Citra Yuliani Samin, Bhayangkari yang Membangun Keteladanan dari Rumah

Citra Yuliani Samin

TENTANGPUAN.com – Subuh baru saja menyapa Kelurahan Mongkonai Barat. Dari balik kabut tipis, cahaya lampu jalan berpendar lembut berpadu dengan lantunan azan dari Masjid Ar-Rayan.

Di antara langkah orang-orang yang baru beranjak dari sajadah, tampak seorang pria berjalan dengan pakaian sederhana dan senyum ramah.

Ia adalah Bripka Riza Rahmat Totondeng, polisi muda yang menumbuhkan kepercayaan publik lewat tindakan kecil yang konsisten.

Namun, di balik keteladanan itu, ada sosok perempuan yang menjadi penopang ketenangan dan keseimbangan hidupnya, Citra Yuliani Samin.

Sebagai istri seorang polisi, Citra memilih hidup sederhana dan mandiri. Ia menolak hidup dalam gemerlap citra Bhayangkari yang sering diasosiasikan dengan kemewahan.

Di rumahnya di Mongkonai Barat, ia menekuni usaha kuliner rumahan yang tumbuh dari tangan dan ketekunannya sendiri.

Berbagai olahan dessert yang diprodusi Citra, (Foto: Dokumen pribadi).

Produk andalannya—klapertart, puding, dan aneka kue manis—kini dikenal luas dan digemari banyak pelanggan. Ia bahkan beberapa kali mendapat penghargaan dari komunitas ojek online yang bermitra dengannya.

“Usaha ini awalnya kecil, hanya untuk bantu ekonomi keluarga. Lama-lama banyak yang suka, dan saya terus belajar promosi lewat media sosial,” tutur Citra dengan senyum hangat.

Baginya, dapur bukan sekadar ruang domestik, melainkan ruang pemberdayaan.

Kesetaraan dan kemitraan menjadi fondasi kuat dalam rumah tangga mereka. Riza tidak sekadar mendukung, tetapi ikut turun tangan dalam pekerjaan rumah dan usaha istrinya. Ia membantu membelah kelapa, menghubungi penjual bahan, hingga mengantarkan pesanan pelanggan saat lepas dinas.

“Saya berusaha meneladani Rasulullah dalam berumah tangga. Beliau ketika di rumah sering mengambil tugas-tugas istri. Begitupun saya, semampu mungkin saya mendukung usaha kuliner istri,” ujar Riza.

Bagi pasangan ini, kesetaraan bukan slogan, melainkan cara hidup.

“Pegangan hidup saya adalah Al-Qur’an dan Sunnah, serta jangan sombong dan harus rendah hati,” kata Riza. Citra pun membenarkan hal itu. “Syukurnya dia memang begitu—sederhana dan tidak gengsian,” ujarnya.

Keluarga ini menjadi contoh kecil dari hasil riset Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) Universitas Gadjah Mada tahun 2022 yang menyebut keluarga dengan pembagian peran setara antara suami dan istri memiliki tingkat kesejahteraan dan kepuasan hidup yang lebih tinggi dibanding keluarga dengan pola tradisional.

Bagi Citra dan Riza, kerja sama di dapur sama mulianya dengan kerja sama di lapangan tugas. Nilai-nilai itu mereka hidupkan setiap hari, dengan cinta, kerja keras, dan saling menghormati.

“Tidak perlu malu berbuat baik,” tulis Citra dalam salah satu unggahan media sosialnya.

Nilai sederhana yang ditanamkan di rumah juga mempengaruhi cara Riza bekerja di lapangan. Ia dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan dekat dengan warga.

“Orangnya baik, bahkan kalau tidak pakai seragam, orang tidak tahu kalau dia polisi,” ujar Abi Aisyah, penjual sayur keliling di lorong rumahnya. “Oh kalau Papa Agan (Bripka Riza), jangan ditanya, orangnya memang baik sekali,” tambah salah satu tetangga yang kerap disapa Mas.

Dalam tugasnya, Riza memegang teguh amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, bahwa tugas polisi adalah melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat.

Ia juga menjadi salah satu dari enam personel Polres Kotamobagu yang menerima piagam penghargaan atas prestasi di bidang operasional kepolisian berdasarkan Skep Kapolres Kotamobagu Nomor: Kep/06/II/2020 tanggal 17 Februari 2020.

“Makna penghargaan itu memotivasi saya agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari kemarin, sehingga dapat menunjang tugas saya sebagai pengayom, pelindung, dan pelayan masyarakat,” ujar Riza.

Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Kapolres Kotamobagu saat itu, AKBP Prasetya Sejati, SIK.

“Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada personel yang telah mengukir prestasi dalam pelaksanaan tugas. Prestasi diapresiasi melalui pemberian penghargaan sebagai bentuk pengakuan, menjadi kebanggaan, motivasi sehingga prestasi dapat dipertahankan dan dikembangkan,” ujar Kapolres sebagaimana dikutip dari situs tribratanews.polreskotamobagu.com yang terbit 24 Februari 2020.

Kehidupan keluarga kecil ini menunjukkan bahwa keteladanan tidak hanya dibangun di kantor atau di jalanan, tetapi juga di rumah. Pendekatan hidup mereka sejalan dengan hasil riset BBC Media Action tahun 2015 yang menyebut masyarakat kini menginginkan lembaga negara yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan solusi dan inspirasi.

Dalam konteks sosial, kehadiran Citra dan Riza menjadi wujud nyata dari constructive citizenship—peran warga dalam menumbuhkan kepercayaan sosial melalui tindakan kecil yang tulus.

Dari dapur rumahnya, Citra menanam nilai kemandirian dan kesetaraan yang tumbuh menjadi keteladanan publik. Ia membuktikan bahwa di balik setiap polisi yang mengayomi masyarakat, ada perempuan yang ikut menanam benih nilai-nilai kemanusiaan dengan tangan dan hatinya sendiri.