TENTANGPUAN.com – Hampir dua tahun setelah erupsi Gunung Ruang pada April 2024, akses pendidikan bagi anak-anak penyintas di Hunian Tetap (Huntap) Modisi, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, masih belum sepenuhnya pulih.
Hingga kini, sebagian besar anak belum kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar secara normal.
Desta Natanael Sadaikum (12), salah satu anak penyintas, mengaku rindu kembali bersekolah. Sejak pindah ke Huntap Modisi sekitar sebulan lalu, ia belum lagi mengikuti proses belajar di kelas.
“Dulu waktu di pengungsian sempat belajar lagi. Tapi di sini belum, sekolah belum buka,” ujar Desta, Kamis (12/3/2026).
Kondisi tersebut membuat orang tua khawatir. Anita Awumbas (34), ibu Desta, mengatakan anaknya kini hanya berada di rumah tanpa aktivitas belajar yang jelas.
“Sebulan di sini belum sekolah. Sekolahnya masih belum dibuka. Kalau dititip ke sekolah di desa tetangga juga jauh,” kata Anita.
Situasi ini turut dibenarkan Lisna Patibae, guru SD Patmos Laingpatehi yang ikut direlokasi bersama warga Pulau Ruang.
Ia menjelaskan, proses belajar anak-anak terganggu sejak masa pengungsian hingga kini menetap di hunian tetap.
Selama di pengungsian di Kota Bitung, siswa sempat dititipkan di sekolah terdekat. Namun setelah pindah ke Modisi, keterbatasan akses menjadi kendala utama.
“Memang ada beberapa orang tua yang punya motor, tapi banyak anak yang merasa jaraknya jauh,” ujar Lisna.
Untuk sementara, kegiatan belajar dilakukan dari rumah dengan sistem pemberian tugas. Namun keterbatasan bahan ajar menjadi persoalan lain.
“Sampai sekarang kami hanya pakai handphone untuk download bahan ajar. Berbeda waktu masih di Pulau Ruang, semua buku ada,” tambahnya.
Masalah serupa juga terjadi di tingkat sekolah menengah pertama. Paulina Awumbas, guru SMP Negeri 4 Tagulandang Pulau Ruang, mengatakan proses belajar masih dilakukan secara daring, namun tidak berjalan efektif.
“Kalau SMP kami kirim materi lewat WhatsApp saja. Tapi belajar online tidak sama seperti bertatap muka. Ada materi yang tidak dimengerti anak-anak,” kata Paulina.
Menurutnya, saat ini terdapat sekitar 25 siswa SMP yang tinggal di Huntap Modisi. Meski beberapa siswa sempat mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA), keterbatasan pembelajaran langsung tetap menjadi kendala.
Para guru berharap pemerintah segera membuka kegiatan belajar mengajar secara normal di kawasan hunian tetap.
Selain ruang kelas, kebutuhan mendesak lainnya adalah buku pelajaran dan tambahan tenaga pengajar.
Rencananya, sekolah baru di Huntap Modisi akan mulai beroperasi pada Juli mendatang. Namun para guru menilai waktu tersebut terlalu lama bagi anak-anak yang telah mengalami gangguan pendidikan hampir dua tahun.
“Kalau sampai Juli, jedanya terlalu jauh. Anak-anak harusnya sudah ikut kegiatan belajar mengajar dan ujian kenaikan kelas,” ujar Paulina.

