TENTANGPUAN.com – Relokasi penyintas erupsi Gunung Ruang ke Hunian Tetap (Huntap) di Modisi Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) tidak serta-merta mengakhiri kerentanan, khususnya bagi perempuan dan lansia.
Para penyintas tersebut sebelumnya selama dua tahun tinggal di pengungsian di Kota Bitung. Sebelumnya, mereka harus terpaksa keluar dari kampung halaman di Pulau Ruang Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) karena erupsi gunung Ruang pada April 2024 lalu.
Pendeta Indrawati Kristina yang turut mendampingi warga melihat adanya tekanan berlapis yang dihadapi kelompok rentan.
“Perempuan dan lansia menghadapi tekanan ekonomi sekaligus psikologis. Banyak yang kehilangan pekerjaan, rumah, bahkan anggota keluarga,” ujarnya, Kamis, (12/3/2026).
Kondisi tersebut nyata dirasakan Polce Puasa (81). Di usia senja, ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang jauh dari kampung halamannya.
“Ketika membuka mata, saya sudah jauh dari rumah. Sekarang membuka mata lagi, saya sudah ada di sini,” katanya.
Selain kehilangan ruang hidup, lansia seperti Polce juga menghadapi keterbatasan fisik. Ia kini harus bergantung pada cucunya, sementara untuk bekerja sudah tidak lagi mampu.
Sementara itu, Putri Lante (21) sebagai ibu muda juga merasakan tekanan mental yang berat. Ia mengaku sering diliputi kecemasan, terutama saat memikirkan kebutuhan anaknya.
“Sebagai ibu, saya merasa stres berat,” katanya.
Kerentanan ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal tempat tinggal, tetapi juga tentang kemampuan bertahan secara fisik dan mental di lingkungan baru.

