Menulis dengan Empati: Mengapa Judul Berita Harus Berperspektif Gender

Ilustrasi (Grafis: Non).

TENTANGPUAN.com – Dalam dunia jurnalisme, judul berita adalah pintu pertama yang mengetuk perhatian publik. Ia menjadi cermin nilai, sikap, dan cara pandang media terhadap peristiwa. Namun, sering kali, judul pula yang tanpa sadar menelanjangi bias, terutama terhadap perempuan dan kelompok rentan.

Karena itu, menulis dengan empati dan pendekatan kesetaraan gender bukan sekadar pilihan etis, melainkan kebutuhan mendasar bagi media yang ingin benar-benar berfungsi sebagai ruang publik yang adil.

Kata yang Menyembuhkan, Bukan Menyudutkan

Bahasa dalam berita bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga alat kekuasaan. Kata bisa menyembuhkan, tetapi juga bisa melukai. Dalam banyak kasus kekerasan berbasis gender atau eksploitasi seksual, perempuan dan anak seringkali justru menjadi pusat sorotan dengan cara yang menyudutkan.

Misalnya, penggunaan frasa seperti “Gadis MiChat” menempatkan perempuan sebagai objek utama, padahal mereka adalah korban.

Sementara pelaku atau pihak yang mengeksploitasi kerap luput dari sorotan utama. Ketika media memilih diksi semacam itu, ia bukan hanya memberitakan, tetapi turut memperkuat budaya menyalahkan korban (victim blaming) dan melanggengkan ketimpangan gender.

Menulis dengan empati berarti menempatkan kemanusiaan di atas sensasi. Ia menuntut jurnalis untuk bertanya sebelum menulis: “Apakah kata-kata ini melindungi korban, atau justru melukai mereka?”

Kesetaraan Gender dalam Jurnalisme: Bukan Isu, Tapi Prinsip

Pendekatan kesetaraan gender dalam penulisan berita bukan tentang membuat perempuan “terlihat baik”, tetapi tentang menempatkan setiap orang secara adil dan proporsional dalam bingkai sosial.

Dalam Pedoman Pemberitaan Ramah Anak dan Perempuan yang diterbitkan Dewan Pers, disebutkan bahwa jurnalis wajib menghindari pelabelan negatif dan memastikan korban tidak terekspos identitasnya. Prinsip ini tidak hanya berlaku pada isi berita, tetapi juga harus hadir sejak di judul, bagian yang paling banyak dikonsumsi publik.

Judul yang bias bisa menyesatkan pembaca, bahkan sebelum mereka membaca isi berita. Sebaliknya, judul yang adil dapat menjadi bentuk kecil dari perlawanan terhadap budaya patriarki yang masih kuat dalam ruang media.

Dampak Nyata dari Sebuah Judul

Kita mungkin sering menganggap judul hanyalah “pemanis” atau “pancingan”. Padahal, dalam praktiknya, banyak orang hanya membaca judul tanpa melanjutkan ke isi berita. Artinya, persepsi publik terhadap suatu peristiwa sering terbentuk hanya dari beberapa kata di baris teratas.

Bayangkan jika korban kekerasan seksual membaca berita tentang dirinya dengan judul yang mengobjektifikasi.

Ia tidak hanya merasa disalahkan, tetapi juga kehilangan ruang aman di hadapan publik. Lebih jauh lagi, masyarakat yang membaca pun bisa terdorong untuk menghakimi, bukan memahami.

Karena itu, judul berita memiliki kekuatan moral. Ia dapat memperkuat stigma atau menghancurkannya, menormalkan kekerasan atau menantangnya.

Menulis dengan Nurani, Bukan Sekadar Naluri Berita

Empati dalam jurnalisme bukan berarti kehilangan ketajaman, melainkan menambah kedalaman. Ia menuntut keberanian untuk tidak mengejar sensasi, tetapi makna.

Menulis dengan kesetaraan gender berarti menyadari bahwa berita bukan hanya produk informasi, tetapi juga ruang nilai, tempat di mana publik belajar bagaimana memperlakukan manusia lain.

Di tengah derasnya arus digital dan kompetisi kecepatan, tugas jurnalis adalah memastikan kemanusiaan tetap utuh di setiap kata. Karena berita sejatinya bukan hanya tentang apa yang terjadi, tetapi bagaimana kita memahami yang terjadi.

Menulis dengan empati dan perspektif kesetaraan gender adalah cara sederhana namun kuat untuk berkontribusi pada dunia yang lebih adil. Ia mengubah cara kita bercerita, dari sekadar melaporkan fakta, menjadi menegakkan martabat manusia.

Setiap jurnalis memegang pena yang bisa mengubah cara masyarakat memandang perempuan, anak, dan kelompok rentan. Dan perubahan itu sering kali dimulai dari hal kecil, dari cara kita menulis satu kalimat judul.