TENTANGPUAN.com – Semilir angin menyapa wajah bersamaan dengan terik matahari. Atin Kobandaha (54) berteduh di bawah payung yang dimodifikasi dengan penyangga sebatang kayu. Ia tampak asyik mengupas kulit jagung kering di depan tumpukan batang jagung yang menguning.
Di tengah panas yang menyengat, tangannya cekatan memisahkan kulit dari tongkol, gerak berulang yang telah ia jalani hampir tiga tahun terakhir.
Bersama perempuan lainnya di Desa Kopandakan II Kabupaten Bolaang Mongondow, Atin menghabiskan waktu dari pagi hingga sore di kebun jagung setiap musim panen.
“Anggaplah olahraga. Kalau begini masih bisa terkena sinar matahari jadi bisa berkeringat,” kata Atin saat ditemui di lokasi kerja, Selasa (7/4/2025).

Meski sempat dilarang oleh anaknya, Atin memilih tetap bekerja. Bukan semata soal mengisi waktu, tetapi juga tentang mempertahankan kemandirian ekonomi di usia yang kian menua.
Dengan upah Rp7 ribu per karung, ia bisa memperoleh sekitar Rp161 ribu sehari, jumlah yang berarti, namun tetap bergantung pada kekuatan fisik dan waktu kerja yang panjang.
“Ya tergantung, kalau cepat datang atau sejak pagi bekerja bisa dapat banyak. Kalau datangnya nanti siang hari, ya tentu sedikit juga,” jelasnya.
Bagi perempuan seperti Atin, kerja bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga soal ruang untuk tetap merasa berguna. Hal serupa disampaikan Jasmi Kobandaha (50), yang melihat aktivitas mengupas jagung sebagai cara bertahan, termasuk secara sosial.
Menurutnya, pekerjaan ini menjaga dirinya dari keterasingan di usia senja. Bersama perempuan lain, ia tergabung dalam kelompok pengupas jagung yang saling terhubung melalui WhatsApp membentuk jejaring kerja informal berbasis solidaritas.
“Tinggal berkabar di grup, nanti teman-teman yang ada waktu pasti langsung mengiyakan,” ujarnya sambil tertawa.

Namun, di balik solidaritas itu, tidak ada jaminan kerja, perlindungan kesehatan, atau kepastian upah. Relasi kerja yang terbangun sepenuhnya berbasis kepercayaan dan kebutuhan.
Bagi pemilik kebun, sistem ini justru memudahkan. Sayi’in Guma, yang akrab disapa Papa Arya, mengaku tidak lagi kesulitan mencari tenaga kerja.
“Cukup hubungi satu orang, nanti yang datang biasanya sudah satu tim,” katanya.
Ia hanya menyediakan makanan ringan dan kopi, sementara para pekerja membawa bekal sendiri.
Di balik aktivitas yang tampak sederhana ini, para perempuan lansia berada di persimpangan antara kebutuhan ekonomi, keterbatasan pilihan kerja, dan minimnya perlindungan sosial.
Sejumlah penelitian pada 2025 menunjukkan bahwa aktivitas fisik pada usia lanjut berdampak positif terhadap kesehatan. Studi dalam Jurnal Pedagogik Olahraga menyebutkan, lansia yang aktif secara fisik cenderung memiliki kebugaran tubuh, fungsi kognitif, dan kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan mereka yang kurang bergerak.
Temuan serupa juga dimuat dalam Jurnal Kesehatan Al-Irsyad, yang menyoroti hubungan erat antara aktivitas fisik dengan kualitas hidup lansia, baik dari aspek fisik, sosial, maupun emosional.
Namun, dalam konteks kerja informal, aktivitas tersebut tidak selalu lahir dari pilihan bebas, melainkan dari kebutuhan untuk bertahan secara ekonomi.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa tanpa perlindungan memadai, lansia yang tetap bekerja berisiko mengalami kelelahan fisik, penurunan kesehatan, hingga kerentanan ekonomi yang berkelanjutan. Dengan kata lain, kerja di usia lanjut dapat menjadi pedang bermata dua, menjaga tubuh tetap aktif, sekaligus memperlihatkan celah dalam sistem perlindungan sosial bagi kelompok rentan.
Kondisi ini beririsan dengan kebijakan negara. Dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, pemerintah menegaskan bahwa lansia berhak memperoleh perlindungan sosial, termasuk akses terhadap pelayanan kesehatan, kesempatan kerja yang layak, serta jaminan sosial untuk memenuhi kebutuhan hidup secara wajar.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak pra dan bahkan lansia, khususnya perempuan di sektor informal, masih bekerja tanpa perlindungan tersebut.
Bagi Atin, pilihan itu mungkin tidak pernah hadir dalam bentuk ideal. Namun selama tubuhnya masih mampu bergerak, ia memilih tetap bekerja di antara panas, tawa, dan kebersamaan yang ia temukan di kebun jagung.
“Selama masih kuat, saya tetap mau kerja. Biar badan sehat, hati juga senang,” tutup Atin.

