Nanas Muda dan Budaya Menghakimi Perempuan yang Terus Diulang Tiap Tahun Baru

/
ilustrasi

TENTANGPUAN.com – Setiap akhir tahun, media sosial Indonesia hampir selalu mengulang pola yang sama tentang nanas muda yang kembali jadi bahan candaan. Dari unggahan bernada “guyon” hingga komentar sinis di kolom media sosial. Buah ini dilekatkan pada mitos pencegah kehamilan dan, hampir selalu, perempuan yang dijadikan sasaran.

Yang sering luput disadari, candaan soal nanas muda bukan sekadar humor receh.

Ia adalah bagian dari seksisme sehari-hari yang bekerja halus, tapi konsisten, dengan mengontrol tubuh dan moral perempuan melalui stigma.

Candaan Seksis yang Dibungkus “Humor”

Jika seorang perempuan membeli nanas di akhir tahun, asumsi langsung bermunculan. Ia dipertanyakan, ditebak, bahkan dihakimi. Sebaliknya, ketika laki-laki membeli atau mengonsumsi nanas, hampir tidak ada makna sosial yang dilekatkan.

Fenomena ini menunjukkan standar ganda yang masih kuat, bahwa tubuh perempuan dianggap layak diawasi, sementara tubuh laki-laki dibiarkan netral.

Dalam budaya digital, candaan nanas muda menjadi alat untuk menertibkan perempuan dengan dalih humor, padahal sarat kontrol sosial.

Padahal, berdasarkan data produksi pangan, nanas adalah buah konsumsi harian yang sangat umum.

Indonesia memproduksi sekitar 2,89 juta ton nanas pada 2022, dan permintaan nanas memang rutin meningkat menjelang hari besar, termasuk Tahun Baru. Kenaikan penjualan ini soal dapur dan pasar, bukan soal moral atau seksualitas.

Mitos Medis yang Menyesatkan, Tubuh Perempuan yang Disalahkan

Secara medis, klaim bahwa nanas muda bisa mencegah kehamilan atau menggugurkan kandungan tidak terbukti secara ilmiah.

Nanas mengandung enzim bromelain, tetapi dalam kadar yang sangat kecil untuk memberi dampak pada kehamilan.

Tenaga medis dan literatur kesehatan menegaskan bahwa untuk mencapai efek berisiko, seseorang harus mengonsumsi hingga 7–10 buah nanas utuh sekaligus. Sesuatu yang nyaris mustahil dan justru berbahaya bagi pencernaan. Yang lebih mungkin terjadi justru diare, iritasi mulut, dan gangguan lambung.

Namun ironisnya, alih-alih mengedukasi soal kontrasepsi yang aman dan hak atas kesehatan reproduksi, banyak orang justru memilih menyebarkan mitos, dan lagi-lagi, perempuan yang menanggung stigma.

Buah Bukan Masalahnya, Budaya Seksismenya yang Harus Dibongkar

Nanas muda tidak pernah menjadi masalah. Yang bermasalah adalah cara masyarakat menggunakan mitos untuk mengontrol, mengomentari, dan merendahkan perempuan.

Ketika tubuh perempuan terus diasosiasikan dengan “risiko”, “aib”, dan “kesalahan”, maka candaan semacam ini ikut melanggengkan budaya menyalahkan korban.

Media dan ruang anak muda punya peran penting untuk memutus siklus ini. Menggeser percakapan dari stigma ke pengetahuan, dari candaan seksis ke edukasi kesehatan reproduksi yang berbasis sains dan hak asasi.

Tahun baru seharusnya menjadi ruang aman untuk semua orang tanpa penghakiman, tanpa asumsi, tanpa seksisme. Karena tubuh perempuan bukan bahan lelucon, dan kesehatan reproduksi bukan mitos.