TENTANGPUAN.com – Dunia yang serba digital telah mengubah banyak hal, termasuk cara tubuh kita bergerak. Aktivitas harian yang dulu melibatkan banyak gerakan kini digantikan oleh layar, kursi, dan ruang kerja yang statis. Namun, tren baru menunjukkan kesadaran yang berbeda: orang mulai kembali menghargai gerak sebagai bagian dari keseimbangan hidup, bukan sekadar olahraga.
Olahraga kini tak lagi terbatas pada mereka yang berlangganan gym mahal atau mengenakan pakaian atletik bermerk. Di banyak kota, termasuk kota kecil, kita melihat orang berjalan santai di sore hari, bersepeda ke pasar, atau mengikuti kelas yoga di taman. Gaya hidup aktif ini tumbuh sebagai bentuk perlawanan terhadap rutinitas yang mengekang tubuh dan pikiran.
Kesadaran baru ini disebut sebagai movement lifestyle — gerakan tubuh yang tidak dibatasi ruang dan waktu. Ia bisa dilakukan kapan saja, di mana saja: naik tangga ketimbang lift, peregangan di sela rapat daring, atau sekadar berjalan sambil mendengarkan lagu favorit. Gerak menjadi cara sederhana menjaga tubuh tetap hidup.
Tak berhenti di situ, banyak orang mulai menerapkan slow living dan minimalist life, dua tren yang mengajarkan tentang ritme. Bahwa hidup tidak perlu selalu cepat, dan keseimbangan tidak datang dari produktivitas tinggi, melainkan dari kesadaran atas setiap langkah yang dijalani.
Fenomena ini juga muncul karena tekanan kerja digital yang membuat banyak orang terjebak dalam gaya hidup sedentary. Duduk berjam-jam di depan layar telah menjadi kebiasaan yang secara perlahan merusak postur, metabolisme, dan bahkan suasana hati. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu bisa menurunkan risiko penyakit jantung, stroke, dan depresi hingga 30 persen.
Keseimbangan kini menjadi kata kunci. Orang mulai menata ulang waktu mereka: kapan bekerja, kapan bergerak, kapan beristirahat. Tidak lagi memuja kesibukan, tetapi mengakui pentingnya jeda. Bahkan banyak perusahaan mulai menyesuaikan budaya kerja mereka agar memberi ruang bagi aktivitas fisik ringan dan waktu pribadi.
Namun, semangat ini tak selalu mudah diwujudkan. Tantangan terbesar datang dari kurangnya infrastruktur publik yang mendukung gaya hidup aktif. Di banyak kota, trotoar masih sempit, jalur sepeda tidak aman, dan ruang terbuka hijau terus menyempit karena pembangunan.
Padahal, ruang publik adalah nafas bagi gerakan ini. Ia memberi kesempatan bagi siapa pun untuk bergerak tanpa biaya, tanpa batasan sosial, dan tanpa rasa canggung. Pemerintah daerah seharusnya membaca tren ini sebagai kebutuhan masyarakat modern, bukan sekadar fasilitas tambahan.
Kementerian Pemuda dan Olahraga telah mendorong hal ini melalui Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Keolahragaan Masyarakat, yang menekankan pentingnya ruang publik dan kegiatan olahraga berbasis komunitas. Regulasi ini menegaskan bahwa olahraga adalah hak warga negara, bukan privilese kelas tertentu.
Dukungan infrastruktur dan kebijakan publik inilah yang bisa menjaga gerakan ini tetap hidup. Karena tanpa dukungan itu, gaya hidup aktif hanya akan menjadi tren media sosial—cantik di foto, tapi sulit diterapkan di keseharian.
Penelitian dari Harvard School of Public Health menunjukkan, berjalan kaki minimal 30 menit per hari dapat meningkatkan fungsi kognitif dan mengurangi risiko stres kronis. Artinya, gerakan sederhana pun punya dampak besar bagi tubuh dan jiwa.
Keseimbangan harian juga melibatkan hubungan sosial. Orang yang aktif bergerak cenderung lebih banyak berinteraksi, memiliki kualitas tidur lebih baik, dan merasa lebih bahagia. Gerak tidak hanya menyehatkan tubuh, tapi juga membuka ruang bagi koneksi dan kebersamaan.
Bagi banyak perempuan, tren ini membawa makna ganda. Ia menjadi cara untuk merebut kembali waktu pribadi di tengah padatnya kerja perawatan di rumah. Meluangkan waktu untuk jalan pagi, menari, atau yoga bukan sekadar hobi — tapi bentuk penghormatan terhadap diri sendiri.
Kini, gaya hidup aktif bukan tentang seberapa banyak kalori dibakar, melainkan bagaimana tubuh, pikiran, dan hati bisa bergerak seirama. Tentang bagaimana langkah-langkah kecil bisa mengembalikan kesadaran akan keberadaan diri di dunia yang terlalu cepat berubah.
Gerak menjadi bentuk meditasinya sendiri — sebuah pengingat bahwa keseimbangan bukanlah titik, melainkan proses. Bahwa tubuh yang sehat bukan tujuan akhir, melainkan rumah bagi jiwa yang tenang.
Dan di tengah hiruk-pikuk hidup digital, barangkali keseimbangan yang sejati justru ditemukan dalam langkah paling sederhana: satu tarikan napas, satu ayunan kaki, satu detik untuk berhenti dan benar-benar hadir.

