TENTANGPUAN.com – Ramadan menjadi bulan yang penuh makna bagi umat Muslim. Namun, bagi sebagian perempuan pekerja informal, bulan puasa juga menghadirkan tantangan tersendiri. Di tengah kewajiban beribadah, mereka tetap harus bekerja agar dapur keluarga tetap menyala.
Sartika Kadi, seorang penjual takjil di Motoboi Kecil, Kota Kotamobagu, misalnya, memulai aktivitasnya sejak pagi hari.
Setelah menyiapkan kebutuhan rumah tangga dan sahur untuk keluarga, ia langsung berbelanja bahan jualan sebelum kembali ke rumah untuk memasak berbagai menu berbuka puasa.
“Kalau Ramadan justru lebih capek, karena selain puasa kita juga harus siapkan jualan. Tapi ini kesempatan juga, karena penghasilan bisa sedikit lebih baik dibanding hari biasa,” ujar Sartika saat ditemui di lapaknya, Minggu, (1/3/2026).

Setiap hari, Sartika menyiapkan aneka takjil seperti kolak, es buah, dan kue tradisional yang dijual menjelang waktu berbuka.
Ia mengaku, penghasilan dari berjualan takjil menjadi sumber utama untuk memenuhi kebutuhan keluarga selama Ramadan hingga Lebaran.
Menurutnya, menjadi perempuan pekerja informal berarti harus mampu membagi waktu antara pekerjaan domestik dan pekerjaan mencari nafkah. Setelah berjualan hingga waktu berbuka, Sartika masih harus kembali ke rumah untuk melanjutkan pekerjaan rumah tangga.
“Kadang habis buka puasa rasanya sudah sangat lelah, tapi masih harus bereskan rumah dan siapkan lagi untuk besok. Namanya juga ibu, tidak bisa berhenti,” katanya.
Cerita serupa juga dialami Sri Murniyati, pembuat kue lapis rumahan yang tetap memproduksi dagangannya sepanjang Ramadan. Permintaan kue yang meningkat membuatnya harus tetap bekerja meski dalam kondisi berpuasa.
Sri menuturkan, tantangan terbesar bukan hanya menahan lelah, tetapi juga kesulitan mendapatkan gas elpiji yang menjadi kebutuhan utama dalam proses produksi.

“Kalau gas susah didapat, itu yang paling berat. Kita sudah capek puasa, tapi tetap harus cari supaya bisa masak besok,” ujarnya.
Seusai menunaikan salat tarawih, Sri bersama sejumlah perempuan lain kerap harus mengantre gas hingga larut malam. Tidak jarang antrean berlangsung sampai menjelang waktu salat Subuh.
“Kadang selesai antre sudah hampir Subuh. Waktu istirahat jadi sangat sedikit, tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak ada gas kita tidak bisa jualan,” kata Sri.
Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana Ramadan bagi perempuan pekerja informal tidak hanya menjadi ruang spiritual, tetapi juga ruang kerja yang semakin panjang. Mereka menjalankan ibadah sambil tetap memastikan ekonomi keluarga bertahan.
Data riset Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen perempuan pekerja di Indonesia berada di sektor informal, yang umumnya tidak memiliki kepastian pendapatan, jaminan sosial, maupun perlindungan kerja.
Situasi ini membuat perempuan lebih rentan mengalami beban kerja berlapis, terutama pada momentum seperti Ramadan ketika kebutuhan rumah tangga meningkat.
Dalam konteks keagamaan, kerja keras perempuan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sejalan dengan nilai Islam tentang ikhtiar. Al-Qur’an dalam Surah At-Taubah ayat 105 menyebutkan:
“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa kerja dan usaha merupakan bagian dari ibadah, selama dijalankan dengan niat yang baik dan tanggung jawab.
Fenomena yang dialami Sartika dan Sri juga mencerminkan realitas banyak perempuan lain, mulai dari buruh harian, pengemudi ojek online perempuan, hingga penjual kue rumahan, yang tetap bekerja selama Ramadan tanpa jeda cukup antara ruang domestik dan ruang ekonomi.
Bagi mereka, keberhasilan menjalani Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
“Yang penting anak-anak tetap makan, kebutuhan rumah jalan, dan kita masih bisa ibadah. Itu sudah cukup,” tutur Sartika.
Di balik ramainya lapak takjil dan kue berbuka puasa setiap sore, ada kerja sunyi perempuan-perempuan yang menjaga dua hal sekaligus, keberlangsungan ibadah dan keberlangsungan hidup keluarga. Ramadan, bagi mereka, adalah tentang iman yang berjalan beriringan dengan perjuangan ekonomi sehari-hari.

