TENTANGPUAN.com – Parade Kemanusiaan Sulawesi Utara yang digelar pada Rabu, 10 Desember 2025, tidak hanya menjadi peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia, tetapi juga menandai dimulainya agenda besar Ruang Gerak Bersama, sebuah forum kolektif yang menyatukan berbagai elemen masyarakat sipil di Sulawesi Utara.
Kegiatan ini melibatkan sejumlah organisasi masyarakat sipil, komunitas, organisasi mahasiswa, serta jaringan pembela HAM yang tergabung dalam Ruang Gerak Bersama.
Selain itu, pihak penyelenggara menegaskan pentingnya kehadiran jurnalis dan media untuk memastikan gagasan hak asasi manusia, demokrasi, dan solidaritas warga dapat tersebar luas ke publik.

“Kehadiran rekan-rekan media sangat penting untuk memastikan adanya penyebarluasan gagasan hak asasi manusia dan demokrasi di Sulawesi Utara melalui Parade Kemanusiaan yang kami usung,” ujar Koordinator Ruang Gerak Bersama, Refly Sanggel.
Refly menekankan bahwa momentum ini bukan hanya aksi solidaritas, tetapi langkah awal membangun gerakan terpadu lintas sektor untuk merespons berbagai konflik di Sulut.
Menurutnya, Ruang Gerak Bersama diproyeksikan sebagai ruang temu rakyat yang memperkuat kolaborasi antara kelompok masyarakat dari latar belakang berbeda.
“Pada momen kali ini kita mengawali agenda besar, di mana kita akan bersama-sama dengan sebuah gerakan, ruang gerak bersama, dengan tujuan temu rakyat, yang akan menggandeng seluruh masyarakat,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa konflik dan problem struktural di Sulawesi Utara perlu direspons dalam satu wadah kolektif agar masing-masing kelompok dapat saling memperkuat.
“Konflik di Sulut semuanya kita ramu menjadi gerakan kolektif, di mana petani bisa dibantu nelayan, buruh bisa terlibat ikut mengadvokasi lingkungan hidup,” tambah Refly.
Melalui parade ini, Ruang Gerak Bersama ingin membuka jalan bagi masyarakat sipil—baik yang sudah menjadi korban maupun yang belum—untuk mengambil peran langsung dalam gerakan sosial yang lebih luas.
“Temu rakyat kita awali dengan kegiatan kali ini. Ke depan kita berharap semua masyarakat sipil yang menjadi korban maupun belum menjadi korban bisa sama-sama membangun gerakan ini,” ujarnya.

Parade Kemanusiaan Sulut 2025 terdiri dari rangkaian acara yang dimulai dengan long march dari Simpang Patung Wolter Monginsidi Sario menuju Jalan Pierre Tendean, kemudian ke Jalan Boulevard II, dan berakhir di Daseng Karangria Tuminting pada pukul 10.00–15.00 WITA.
Kegiatan dilanjutkan dengan konferensi pers di lokasi yang sama mulai pukul 15.00 hingga selesai.
Di akhir kegiatan, Refly mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat.
“Hari ini saya sebagai ketua koordinator parade kemanusiaan mengucapkan terima kasih dan apresiasi sebesar-besarnya kepada panitia dan seluruh warga yang sudah sama-sama melakukan long march hari ini. Semoga ke depan kita lebih erat lagi dalam kegiatan kolektif seperti ini,” tutupnya.
Parade Kemanusiaan Sulut tahun ini menjadi titik penting bertemunya berbagai kekuatan masyarakat sipil yang berkomitmen memperjuangkan ruang hidup yang lebih adil, setara, dan bebas dari kekerasan struktural.

