TENTANGPUAN.com – Minimalist Moms Indonesia sukses menggelar agenda tahunan Temu Perempuan Minimalis pada Minggu (25/1/2026). Bertempat di Sekolah Murid Merdeka, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, kegiatan ini menjadi ruang temu bagi perempuan yang tengah belajar menerapkan gaya hidup minimalis, berkesadaran, dan ramah lingkungan.
Melalui berbagai sesi edukatif dan praktis seperti talkshow, workshop, Pasar Tukar, hingga sustainability bazaar, Temu Perempuan Minimalis mendorong peserta untuk memahami isu keberlanjutan secara aplikatif, khususnya dalam konteks konsumsi dan pengelolaan pakaian.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari perayaan hari jadi komunitas Minimalist Moms Indonesia (MMID) yang tahun ini memasuki usia ke-5. Rangkaian acara telah dimulai sejak akhir Desember 2025 melalui webinar yang membahas pencegahan limbah tekstil dari lemari pakaian. Selain itu, MMID juga menggelar kompetisi MMID Challenge bertema wardrobe decluttering, dengan pengumuman pemenang dilakukan pada puncak acara Temu Perempuan Minimalis.
Founder Minimalist Moms Indonesia, Evi Syahida atau yang akrab disapa Visya, menyampaikan bahwa tema yang diusung tahun ini adalah Wear Wisely, Live Fully.

“Tahun ini, kegiatan Temu Perempuan Minimalis mengusung tema ‘Wear Wisely, Live Fully’, mengajak teman-teman perempuan untuk bijak berpakaian mulai dari sebelum membeli, saat pemakaian hingga pasca pemakaian untuk hidup yang lebih ringan dan utuh,” ungkap Visya saat memberikan sambutan.
MMID menilai limbah tekstil merupakan salah satu jenis limbah yang sulit terurai, dengan tingkat produksi yang tinggi, terutama pada produk-produk yang menyasar segmentasi perempuan. Namun demikian, kontribusi individu dinilai memiliki peran penting dalam menekan dampak tersebut.
Kabar baiknya, upaya pengurangan limbah dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti bijak membeli, merawat pakaian agar lebih awet, hingga mengelola pakaian pasca pemakaian dengan cara yang bertanggung jawab, termasuk menyalurkannya ke lembaga daur ulang atau melakukan upcycling.
Dalam sesi talkshow, Nada Arini membagikan tips perawatan pakaian dengan memaksimalkan penggunaan agar frekuensi pencucian dapat dikurangi. Menurutnya, perawatan yang tepat tidak hanya memperpanjang usia pakaian, tetapi juga mengurangi konsumsi air dan energi.
Sementara itu, Aisyah Winna menekankan pentingnya sikap bijak dalam mendonasikan pakaian. Ia mengingatkan agar donasi tidak dijadikan pembenaran untuk terus membeli pakaian baru.
“Berdonasi pakaian itu perlu dilakukan dengan bijak; tidak dengan niat membuang, tidak dengan mindset ‘beli lagi saja, nanti ada yang nerima bekasnya’,” ujarnya, sembari menegaskan bahwa pencegahan limbah tetap harus dimulai dari keputusan membeli.

Selain mendapatkan wawasan dari para narasumber, peserta juga diajak untuk mempraktikkan langsung konsep keberlanjutan melalui kelas basic repair pakaian dan workshop upcycling kaos bekas menjadi tas. Pada sesi Pasar Tukar, peserta dapat menghibahkan barang layak pakai serta mengadopsi barang yang masih dibutuhkan, sebagai alternatif konsumsi tanpa membeli barang baru.
Kegiatan ini turut diramaikan oleh pelaku UMKM yang mengusung produk dan praktik berkelanjutan dalam sesi sustainability bazaar.
Menutup rangkaian acara, Visya kembali menegaskan komitmen komunitasnya dalam isu lingkungan.
“Upaya mengurangi limbah tekstil yang kita lakukan dari diri sendiri mungkin terkesan sepele tapi berdampak bagi bumi. MMID berkomitmen untuk terus mengedukasi dan bersama-sama mempraktikkan gaya hidup minimalis, berkesadaran dan ramah lingkungan bagi perempuan,” tutupnya.

