiap individu.

Karena itu, tidak semua Gen Z memiliki cara berpikir yang sama.

Tidak semua milenial juga menghadapi persoalan dengan cara yang sama.

Seorang Gen Z yang harus membantu ekonomi keluarganya dapat memiliki cara melihat uang yang berbeda dengan Gen Z yang mendapat dukungan finansial penuh dari keluarga.

Begitu pula seorang milenial yang hidup sendiri dapat menghadapi keputusan berbeda dengan milenial yang memiliki anak dan tanggungan keluarga.

Kondisi kehidupan ikut menentukan bagaimana seseorang membaca sebuah masalah.

Pada akhirnya, perbedaan Gen Z dan milenial tidak harus berakhir pada pertanyaan siapa yang lebih baik dalam menghadapi masalah.

Keduanya tumbuh dalam konteks yang berbeda.

Milenial mengalami masa transisi dari dunia yang relatif analog menuju kehidupan digital. Mereka memasuki dunia kerja ketika internet berkembang pesat, kemudian menghadapi pandemi, perubahan ekonomi dan transformasi teknologi.

Gen Z memasuki usia dewasa ketika media sosial, teknologi digital dan kini AI sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Keduanya sama-sama menghadapi dunia yang berubah cepat.

Hanya saja, pengalaman yang mereka bawa ketika menghadapi perubahan itu tidak sama.

Karena itu, ketika Gen Z dan milenial melihat persoalan yang sama, perbedaan respons sebenarnya dapat dipahami dari konteks masing-masing.

Yang satu mungkin bertanya, “Bagaimana saya bisa beradaptasi secepat mungkin?”

Yang lain mungkin bertanya, “Bagaimana saya bisa beradaptasi tanpa mempertaruhkan apa yang sudah saya bangun?”

Keduanya sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang sama: bagaimana tetap menjalani hidup ketika keadaan terus berubah.

Mungkin, memahami perbedaan itu jauh lebih menarik daripada sekadar memberi label pada sebuah generasi.