Cerita Wayan Watiani tatkala Ikut Program Transmigrasi ke Dumoga

Suasana Balai Banjar Desa Mopugad Selatan yang menjadi salah satu pemukiman eks transmigrasi Bali di Dumoga, (Foto: Tentangpuan.com/Non).

TENTANGPUAN.com – Di balik sejarah panjang transmigrasi ke dataran Dumoga, tersimpan kisah keteguhan perempuan yang jarang disorot. Salah satunya adalah Wayan Watiani (63), perempuan Bali yang sejak usia belia meninggalkan kampung halamannya demi membangun kehidupan baru di Desa Mopugad Selatan I, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

Wayan adalah anak sulung dari sembilan bersaudara. Delapan adiknya hingga kini masih tinggal di Bali. Hanya dirinya yang mengikuti sang suami, I Nyoman Sariawan (75), transmigrasi ke Sulawesi Utara pada 1974. Saat itu, Wayan baru berusia 15 tahun ketika menikah, dan belum genap dua tahun membina rumah tangga ketika keputusan besar itu diambil.

“Waktu itu, kami datang secara mandiri, bukan karena bencana meletusnya Gunung Agung seperti yang lainnya,” jelas Nyoman, pada medio Desember 2025 lalu, saat ditemui di kediamannya.

Keputusan ikut transmigrasi bukan perkara ringan, terutama bagi Wayan yang harus meninggalkan keluarga besar dan menghadapi ketidakpastian di tanah baru.

Ia masih mengingat bagaimana perjalanan panjang menuju Sulawesi Utara ditempuh bersama ratusan orang lain menggunakan kapal perang KRI Lau, sebelum akhirnya tiba di Dumoga.

“Waktu itu, saya dan para perempuan ditinggal di camp (Werdhi Agung), laki-laki ke lokasi (Mopugad Selatan 1) untuk membersihkan lahan sebab dulu belum begini,” kata Wayan.

Selama sebulan, Wayan bertahan di camp transmigrasi, sebelum akhirnya tinggal di gubuk sederhana yang dibangun suaminya. Kehidupan awal di Dumoga dijalani dengan keterbatasan. Mereka hanya membawa bekal Rp15 ribu, hasil penjualan ternak dan bantuan orang tua.

Dalam masa-masa awal itu, peran Wayan sebagai perempuan tidak hanya terbatas pada urusan domestik. Ia terlibat langsung dalam strategi bertahan hidup keluarga, mulai dari mengelola bantuan pemerintah hingga ikut mengolah lahan pertanian.

“Kan beras sudah ada, jadi kami jual kedelai untuk kemudian membeli minyak tanah dan kebutuhan lainnya di pasar itu,” cerita Wayan.

Bersama suaminya, Wayan menanam kedelai dan ubi kayu di lahan dua hektar yang diberikan pemerintah. Setiap kali hasil panen dijual ke Pasar Doloduo, mereka harus berjalan kaki melewati jalan becek yang belum diaspal. Situasi ini menunjukkan bagaimana perempuan transmigran ikut memikul beban ekonomi keluarga sejak awal.

Kini, puluhan tahun berlalu, Wayan dan Nyoman telah memiliki cucu dari dua anak. Seluruh anak mereka lahir dan besar di Mopugad Selatan I. Kehidupan ekonomi yang mereka bangun perlahan dinilai jauh lebih baik dibandingkan masa lalu di Bali.

“Jadi kalau ke sana, kami itu jadi seperti tamu,” ujar Wayan sambil tertawa.

Bagi Wayan, Dumoga bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ruang hidup yang memberi rasa aman secara sosial dan ekonomi. Meski hidup berdampingan dengan masyarakat Mongondow dan Minahasa, ia tidak pernah merasakan konflik yang berarti.

“Waktu itu, di Bali masih sulit, belum semaju saat ini, apalagi tanah di sana juga sudah banyak dikuasai orang lain. Bule sudah masuk hingga ke desa, jelas lahan juga susah. Pokoknya di sini lebih baik kehidupan, masih banyak pekerjaan dan tempat untuk tinggal,” aku Wayan.

Pernyataan itu menegaskan pengalaman perempuan transmigran yang sering kali menghadapi keterbatasan akses lahan di daerah asal, namun justru menemukan ruang bertahan dan berdaya di wilayah baru.

“Di sini (Bolmong) adalah tanah air, tempat kami hidup, apalagi anak-anak semuanya lahir di sini,” kata Nyoman menimpali.

Dalam keseharian, Wayan juga mengenal sistem mosakap atau tumuyu, yakni menggarap lahan orang lain dengan sistem bagi hasil. Pola ini memungkinkan keluarga tanpa lahan tetap bisa bertani dan bertahan hidup.

“Satu itu dalam bentuk gabah padi, terserah mau digiling di mana. Kalau pengolah dari bibit sampai obat-obatan (pupuk) ditanggung, ia juga yang menggarap jadi bagiannya hitungannya dua,” jelas Nyoman.

Meski tantangan pertanian semakin berat akibat mahalnya pupuk dan bibit, Wayan tetap melihat Dumoga sebagai ruang hidup yang lebih menjanjikan, terutama bagi perempuan yang ingin memastikan keberlangsungan ekonomi keluarga.

Kini, Wayan dan Nyoman menetap di lahan transmigrasi yang telah bersertifikat. Di atasnya berdiri tiga rumah dan satu pura, menjadi penanda bahwa perjalanan panjang perempuan transmigran seperti Wayan bukan hanya soal berpindah tempat, tetapi tentang membangun akar kehidupan di tanah baru.